Meiling Lee

Sejak awal pandemi virus Partai Komunis Tiongkok atau coronavirus Wuhan, pembuat kebijakan di Amerika Serikat sangat bergantung pada kasus positif harian – yang dikonfirmasi oleh tes RT-PCR- dalam mengambil keputusan kebijakannya bagi negara-negara bagian terkait dibuka kembali sepenuhnya.

Dengan angka infeksi menjadi kriteria utama dalam menentukan kapan negara-negara bagian  dapat dibuka kembali, adalah sangat penting bagi pusat pengujian untuk tidak hanya  melaporkan hasil uji PCR yang positif, tetapi juga Cycle Threshold (CT) Value yang mengukur muatan virus.

Cycle Threshold (CT) Value adalah jumlah amplifikasi yang dibutuhkan  mesin uji untuk mendeteksi materi genetik virus, memberikan informasi yang berharga mengenai apakah seseorang menderita infeksi virus atau berisiko menderita gejala virus Komunis Tiongkok atau COVID-19 yang parah.

“Semakin rendah jumlah siklusnya, semakin banyak virus yang ada,” kata Dr. William W. Li, seorang dokter, ilmuwan, dan penulis kepada grup media The Epoch Times.

Dr. William W. Li,  terkenal sebagai penulis secara internasional dengan  buku terlaris New York Times berjudul, “Eat to Beat Disease: The New Science of How Your Body Can Heal Itself” atau “Makan untuk Membasmi Penyakit: Ilmu Pengetahuan Baru Mengenai Bagaimana Tubuh Anda Dapat Menyembuhkan Sendiri.” 

Menurut Dr. William W. Li, semakin tinggi jumlah siklus yang diperlukan untuk mendeteksi virus, maka lebih sedikit virus yang ada.”

BACA JUGA :  Pakar : Gunakan Nama ‘Virus Komunis Tiongkok’ untuk Menuntut Tanggung Jawab Rezim Komunis Tiongkok atas Krisis Global

Mengetahui Cycle Threshold (CT) test PCR memungkinkan pemerintah dan pejabat kesehatan masyarakat  untuk mengukur dengan lebih baik apakah ada penyebaran virus yang serius terjadi di suatu daerah dan mengambil tindakan yang sesuai, daripada hanya beralih ke karantina saja.

Sementara pendukung lockdown mengatakan bahwa lockdown berperan dalam memperlambat penyebaran virus Komunis Tiongkok, banyak lainnya, yang mencakup para ahli terkemuka, memperingatkan menentang tindakan ekstrim tersebut.

Dr. David Nabarro, Utusan Khusus Organisasi Kesehatan Dunia untuk COVID-19, dalam wawancara dengan The Spectator pada awal bulan ini, mendesak para pemimpin dunia untuk tidak menggunakan Lokcdown sebagai sarana utama  pengendalian virus ini.

“Satu-satunya saat kami yakin bahwa Lockdown dapat dibenarkan adalah untuk memberi anda waktu mengatur ulang, menyusun kembali, menyeimbangkan kembali sumber daya anda, melindungi petugas kesehatan anda yang kelelahan, tetapi pada umumnya, kami lebih suka tidak melakukan Lockdown,” kata Dr. David Nabarro.

Lebih dari 40.000 praktisi medis dan ilmuwan dari seluruh dunia yang setuju dengan Dr. David Nabarro telah menandatangani Deklarasi Great Barrington. Deklarasi menyatakan bahwa kebijakan lockdown saat ini menghasilkan efek kehancuran pada kesehatan masyarakat jangka pendek dan jangka panjang. 

Pekerja lab EqualTox memproses tes COVID-19 di Tustin, California, pada 3 September 2020. (John Fredricks / The Epoch Times)

Hasil mencakup angka vaksinasi anak yang lebih rendah, hasil penyakit kardiovaskular yang memburuk, penapisan kanker yang lebih sedikit dan kesehatan mental yang memburuk,  mengakibatkan kematian yang lebih besar di tahun-tahun mendatang, di mana kelas pekerja dan anggota masyarakat yang lebih muda memikul beban terberat.

Deklarasi Great Barrington juga mendapat dukungan lebih dari 500.000 warga yang prihatin dengan berbagai efek negatif dari lockdown.

Kekhawatiran akan nama palsu yang menandatangani Deklarasi Great Barrington sedang ditangani oleh para penulis deklarasi tersebut. Mereka menulis di situs web, “Tanda tangan palsu adalah kurang dari 1 persen dari total tanda tangan, dan sebagian besar telah dihapus dari pelacak hitungan.”

Pejabat Gedung Putih mengatakan kepada wartawan dalam panggilan konferensi pada 12 Oktober bahwa kebijakan presiden yang  berpusat pada melindungi orang lanjut usia yang berisiko tinggi dan rentan, membuka sekolah, dan memulihkan masyarakat  selaras dengan apa yang dikatakan ahli epidemiologi dan ahli kebijakan kesehatan yang top yaitu, karantina tidak menghilangkan virus; Lockdown adalah sangat berbahaya.

Tidak Ada  Cycle Threshold (CT) Value Standar

Tidak ada  Cycle Threshold (CT) Value memintas standar universal untuk uji PCR yang digunakan di seluruh negeri guna diagnosis positif, karena pemerintah federal tidak membuat keputusan itu.

Juru bicara Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) menulis dalam email ke grup media The Epoch Times menyebutkan bahwa, nilai ambang siklus memintas berbagai pengujian berbasis PCR ditentukan sebagai bagian dari setiap pengujian  perjanjian penggunaan darurat FDA (EUAS)  adalah spesifik untuk setiap pengujian. 

Secara umum, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak mengembangkan pedoman pemintasan nilai ambang siklus seperti biasanya bawaan untuk pengujian (beberapa di antaranya kemungkinan merupakan hak milik). Panduan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit adalah di sekitar pengujian asli yang dikembangkan lab kami. 

Cycle Threshold (CT) Value untuk uji PCR Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit adalah 40 siklus, sebuah nilai yang  banyak ahli medis percayai mengembalikan hasil positif palsu, seperti serpihan sebuah virus yang terbunuh oleh mungkin diambil.

Cycle Threshold (CT) Value untuk banyak produsen pengujian PCR dievaluasi oleh Yayasan untuk Diagnostik Baru yang Inovatif secara independen terhadap berbagai uji PCR ditetapkan sekitar 40 siklus untuk sebuah sampel positif.

Dalam dokumen  dari Laboratorium Kesehatan dan Lingkungan Hidup Kansas, nilai ambang batas siklus untuk uji PCR yang digunakan di negara bagian itu diturunkan menjadi 42 siklus.

Soal Cycle Threshold (CT) Value tinggi, Kristi Zears, direktur komunikasi di Departemen Kesehatan dan Lingkungan Hidup Kansas, menyatakan bahwa nilai ambang siklus ditentukan oleh pabrikan dari setiap pengujian untuk memaksimalkan sensitivitas dari masing-masing pengujian. 

“Kami telah menggunakan dan terus memiliki beberapa sistem yang mungkin digunakan batas waktu yang berbeda, tetapi semuanya telah divalidasi untuk menentukan ada atau tidak adanya virus,” kata Kristi Zears.

Apa Cycle Threshold (CT) Value harus bervariasi dalam diskusi di antara komunitas ilmiah, tetapi umumnya berkisar antara 25 dan 30 dengan kesepakatan bahwa pasien tidak dapat tertular di atas angka-angka ini.

Dua penelitian sebelumnya yang berhasil membiakkan virus Partai Komunis Tiongkok dari positif sampel, menemukan hubungan antara kemungkinan virus dapat hidup dalam kultur sel dan siklus nilai ambang uji PRC. 

Satu penelitian terhadap 90 sampel virus Komunis Tiongkok yang positif, menunjukkan bahwa tidak ada kultur virus yang positif dengan nilai batas ambang siklus yang lebih besar dari 24 atau STT [symptom onset to test atau onset gejala untuk diuji] lebih besar dari 8 hari. 

Kemungkinan kultur positif menurun 32% untuk masing-masing peningkatan unit di nilai batas ambang siklus.”

Studi kultur virus lain terhadap 183 sampel positif dari 155 pasien dari Institut Rumah Sakit Universitas Infeksi Méditerranée di Marseille, Prancis, melaporkan bahwa pasien dengan nilai ambang 34 atau lebih tidak mengeluarkan partikel virus yang menular.

Penelitian itu juga menunjukkan penyakit menular lebih besar dengan nilai ambang siklus 13-17, sedangkan pada nilai ambang siklus 33, angka kultur positif hanya 12 persen.

Dalam studi terbaru yang diterbitkan di Clinical Infectious Diseases, peneliti memeriksa 3.790 sampel virus Komunis Tiongkok positif dengan nilai ambang siklus untuk menemukan apakah ada yang dapat dikultur secara in vitro. Peneliti menemukan bahwa untuk sampel dengan nilai ambang siklus 25 atau lebih rendah, sekitar 70 persen dapat dikultur, artinya bahwa muatan virus yang lebih tinggi berkorelasi dengan virus yang lebih menular.

Sensitivitas Uji PCR Menghasilkan Positif Palsu

Uji PCR dikenal karena kepekaannya untuk mendeteksi partikel virus terkecil, terlepas dari apakah itu virus yang hidup atau tidak, dan memperkuat kepekaannya jutaan kali, yang kemudian dapat menyebabkan overdiagnosis virus Komunis Tiongkok.

Dalam panduan terbaru untuk petugas kesehatan, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS mengatakan bahwa data menunjukkan bahwa jika orang-orang yang pulih dari virus Komunis Tiongkok diuji ulang dalam 3 bulan setelah infeksi awal, mereka mungkin terus mendapatkan hasil uji yang positif, meskipun sebenarnya tidak menyebarkan virus.

Christy Risinger, seorang dokter Penyakit Dalam di Texas, berkata dalam video mengenai pengujian virus Komunis Tiongkok, “PCR, seperti yang saya sebutkan, mencari fragmen RNA, jadi ini adalah sangat sensitif, tetapi mungkin terlalu sensitif untuk virus Komunis Tiongkok.  

“Kami tahu bahwa setelah sekitar satu minggu terinfeksi SARS-CoV-2, orang-orang tidak lagi menular ke orang lain, tetapi mereka masih akan positif dengan  pengujian PCR karena dalam tubuh mereka masih memiliki sedikit virus,” kata Christy Risinger. 

SARS-CoV-2 adalah nama lain dari virus Partai Komunis Tiongkok yang menyebabkan COVID-19.

Menurut laporan kasus, seorang pasien terus diuji positif pada tes PCR selama 62 hari setelah  onset  gejala, meskipun virus tidak dapat diisolasi setelah hari ke-18.

Dalam studi kasus yang berbeda, seorang perawat terdaftar dinyatakan positif COVID-19 selama 29 hari, sementara ia tidak menunjukkan gejala selama 23 hari setelah onset gejala.

Perawat itu hanya boleh kembali bekerja setelah ia dinyatakan tidak menular sejak uji PCR terakhirnya memiliki  Cycle Threshold (CT) Value  38.  (vv)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular