Sidang Pleno Kelima Komite Sentral ke-19 Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru saja ditutup, konon membahas apa yang disebut tujuan jangka panjang untuk tahun 2035. Beberapa ahli mengatakan bahwa sidang pleno ini adalah sidang bagi Xi Jinping untuk mengkonsolidasikan kekuasaan, dan menyampaikan pesan tersembunyi mengenai dirinya ingin terus mengatur jalannya politik komunis Tiongkok dari balik tirai, alias memegang kekuasaan hingga tahun 2049 (Xi berusia 96 tahun). Namun, seorang staf pembantu Xi Jinping pernah mengungkapkan bahwa rezim komunis Tiongkok tahu betul bahwa mereka sedang sekarat

oleh Li Yun

Sidang Pleno Kelima Komite Sentral ke-19 Partai Komunis Tiongkok berlangsung di Beijing dari 26 – 29 Oktober. Dibandingkan dengan sidang pleno kelima sebelumnya yang hanya berfokus pada pembahasan mengenai rencana pembangunan 5 tahun yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dan sosial nasional. Kali ini komunis Tiongkok pada akhir bulan Juli tahun ini telah menetapkan agenda penting tentang proposal untuk tujuan jangka panjang tahun 2035 yang dibawa ke sidang pleno tahun ini.

Istilah proposal untuk tujuan jangka panjang tahun 2035 berasal dari laporan Kongres Nasional PKT ke-19. Pada waktu itu, laporan dibuat berdasarkan rekomendasi Kongres Nasional PKT ke-16, 17, dan 18 yang menetapkan tahun 2020 sebagai ‘Tahun penentu keberhasilan dalam membangun masyarakat yang makmur secara menyeluruh’.

Kongres Nasional PKT telah menetapkan tahun 2020 hingga 2035 sebagai ‘periode yang pada dasarnya telah mewujudkan modernisasi sosialisme’. Sedangkan target yang harus dicapai dari tahun 2035 hingga pertengahan abad ke-21 adalah menjadi negara sosialis modern yang makmur, kuat, demokratis, beradab, harmonis dan indah.

Pada 29 Oktober, Song Yongyi dari California State University mengatakan kepada VOA bahwa sidang pleno kelima ini selain merumuskan arah pembangunan dan perencanaan ekonomi komunis Tiongkok, aspek penting lainnya yang juga perlu mendapat perhatian adalah tentang ‘Peraturan Kerja Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok’ yang sudah dikeluarkan sebelumnya.

Ia mengatakan bahwa peraturan ini tak lain adalah untuk memberitahu anggota Komite Sentral di bawah Xi Jinping, terutama anggota Politbiro untuk menjaga otoritas absolut Xi Jinping dan tidak menentangnya. Pasalnya, Sidang Pleno Komite Sentral PKT kerap melakukan “kudeta”.

Penulis masalah politik Wu Zuolai percaya bahwa tujuan lain Xi Jinping di Sidang Pleno Kelima adalah menyusun strategi demi pemerintahan jangka panjangnya.

Wu Zuolai mengatakan : “Tujuan besar Xi Jinping satunya adalah tahun 2035 dan yang lainnya adalah tahun 2049. Pesan apa yang tersembunyi di sana ? Pesan yang tersembunyi adalah bahwa ia akan berkuasa hingga tahun 2035, secara langsung mengendalikan rezim hingga tahun 2035, dan kemudian dia berkehendak untuk terus mengatur jalannya politik komunis Tiongkok dari balik tirai hingga tahun 2049. Itulah target besar yang sedang disusun dan yang ingin dicapainya”.

Nikkei Asian Review sebelumnya ada sebuah artikel yang menyebutkan bahwa, Xi Jinping ingin berkuasa hingga tahun 2035, meskipun saat itu ia akan berusia 82 tahun, sama seperti usia Mao Zedong yang memerintah Tiongkok ketika meninggal dunia. Xi ingin mencoba untuk menandingi Mao, sebagai orang kedua yang terus berkuasa hingga ajal menjemput.

Artikel menyebutkan bahwa rencana ultra panjang 2035 adalah inti dari politik Xi Jinping. Namun, di dunia yang masa depannya semakin sulit untuk diprediksi, terutama ketika virus komunis Tiongkok (COVID-19) sedang mengamuk, melihat prospek 15 tahun ke depan tidaklah mudah. Ini sama saja dengan sekaligus menyusun 3 Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Jelas motivasi di baliknya tidak sulit ditebak.

Analisis ‘Deutsche Welle’ menggambarkan bahwa Xi Jinping khawatir dengan ketidakpuasan internal dan kekuatan anti-Xi yang memanfaatkan lingkungan eksternal yang memburuk untuk mengaduk-aduk atau membuat gelombang resiko yang merugikan pemerintahannya. Bagi Xi, “sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah musuh”. Jika kontrol politik sedikit dilonggarkan, maka orang-orang itu kemungkinan besar akan melakukan hal-hal yang merugikan dirinya atau bahkan menggoyahkan keamanan rezim. Badai politik dapat terjadi sewaktu-waktu, perlu terus berwaspada.

Banyak pakar urusan Tiongkok percaya bahwa pemerintahan Xi Jinping sedang mempercepat perubahan Tiongkok, dan PKT yang sedang menghadapi himpitan permasalahan dalam dan luar dapat saja membuatnya runtuh secara tiba-tiba. Sedangkan Xi Jinping masih enggan untuk mengumumkan penggantinya karena takut harus menghadapi likuidasi setelah menanggalkan kekuasaan. Tampaknya, Xi Jinping paling berpotensi menjadi sekretaris jenderal terakhir Partai Komunis Tiongkok.

Komentator politik Wang Youqun dalam komentarnya menyebutkan bahwa PKT sedang berada dalam krisis terbesar sepanjang sejarahnya. Wabah besar yang meletus pada tahun 2020 akan terkait dengan berbagai peristiwa besar. Rezim PKT berada di ambang kehancuran total.

Sebelum virus komunis Tiongkok menyebar, Lin Wei, seorang pakar urusan Tiongkok – AS pada bulan Desember tahun lalu pernah mengatakan kepada media ‘Epoch Times’ berbahasa Inggris : Pemerintah PKT tahu betul bahwa dirinya sedang sekarat.

Lin Wei mengungkapkan bahwa seorang staf pembantu yang dekat dengan Xi Jinping pernah secara terus terang mengatakan kepadanya : “Kita sudah kehabisan jalan. Semua orang tahu bahwa sistem ini sudah tidak dapat diteruskan dan kita berada di jalan buntu. Kita tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan selanjutnya, karena ranjau berada di mana-mana, dan hancur lebur begitu kita salah melangkah”.

Lin Wei mengomentari situasi komunis Tiongkok saat ini dengan mengatakan : “PKT sedang memasuki periode yang mirip dengan situasi disintegrasi nya Uni Soviet. Ia sudah menyampaikan saran agar Amerika Serikat mempertimbangkan bagaimana menangani masalah runtuhnya PKT, terjadinya penyerahan berbagai kekuatan yang ada dalam PKT dan transformasi sistem politiknya”. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular