Frank Yue

Saat tahapan pemilihan presiden AS yang berlarut-larut dan tuduhan kecurangan pemilu menyebar di beberapa negara bagian, kontroversi yang sedang berlangsung telah menarik banyak perhatian bagi warga di daratan Tiongkok. Menggunakan perangkat anti sensor  memungkinkan netizen untuk menghindari great firewall di Tiongkok, hingga mereka bisa mengakses informasi tentang kondisi pemilu terkini.

Netizen baru-baru ini menemukan bahwa diskusi online mereka tentang dugaan kecurangan pemilu AS telah disensor.

Seorang pengguna di WeChat, platform media sosial paling populer di daratan Tiongkok, mengatakan dia dilarang mengobrol dalam grup tertentu dan memiliki akses terbatas ke fitur Momen, yang memungkinkan pengguna untuk memposting pembaruan teks, foto, atau video.

Pengguna tersebut yang mana ingin disebutkan dengan identitas anonim, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa aplikasi tersebut memberitahukan kepadanya bahwa postingannya “dicurigai memberikan rumor ganas atau konten tidak sah lainnya”.

Liu Hua, seorang yang selamat dari sistem kamp kerja paksa komunis Tiongkok, mengatakan telah terjadi perdebatan sengit di internet tentang siapa yang mana pada akhirnya akan menjadi pemenang pemilihan presiden.

Akun WeChat miliknya diblokir setelah dia memposting pesan dan artikel tentang kampanye pemilihan kembali Presiden Donald Trump. Mengapa mereka begitu takut? tanya wanita paruh baya itu.

Liu menjelaskan mengapa menurutnya penting untuk memposting informasi tentang pemilu AS. 

“Kami orang daratan Tiongkok sangat merindukan kebebasan dan demokrasi, untuk suara kami sendiri, untuk hak asasi kami sendiri, untuk memilih seseorang yang benar-benar berbagi nilai-nilai kami. Sayangnya, kami tidak memiliki hak tersebut; kami menderita. Hanya meneruskan pesan tersebut yang bisa kami lakukan, ”tambahnya.

Menurut akunnya, Liu ditahan di Kamp Kerja Paksa Wanita Masanjia yang terkenal setelah dia mengungkap korupsi dalam kepemimpinan desa tempat dia berasal. Dia ditahan dari 12 Januari 2010 hingga 18 Oktober 2012.

Kamp, yang terletak di kota Shenyang, di timur laut Provinsi Liaoning, Tiongkok, dikenal dengan kondisinya yang melelahkan dan menyiksa para tahanan, termasuk penganut kelompok spiritual Falun Gong yang dianiaya.

Pengalaman Liu di Masanjia dijadikan film dokumenter oleh Filmmaker Du Bin pada tahun 2013 berjudul “Above the Ghosts’ Heads: The Women of Masanjia Labor Camp.” atau “Di Atas Kepala Hantu: Kamp Buruh Wanita Masanjia”.  Dia disiksa, dilecehkan secara seksual, dan dipaksa bekerja selama berjam-jam.

Seorang mantan pejabat  bermarga Tian mengatakan topik kecurangan pemilu telah menarik banyak perhatian di daratan Tiongkok, di mana tidak ada demokrasi yang sebenarnya. Dia mengatakan banyak pejabat pemerintah “dipilih” melalui prosedur pemungutan suara yang curang,  sebenarnya adalah penunjukan yang ditentukan oleh pemimpin Partai Komunis setempat. (asr)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular