Ella Kietlinska dan Jan Jekielek

Dr. Robert Epstein, seorang psikolog dan peneliti senior di American Institute for Behavioral Research and Technology di California, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan The Epoch Times versi bahasa Inggris, bahwa perusahaan teknologi besar seperti Google dan Facebook memiliki kekuatan besar untuk mengubah pandangan publik dan preferensi pemungutan suara dengan memanipulasi konten halaman yang dilihat pengguna di layar mesin tanpa disadari pengguna. 

Dr. Robert Epstein, psikolog dan peneliti senior di American Institute for Behavioral Research and Technology mengatakan, “Beberapa bulan lalu, saya sempat menghitung bahwa jika semua perusahaan Silicon Valley, dan dua perusahaan paling kuat adalah Google dan Facebook, dimana jika mereka mendorong ke satu arah akan dengan mudah mengalihkan 15 juta suara dalam pemilu Amerika Serikat kali ini, atau dengan kata lain, mereka dapat menentukan siapa presiden berikutnya.”

 Dr. Robert Epstein meluncurkan sebuah program pemantauan berskala besar untuk menentukan konten yang akan ditunjukkan perusahaan teknologi besar kepada publik selama pemilu tahun 2016, 2018, dan sekarang 2020. 

Tim program penelitian ini merekrut 733 pemilih terdaftar, termasuk Partai Republik, Demokrat, dan independen dari tiga negara bagian penting seperti Arizona, Florida, dan Carolina Utara. Kemudian menyediakan perangkat lunak khusus bagi mereka, untuk melacak penelusuran web yang digunakannya.

Dr. Robert Epstein (kanan) di program American Thought Leaders (tangkapan layar)

“Kami menemukan bukti adanya perilaku negatif, dan juga menemukan bahwa beberapa orang mungkin menginginkan bukti yang meyakinkan. Kami menemukan bahwa sepekan menjelang pemilihan pada 26 Oktober 2020, hanya kaum liberal yang diingatkan untuk memberikan suara di beranda Google. Di antara mereka yang mengaku kaum konservatif, tidak ada dari mereka yang melihat peringatan ini di laman web Google,” kata Dr. Robert Epstein. 

Lebih jauh Dr. Robert Epstein menyatakan bahwa beberapa hari sebelum pemilihan pada tengah malam tanggal 29 Oktober, semua personil lapangan  kaum liberal mulai menerima pengingat untuk memberikan suara di beranda Google. Situasi itu berlanjut hingga akhir hari pemilihan pada 3 November. 

Dr. Robert Epstein memandang pengendalian pemilu oleh perusahaan teknologi besar ini telah membuat pemilu kehilangan sifat demokratisnya. 

“Faktanya, jika kita mengizinkan perusahaan seperti Google untuk mengontrol hasil pemilu, maka kita tidak memiliki pemilu yang demokratis, dan tidak memiliki pemilu yang bebas dan adil. Semua ini hanya ilusi,” kata Dr. Robert Epstein.

Menurut Dr. Robert Epstein, di Amerika Serikat, laman web Google dilihat 500 juta kali sehari. 

“Jika Anda menggunakan perintah sistem ini dalam jangka waktu tertentu, maka ia (browser) tidak hanya akan memengaruhi mereka yang memberikan suara pada hari pemilihan, tetapi juga mereka yang mendaftar dan memberikan suara via pos,” ujar Dr. Robert Epstein.

Sementara itu, Senator Amerika Serikat, Ted Cruz mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa raksasa teknologi menimbulkan ancaman serius bagi kebebasan berbicara di Amerika Serikat dan keaslian pemilu Amerika Serikat. Google jauh lebih kuat daripada perusahaan mana pun di planet ini. 

Penemuan Dr. Robert Epstein sangat mengkhawatirkan terkait akan penyalahgunaan kekuasaan Google. Lalu apakah Google sengaja memanipulasi platformnya untuk membantu Joe Biden memenangkan pemilu presiden, Google harus memberikan penjelasan mengapa dan bagaimana Google memanipulasi pengguna untuk mempengaruhi pemilu Amerika Serikat kali ini.  (jon)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular