Melihat ke Dalam : Apa yang Ditawarkan Seni Tradisional Pada Hati

ERIC BESS

Thomas Cole adalah pelukis Amerika abad ke-19 yang menjadi populer karena lukisan pemandangannya. Lahir di Inggris, hingga usia muda Thomas pindah ke Amerika Serikat, dan di Amerika kecintaannya pada seni berkembang.

Sebagai seorang pemuda, Thomas jatuh cinta dengan pemandangan alam liar yang indah di Pegunungan Catskill, New York, di mana dia kemudian mendirikan sebuah studio. Catskills akan menjadi inspirasi bagi banyak lukisannya.

Dalam kurun waktu itu, ia bertemu dengan Luman Reed, seorang pedagang sukses yang membuka galeri seni pribadi di daerah tersebut. Luman menjadi patron Thomas, dan menugaskannya untuk membuat lima seri lukisan yang kemudian diberi judul “The Course of Empire” (Perjalanan Kekaisaran). Ini menjadi beberapa karya khas Thomas.

Menurut situs ExploreThomasCole.org, Thomas menjelaskan tentang idenya untuk serial lukisannya dalam sebuah surat kepada Luman:

“Serial lukisan mungkin sebaiknya menggambarkan Sejarah pemandangan alam, serta  menjadi Simbol Manusia— menunjukkan perubahan alami pemandangan dan yang dipengaruhi oleh manusia  dalam  perkembangannya dari Barbarisme ke Peradaban, lalu Kemewahan, kondisi buruk atau penghancuran, menuju ke kondisi Keruntuhan dan Kemusnahan.Filosofi subjek saya diambil dari sejarah masa lalu, di mana kita melihat bagaimana negara-negara telah bangkit dari kondisi liar menjadi kuat dan mulia, dan kemudian jatuh dan musnah…”

“The Course of Empire: The Savage State,” circa 1834, by Thomas Cole. Oil on canvas, 39 1/4 inches by 63 1/4 inches. New-York Historical Society. (Public Domain)

Thomas merasa bahwa serial lukisan ini mewujudkan “misi” atau tujuan seorang seniman:

“Saya telah memikirkan banyak hal, dan menantikan saat ketika saya dapat mewujudkannya di kanvas. Mereka adalah subjek yang bersifat moral dan religius. Karena  itu,  menurut saya, adalah tugas seniman untuk menggunakan kemampuannya; karena misinya, jika saya boleh menyebutnya demikian, adalah misi yang hebat dan serius. Karyanya tidak boleh menjadi tiruan mati dari hal-hal tanpa kekuatan untuk mengesankan sentimen, atau menegakkan kebenaran.”

Perjalanan Kekaisaran

Serial “The Course of Empire” terdiri dari lima lukisan yang menggambarkan lima tahapan evolusi suatu peradaban.

Periode pertama sebuah kekaisaran adalah kondisi primitif. “The Savage State” (Alam Liar) adalah lukisan pemandangan yang menggambarkan alam sebagai kekuatan dominan. Langit tampak berat di atas bumi, tempat dedaunan tumbuh subur tanpa gangguan. 

“The Course of Empire: The Arcadian or Pastoral State,” circa 1834, by Thomas Cole. Oil on canvas, 39 1/4 inches by 63 1/4 inches. New-York Historical Society. (Public Domain)

Elemen-elemen tersebut dikerdilkan oleh besarnya lingkungan mereka, dan mereka hidup dari tanah dan menggunakan peralatan sederhana untuk berburu.

Periode kedua kekaisaran adalah munculnya beberapa peradaban. Dalam lukisan “The Arcadian or Pastoral State” (kondisi sakral harmonis atau penggembalaan), Thomas menggambarkan lanskap dengan lebih banyak organisasi dan keteraturan daripada di “The Savage State”.

Tokoh-tokoh tersebut tampaknya tidak didominasi oleh alam di sini, tetapi hidup selaras dengannya. Mereka menari, memancing, memelihara hewan, dan ada kuil di latar belakang, yang menunjukkan bahwa mereka menyembah dan beriman. Langit lebih cerah di sini daripada di “The Savage State” (Alam Liar).

Periode ketiga dari sebuah kekaisaran adalah puncak dari sebuah budaya, seperti yang ditunjukkan dalam “The Consummation of Empire” (Kesempurnaan Kekaisaran) karya Thomas. Alam hampir sama sekali tidak ada dalam penggambaran ini. Sebaliknya, figur-figur telah mendominasi alam dan peradaban yang ditampilkan pada puncaknya.

Ada kuil dan patung yang melambangkan para Dewa, pakaian dan perhiasan mewah, serta keteraturan. Semua dikelilingi oleh keindahan, sepertinya tidak ada yang mengingink- an atau membutuhkan sesuatu, dan langit cerah.

Periode keempat penuh dengan kekacauan. Dalam “Destruction” (Penghancuran), Thomas menggambarkan  momen kekacauan. Langit yang kacau menghalangi cahaya matahari. 

Kuil yang mungkin pernah menjadi tempat tinggal para Dewa sedang terbakar. Orang-orang berlarian atau berkelahi; semuanya dalam keadaan semrawut.

Ada patung besar yang tanpa kepala di sebelah kanan atas komposisi. Dengan gaya berperang, patung ini melesat ke depan dan mengulurkan perisai rusaknya ke langit.

Periode terakhir kekaisaran adalah kehancurannya. Dalam lukisan “Desolation” (Kemusnahan), Thomas menggambarkan reruntuhan bangsa yang dulunya megah. Semua kenyamanan material yang diciptakan penghuninya untuk diri mereka sendiri telah musnah, dan sekarang — di senja hari — bulan menerangi kehancuran bangsa.

Menghindari Kehancuran

Ketika perpecahan politik di negara kita tumbuh, ada kerusuhan yang terlihat menggelembung di bawah permukaan. Kita tampaknya hampir mendekati apa yang disajikan Thomas sebagai periode kehancuran.

Saya harus bertanya: Kemana tujuan bangsa besar kita? Adakah cara untuk memperluas dan secara potensial mempertahankan kebenaran dan keindahan penyempurnaan sebuah kerajaan di masa depan?

Mari kita lihat lebih dekat periode kehancuran untuk melihat apa karakteristiknya, dan kemudian mari kita lihat apakah penggambaran sebelumnya dalam siklus  yang ditawarkan oleh Thomas memberi kita solusi yang memungkinkan.

“The Course of Empire: The Consummation of Empire,” 1835-1836, by Thomas Cole. Oil on canvas, 51 1/4 inches by 76 inches. New-York Historical Society. (Public Domain)

Ada tiga hal yang menonjol bagi saya di “Destruction”. Pertama, matahari terhalang awan. Kedua, kuil-kuil itu terbakar. Dan ketiga, patung tanpa kepala itu menerjang ke depan de- ngan perisainya mengarah ke langit.

Saya melihat matahari mewakili apa yang terang dan apa yang gelap. Dengan kata lain, matahari melambangkan kebijaksanaan. Di sini, kebijaksanaan terhalang oleh asap yang keluar dari kuil yang terbakar. Saya percaya kuil-kuil di sini adalah rumah para Dewa dari kekaisaran ini, dan kehancurannya menunjukkan hilangnya kebijaksanaan.

Akan tetapi, orang dapat  berargumen bahwa mungkin saja bangunan-bangunan ini bukanlah kuil tetapi gedung pemerintah, pemandian, tempat tinggal, bisnis, dan sebagainya. Sekalipun demikian, secara historis Dewa suatu bangsa terintegrasi ke dalam semua aspek masyarakat.

“The Course of Empire: Desolation,” 1836, by Thomas Cole. Oil on canvas, 39 1/4 inches by 63 1/4 inches. New-York Historical Society. (Public Domain)

Fakta bahwa gedung-gedung ini terbakar mewakili — bagi saya — hilangnya unsur ketuhanan yang dulunya pernah menyatu dengan masyarakat, dan akibat hilangnya kebijaksanaan yang terkait dengan ketuhanan.

Patung-patung Dewa yang tampil dalam lukisan sebelumnya (The Consummation of Empire) sudah tidak ada. Sebaliknya, yang ada adalah patung tanpa kepala yang menerjang dengan perisainya mengarah ke langit.

Kepala sering dikaitkan dengan kebijaksanaan, jadi fakta bahwa kepala hilang dari patung ini, dan fakta bahwa patung para Dewa sekarang tidak ada, menunjukkan bahwa kekaisaran telah berpindah dari kepercayaan dan kebijaksanaan yang diberikan oleh Dewa kepada yang membuang kebijaksanaan dan kepercayaan pada Dewa.

Selain itu, patung tersebut menerjang ke depan dan tidak melindungi dirinya dengan perisainya tetapi mengarahkan perisai ke arah langit, seolah-olah di sanalah ia mengarahkan amarahnya.

Apakah sosok itu ingin melawan atau menyerang langit dalam irasionalitas tanpa kepala? Dan apakah keinginan untuk melawan atau menyerang ini sebagian bertanggung jawab atas kehancuran yang sekarang dihadapi kekaisaran? Apakah penghuni kekaisaran ini berdebar-debar karena mereka telah melupakan perintah Langit? Apakah perlawanan terhadap atau serangan ke Langit dan kebijaksanaan yang diwakilinya mengakibatkan kehancuran dan akhirnya kemusnahan?

Dalam lukisan “The  Arcadian  or  Pastoral State”, tokoh-tokoh digambarkan selaras dengan alam, dan bait suci di latar belakang menunjukkan penyembahan dan iman. Ini adalah prekursor menuju kelimpahan yang ditunjukkan dalam lukisan “The Consummation of Empire”.

Apakah keharmonisan, ibadah, dan keyakinan diperlukan untuk meningkatkan umur panjang kekaisaran dan menghindari kehancuran? Apakah pertanyaan-pertanyaan ini didasarkan pada landasan moral yang mana setiap bangsa, berjuang di titik-titik tertentu?

Bagaimana kita dapat  memopulerkan kembali moralitas untuk menghidupkan kembali keharmonisan, penyembahan, dan iman yang akan berfungsi sebagai dasar dari kelangsungan hidup kekaisaran kita dan bahkan membuatnya berkembang? (yun)

Seni memiliki kemampuan luar biasa untuk menunjukkan Apa yang tidak bisa dilihat sehingga  kita  Dapat  bertanya,  “Apa  Artinya ini  bagi  Saya dan  semua  orang  yang  melihatnya?”  “Bagaimana hala  itu  memengaruhi Masa Lalu  dan Bagaimana Hal  itu  memengaruhi masa depan?” “Apa yang dipetik dari pengalaman Manusia?” Ini Adalah beberapa pertanyaan  yang Kami Jelajahi dalam  serial Melihatke Dalam: Apa yang Ditawarkan kesenian tradisonak pada hati.

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular