Epochtimes.com

Untuk pertama kalinya, seluruh acara pada KTT APEC ini dilakukan melalui video confrence. Para pemimpin dari 21 korporasi ekonomi Lingkar Pasifik, termasuk Amerika Serikat dan Tiongkok mengikuti KTT tersebut. Ini adalah penampilan pertama bagi Trump di KTT APEC sejak tahun 2017, juga merupakan penampilan pertamanya dalam konferensi internasional setelah pemilihan presiden AS.

Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih pada 20 November, Trump dalam pidatonya menegaskan bahwa Amerika Serikat akan terus mencapai pemulihan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak menyebarnya epidemi virus komunis Tiongkok (COVID-19 / pneumonia Wuhan). Trump juga terus mempromosikan perdamaian dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang kuat. 

Pernyataan juga menyebutkan : Presiden Trump juga menekankan kepemimpinan Amerika Serikat di bidang kesehatan global, termasuk keberhasilan AS dalam mengembangkan vaksin komunis Tiongkok (COVID-19) yang aman dan efektif.

Xi Jinping, Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok yang juga tampil dalam KTT mengatakan hal yang berbeda irama dengan Trump. Dia mengatakan bahwa Tiongkok adalah negara yang menganut multilateralisme dan menentang unilateralisme. PKT akan terus meningkatkan keterbukaannya terhadap dunia luar, dan pintu gerbang keterbukaan terhadap  dunia luar akan semakin lebar dibuka. Selain itu, Tiongkok juga tidak akan mencari pemisahan (decoupling economic).

Terlepas dari banyaknya konflik kepentingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, 21 korporasi ekonomi yang berpartisipasi dalam KTT tersebut masih mengesahkan komunike bersama, yakni APEC Putrajaya Vision 2040.

Gedung Putih mengatakan dalam sebuah pernyataannya, Presiden Trump menyatakan bahwa visi tersebut akan menjadikan perdagangan bebas dan adil, sebagai fokus agenda APEC selama 20 tahun ke depan.

Dalam KTT APEC 2018, akibat pecahnya perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, para pemimpin pada pertemuan tersebut gagal mencapai konsensus dan tanpa adanya komunike bersama. KTT APEC yang rencananya digelar di Chile tahun lalu, dibatalkan karena kerusuhan di negara itu.

Voice of America melaporkan bahwa meskipun Xi Jinping dalam pidatonya mengklaim bahwa Tiongkok mendukung multilateralisme dan bersikeras untuk mewujudkan keterbukaan, namun pernyataan Xi Jinping telah menimbulkan pertanyaan. 

Di mata banyak negara, Komunis Tiongkok semakin menggunakan perdagangan sebagai alat pembalasan dan kontrol dalam urusan luar negeri. Bahkan, menggunakan agregat ekonominya yang berjumlah besar sebagai alat tawar-menawar, dan mengancam lawan yang lebih lemah dengan cara yang keras.

Usai mengikuti Business Leaders Dialogue di KTT APEC pada 19 November, Xi Jinping pun menyampaikan pidato. Dia mengatakan bahwa Komunis Tiongkok tidak akan berpikir untuk melalui jalan yang pernah dilalui di masa lalu, mencari “pemisahan”, atau terlibat dalam “lingkaran kecil” yang tertutup dan eksklusif. PKT mendukung “multilateralisme” dan seterusnya.

Namun, Agence France-Presse melaporkan bahwa ucapan Xi Jinping itu mungkin membuat negara-negara yang telah dipersulit dan mengalami balas dendam Komunis Tiongkok mengerutkan kening. Komunis Tiongkok selalu menggunakan ekonominya yang berskala besar sebagai alat tawar-menawar dalam memperebutkan kepentingan geopolitik internasional, memaksa negara lain untuk mematuhi keinginan Komunis TIongkok.

Voice of America melaporkan bahwa negara-negara Barat mengutuk keras “diplomasi paksaan”, “diplomasi sandera”, dan “diplomasi serigala perang” yang dimainkan oleh komunis Tiongkok. Laporan tersebut menyatakan bahwa tindakan balas dendam komunis Tiongkok terhadap Australia dan Kanada baru-baru ini adalah semacam “diplomasi paksaan” dan “diplomasi sandera”. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular