Apakah bukti kecurangan pemilu benar-benar ada — dan apakah memadai untuk mengubah hasilnya?

oleh James Gorrie

Lebih dari seminggu setelah pemilu AS yang tampaknya mengantarkan klaim kemenangan kepada Demokrat Joe Biden atas Presiden Donald Trump, tuduhan penipuan pemilu dari pemerintahan Donald Trump dan pendukungnya terus berkembang. Setidaknya, Ini adalah cerita yang berkembang. 

Pada saat yang sama, tentu saja, kecaman atas penolakan Donald Trump untuk menyerah pada pemilu juga menumpuk, terutama di media berita arus utama.

Misalnya, The New York Times pada judul utama tanggal 11 November 2020, berbunyi, “Pejabat Pemilu Secara Nasional Tidak Menemukan Adanya Penipuan.” 

Dan, Jonathan Karl dari ABC World News Tonight melaporkan pada hari yang sama mengenai dakwaan penipuan pemilu, “Semua ini tidak akan berhasil.” Masih banyak lagi pernyataan penipuan dan penyangkalan, tentu saja, tetapi yang terpenting, kemenangan Biden belum disertifikasi.

Jadi siapa yang benar?

Pertama-tama, tidak diragukan lagi bahwa “penyimpangan” pemilu terjadi. Luasnya penyimpangan tersebut cukup mengesankan. Mari kita lihat beberapa.

Penyimpangan Pemilu — Mengubah Aturan

Aturan dasar politik adalah saat anda kalah, ubah aturannya. Kenyataannya adalah Partai Demokrat telah mengubah peraturan selama beberapa dekade, dan pemilu tahun ini adalah tidak berbeda.

Untuk pertama kalinya, puluhan juta surat suara yang tidak diminta dikirim melalui pos di seluruh negeri. Banyak surat suara yang dikirim ke orang-orang yang tidak lagi tinggal di alamat tersebut, sudah meninggal dunia, atau tidak pernah tinggal di alamat tersebut sama sekali. 

Semua ini adalah biasa terjadi di tahun 2020, dan matang untuk penyalahgunaan yang menghasilkan banyak suara dari pemilih resmi dan pemungutan suara di banyak negara bagian dari orang yang sama.

Kemudian, tentu saja, tidak ada persyaratan untuk Kartu Identitas pemilih adalah vektor penipuan lain yang memiliki sebuah dampak. Menurut beberapa perkiraan, kurangnya pemeriksaan Kartu Identitas telah terjadi dalam jutaan suara ilegal dalam pemilu sebelumnya.

Ah, tetapi ada lebih banyak perubahan aturan — lebih banyak lagi. Memperpanjang Hari Pemilu ke Hari-Hari Pemilu berarti banyak waktu untuk memanipulasi penghitungan suara. Jadi, ngomong-ngomong, menghentikan penghitungan suara pada malam pemilu, yang juga terjadi di negara bagian yang diperebutkan seperti Pennsylvania.

Lalu ada aktivisme yudisial Pennsylvania mengenai perubahan aturan pemilu di tempat pertama terkait surat suara yang datang terlambat. Hal itu adalah jelas bertentangan dengan Pasal II Konstitusi AS, yang menetapkan bahwa badan legislatif negara bagian, bukan pengadilan negara bagian, yang memutuskan aturan pemungutan suara. Hal itu dapat menjadi masalah bagi surat suara yang datang setelah pemungutan suara ditutup pada tanggal 3 November.

Gangguan Pemilu

Gangguan pemilu pada pemungutan suara dan perangkat lunak penghitungan suara juga diduga terjadi. Ada banyak laporan mengenai petugas pemungutan suara dan pekerja pos yang diperintahkan untuk memberi tanggal mundur pada surat suara menjadi tanggal 3 November, serta surat suara yang dicuri, yang “hilang”, yang dibuang, atau bahkan yang dihancurkan. 

Tetapi dalam pemungutan suara utama Philadelphia, para pekerja dicegah dari kegiatan pemantauan, dengan beberapa  menggunakan teropong, sementara TPS lainnya memblokir pandangan pengawas sama sekali.

Yang lebih menarik adalah dugaan bahwa perangkat lunak seperti Dominion dan alat tabulasi suara lainnya seperti Hammer dan Scorecard telah digunakan di seluruh negeri untuk mengubah suara. 

Salah satu contohnya adalah “kesalahan” dalam program Dominion, yang membalik sebuah daerah di Michigan dari Biden hingga Donald Trump dengan sekitar 5.000 suara. Tetapi menurut berapa ahli, jutaan suara yang diubah dari Donald Trump menjadi Biden adalah  kemungkinan yang nyata.

Pernyataan di bawah sumpah telah ditandatangani oleh beberapa ratus orang yang menegaskan lebih dari 11.000 klaim penipuan pemilih. Namun klaim tersebut tidak banyak dilaporkan atau dianggap serius.

Pengaruh Big Media Terhadap Pemilu Adalah Merajalela

Mungkin tidak mengherankan, mesin media yang luas melintasi jaringan dan televisi kabel, dan saluran cetak dan digital, yang sangat condong ke kiri, memuat pesan yang miring setiap ada kesempatan. Narasi Biden yang ramah dan anti-Donald Trump adalah misinya; kebenaran bukanlah pertimbangan.

Bagaimana lagi menjelaskan sensor nasional dari laptop Hunter Biden?

Menurut New York Post dan mantan rekan bisnis, Joe Biden diduga secara eksplisit terlibat dengan kesepakatan putranya dengan bisnis milik Partai Komunis Tiongkok, yang melibatkan pembayaran jutaan dolar ke keluarga Biden. Ada juga email yang diduga menunjukkan Hunter Biden menjual akses ke ayahnya, Joe Biden, yang menjadi wakil presiden saat itu, serta video dari Hunter Biden yang diduga melakukan aktivitas terlarang.

Namun, fakta tersebut sebagian besar diabaikan oleh Big Media. Dapatkah anda bayangkan liputan itu jika laptop tersebut melibatkan Donald Trump Jr. dan Presiden Donald Trump?

Contoh lain dari pengaruh pemilu yang terbuka adalah mudah ditemukan. Sejarawan pemenang  Pulitzer Prize, Jon Meacham dipecat oleh MSNBC karena sebuah analis politik yang tidak mengungkapkan karyanya dengan kampanye Biden. 

Danny O’Brien, wakil presiden eksekutif di Fox Corp., sebelumnya adalah kepala staf Joe Biden. Bukan kebetulan bahwa Fox News menelpon Arizona untuk Biden hanya dalam 15 menit setelah pemungutan suara ditutup. Analis Fox, Arnon Mishkin, seorang Demokrat terdaftar, memberi kampanye Biden dorongan yang dibutuhkan dengan panggilan Arizona. Pada tulisan ini dicantumkan, suara elektoral Arizona tetap tidak dihitung untuk salah satu kandidat.

Jenis pengaruh pemilih ini dan keberpihakan langsung yang menggambarkan dirinya sebagai berita sekarang menjadi aturan daripada pengecualian. Terlebih lagi, Big Media mengambil kendali dalam memutuskan pemilihan Biden, daripada menunggu hasil pemilu yang disertifikasi oleh negara bagian dan Electoral College.

Narasi tersebut tidak memasukkan sudut pandang hukum dan konstitusional, tetapi pemungutan suara yang sangat mendukung Biden tentu saja berhasil, dan memang demikian. 

Satu-satunya tujuan terlalu melebih-lebihkan data pemungutan suara, menunjukkan Biden dengan memimpin digit-ganda, adalah untuk menekan suara pendukung Donald Trump. Seperti negara panggilan bagi Biden sebelum ia memenangkan mereka, gagasan inflasi angka pemungutan suara adalah untuk menciptakan kesan dukungan “gelombang biru” secara besar-besaran bagi Biden untuk mematahkan partisipasi pemilih.

Peran Besar Sensor Big Tech

Big Tech — ​​Google, Twitter, Facebook, YouTube, dan lainnya — mengacungkan jempol pada skala pemilu secara besar-besaran. Hal itu tidak hanya menekan informasi negatif terhadap Biden, seperti penemuan laptop yang disebutkan di atas, tetapi juga menyensor artikel, pengumuman, dan komentator yang konservatif. Bahkan Presiden Trump disensor oleh Big Tech.

Terlebih lagi, mesin telusur Google menghapus item berita negatif mengenai Biden — banyak yang tidak dapat ditemukan menjelang pemilu. Gagasan segelintir orang yang mengendalikan informasi bangsa yang paling kuat di Bumi seharusnya mengganggu setiap orang Amerika Serikat — tetapi ternyata tidak.

Gelombang Biru…Penipuan?

Akhirnya, setidaknya untuk artikel ini, adalah kenyataan sederhana bahwa tidak ada kata “gelombang biru” untuk menjelaskan kemenangan Biden yang seharusnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Donald Trump menerima rekor jumlah suara untuk calon presiden dan hingga 9 juta lebih banyak dari yang ia dapatkan pada tahun 2016.

Terkait dengan fenomena tersebut adalah fakta yang belum ada hubungannya antara kemenangan Biden dengan kekalahan besar kandidat Demokrat. Kemenangan Biden seharusnya menghasilkan kemenangan besar di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat Amerika Serikat. 

Tetapi ternyata tidak. Demokrat kalah merebut kursi di DPR dan gagal meraih mayoritas kursi di Senat. Seolah-olah ada ratusan ribu — bahkan mungkin jutaan — surat suara yang diisi hanya untuk tiket Biden/ Harris, tanpa suara lain untuk kandidat dari partai politik mana pun, di seluruh Amerika Serikat. Bayangkan itu.

James R. Gorrie adalah penulis “The China Crisis” (Wiley, 2013) dan menulis di blognya, TheBananaRepublican.com. Dia berbasis di California Selatan

Video Rekomendasi :

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular