The Epoch Times

Pada 24 Oktober 2020, The New York Times menerbitkan sebuah artikel oleh  kolumnis teknologi Kevin Roose mengenai The Epoch Times. Artikel itu diterbitkan pada halaman depan edisi hari Minggu The New York Times keesokan harinya.

Kevin Roose mengerjakan artikel mengenai The Epoch Times ini setidaknya selama delapan bulan. Namun, hasilnya adalah mengecewakan. Bukannya berupaya memberi sebuah penggambaran yang adil terhadap The Epoch Times sebagai outlet media yang sedang naik daun, Kevin Roose mempergunakan kesalahan faktual, sindiran, dan representasi yang keliru, dalam sebuah upaya untuk memfitnah outlet media pesaing.

Selanjutnya komentar media sosial sebelumnya dibuat oleh Kevin Roose dan kolumnis media The New York Times Ben Smith (yang berkontribusi pada artikel Kevin Roose) mengenai The Epoch Times, di mana mereka tampaknya membahas upaya kolektif melawan The Epoch Times, menimbulkan pertanyaan apa maksud di balik artikel ini (lihat bagian “Bias Pribadi” di bawah ini).

Inti artikel ini adalah ketidakpuasan The New Yorks Times yang nyata dengan fakta tersebut bahwa The Epoch Times telah menjadi — dengan kata-kata The New York Times sendiri— ”salah satu penerbit digital paling kuat di negara ini.” 

Artikel tersebut dapat dengan mudah ditulis sebagai kisah sukses sekelompok orang Tionghoa Amerika yang menghargai Hak Amandemen Pertama mereka dan sukses dalam mengembang sebuah outlet media independen dengan pesat. (Untuk diketahui, Amendemen Pertama dalam konstitusi AS melarang Kongres membuat undang-undang yang isinya membentuk suatu agama, melarang praktik agama secara bebas, serta menghambat kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan untuk berkumpul secara damai, dan kebebasan untuk menyampaikan petisi kepada pemerintah terkait dengan ganti rugi atas keluhan mereka).

Sebaliknya, Kevin Roose mengandalkan kata-kata seperti “rahasia” dan berupaya mengikat kita pada sebuah outlet yang tidak terkait, untuk mempertanyakan kualitas jurnalisme kami yang   memenangkan penghargaan.

Kevin Roose mempermasalahkan posisi kritis kami terhadap Partai Komunis Tiongkok dan pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok. 

Kevin Roose meremehkan laporan pelanggaran yang terjadi, mengklaim bahwa mereka “membelok pernyataan secara berlebih-lebihan.” Pembelaan dan penenangan untuk Partai Komunis Tiongkok yang tidak biasa ini secara moral patut dipertanyakan. 

Selama bertahun-tahun, The New Yorks Times telah mengupayakan akses yang lebih luas ke pasar Tiongkok dan menerima jutaan pendapatan iklan dari entitas media milik negara Tiongkok.

Kesalahan Faktual dan Representasi yang Keliru

Kevin Roose memasukkan sejumlah kesalahan faktual yang mencolok, meskipun demikian diinformasikan mengenai ketidakakuratan mereka sebelum diterbitkan.

Misalnya, Kevin Roose menulis bahwa “mungkin eksperimen yang paling berani adalah sebuah situs politik sayap-kanan baru bernama America Daily.”

The Epoch Times tidak memiliki hubungan apa pun dengan organisasi media ini, seperti ditunjukkan kepada Kevin Roose dalam menanggapi pertanyaan Kevin Roose melalui email.

Kevin Roose sendiri tidak memberikan bukti untuk mendukung klaim ini, melainkan menunjuk kepada mantan karyawan The Epoch Times yang bekerja untuk America Daily. Namun, keterlibatan ini, muncul setelah karyawan ini meninggalkan The Epoch Times, dan tidak ada hubungannya dengan The Epoch Times.

Tidak masuk akal untuk meminta pertanggungjawaban The Epoch Times atas tindakan seorang mantan karyawan yang bekerja di perusahaan media yang berbeda. Pada waktu bersamaan, hal ini menunjukkan sejauh mana Kevin Roose berusaha membuat The Epoch Times terlihat buruk dengan mengaitkan The Epoch Times dengan entitas yang tidak terkait.

Kevin Roose dalam artikelnya juga menggunakan sindiran untuk menyiratkan bahwa pertumbuhan The Epoch Times di Facebook entah bagaimana adalah hasil dari “perternakan klik” (di mana sekelompok besar pekerja bergaji rendah disewa untuk mengklik tautan iklan berbayar untuk penipu klik). 

Namun, Kevin Roose sendiri tidak memberikan bukti untuk klaim tersebut. Seperti yang dinyatakan Kevin Roose dalam sebuah email dalam menanggapi pertanyaannya, The Epoch Times “memanfaatkan alat promosi Facebook sendiri untuk mendapatkan lebih banyak pengikut organik, bukan melalui ‘bot’ atau ‘akun palsu” seperti yang salah disarankan Kevin Roose.

Kevin Roose juga menulis dalam artikelnya bahwa The Epoch Times telah “menjadi salah satu  promotor paling terkemuka dari ‘Spygate,’ teori konspirasi yang tidak berdasar melibatkan klaim bahwa pejabat pemerintahan Obama secara ilegal memata-matai kampanye Donald Trump pada tahun 2016.”

Ini adalah representasi keliru yang disengaja dari laporan The Epoch Times mengenai topik penyelidikan Crossfire Hurricane FBI pada tahun 2016. The Epoch Times memang menjadi pemimpin dalam pelaporannya mengenai topik tersebut, yang telah dikutip oleh media lain — termasuk The New York Times. Selanjutnya topik tersebut masih dalam penyelidikan oleh pengacara Amerika Serikat John Durham.

Kevin Roose juga mengklaim bahwa “publikasi dan acara terkait dengan The Epoch Times telah mempromosikan teori konspirasi QAnon dan menyebarkan klaim yang menyimpang mengenai penipuan pemilih dan gerakan Black Lives Matter.” Perhatikan bagaimana Kevin Roose menulis “publikasi dan pertunjukan yang terkait dengan” The Epoch Times. Tidak dapat menyerang

The Epoch Times secara langsung, Kevin Roose mengutip entitas “terkait” ini bahkan tanpa mengatakan apa yang dimaksudnya.

Pada kenyataannya, The Epoch Times tidak pernah “mempromosikan teori konspirasi QAnon” dan juga tidak menerbitkan informasi yang tidak akurat mengenai “penipuan pemilih dan gerakan Black Lives Matter.”

Mengutip Pernyataan secara Selektif

Kevin Roose dalam artikelnya secara eksklusif mengutip mantan karyawan yang tidak puas untuk menyerang The Epoch Times, mengabaikan komentar positif yang dibuat oleh subjek wawancara. Misalnya, Kevin Roose mewawancarai pembangkang Tiongkok Guo Wengui untuk artikelnya, tetapi komentarnya tidak disertakan. Dalam sebuah video YouTube, kata Guo Wengui memberitahu Kevin Roose (yang, kata Guo Wengui, menyatakan artikel itu hanya mengenai Guo Wengui untuk memberinya pertanyaan mengenai The Epoch Times selama wawancara) bahwa The Epoch Times adalah “luar biasa” dan “brilian.”

Guo Wengui juga memuji The Epoch Times atas pemberitaan The Epoch Times yang tidak kenal takut di Hong Kong dalam menghadapi intimidasi Partai Komunis Tiongkok.

“Saya sangat menghormati The Epoch Times. The Epoch Times berdiri di jalanan Hong Kong dengan kamera mereka, langsung menunjuk ke Partai Komunis Tiongkok, melakukan streaming langsung. Apakah menurut anda hal tersebut adalah mudah?” Guo Wengui berkata ia memberitahu Kevin Roose.

Guo Wengui juga menanyai Kevin Roose: “Mengapa anda tidak mengejar Partai Komunis Tiongkok? …Media arus utama macam apa anda ini?”

Tidak satu pun komentar Guo Wengui berhasil masuk ke artikel Kevin Roose. Apakah itu adalah lazim untuk The New York Times yang hanya menyertakan kutipan dari orang-orang yang berbicara negatif mengenai topik yang mereka bahas? Bagaimana ini bukan contoh bias yang parah?

Bias Pribadi

Postingan media sosial oleh Kevin Roose menunjukkan bahwa ia telah mengambil keputusan mengenai The Epoch Times sebelum ia melaporkan mengenai The Epoch Times. Dalam rangkaian yang kini dihapus dari tweet yang diterbitkan pada bulan November 2019, Kevin Roose mengejek The Epoch Times dan posisi kritis The Epoch Times terhadap komunisme.

Dalam rangkaian tweet terpisah pada bulan Desember 2019, Kevin Roose dan tiga wartawan lainnya menyatakan mereka seharusnya menerima “hadiah” dari Facebook untuk membuat Facebook melarang iklan The Epoch Times.

Kevin Roose ikut bersenang-senang dengan berkomentar, “Tuhan, kita semua pasti punya begitu banyak rumah liburan sekarang.”

Meskipun nada tweetnya riang, tiga dari empat jurnalis — Kevin Roose, Smith, dan reporter NBC News Ben Collins — telah terlibat dalam serangan umum di The Epoch Times. Smith juga berkontribusi untuk artikel Kevin Roose.

Kevin Roose menggunakan kata “kami” dalam komentar ini, dan fakta bahwa jurnalis yang berasal outlet yang bersaing akan merayakan bersama kemalangan yang diderita oleh The Epoch Times, menimbulkan pertanyaan ini: Apakah mereka terlibat dalam koordinasi dan kampanye terencana melawan The Epoch Times? Selain itu, di mana posisi editor The New York Times terhadap ungkapan yang bias ini dan kemungkinan kolaborasi?

Meremehkan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Tiongkok

Dalam artikelnya, Kevin Roose berusaha meremehkan penganiayaan yang sedang berlangsung terhadap disiplin spiritual Falun Gong di Tiongkok. Penganiayaan ini telah didokumentasikan secara ekstensif oleh kelompok hak asasi manusia serta badan pemerintah seperti Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Bukannya mengutip semua informasi ini yang tersedia untuk umum, Kevin Roose berusaha untuk mengurangi penyalahgunaan hak asasi manusia ini.

Kevin Roose juga mengabaikan banyak bukti yang menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok membunuh tahanan hati nurani, terutama praktisi Falun Gong, untuk mendapatkan organ-organnya, dan sebagai gantinya menggambarkannya sebagai “tuduhan.”

Hal ini secara langsung melibatkan Partai Komunis Tiongkok, yang selama bertahun-tahun telah bekerja untuk mempengaruhi outlet media Amerika Serikat.

Artikel seperti ini sangat berharga bagi Partai Komunis Tiongkok, karena Partai Komunis Tiongkok dapat menggunakan artikel seperti ini untuk upaya propaganda internal untuk membenarkan kampanye penganiayaan yang sedang berlangsung. The New York Times sendiri menerjemahkan artikel sebelumnya mengenai The Epoch Times oleh Kevin Roose ke dalam bahasa Mandarin.

Share

Video Popular