Luo Ya

Zhang Wenhong, direktur Departemen Penyakit Menular di Huashan Hospital, Shanghai pada 28 November mengatakan : “Jangan kalian berharap vaksin datang sekarang. Nanti begitu datang, kalian juga yang menolak untuk divaksinasi”. Ucapannya ini secara tidak sengaja mengungkapkan status quo yang terjadi di daratan Tiongkok. Berdasarkan pemahaman terhadap situasi di Shanghai yang diperoleh media ‘Epoch Times’, bahwa tidak hanya masyarakat umum, bahkan petugas kesehatan pun kurang percaya pada vaksin yang diproduksi Tiongkok. Dari umpan balik terhadap diagnostik darurat untuk vaksin virus COVID-19, gambaran situasi yang diperoleh ‘Epoch Times’ adalah bahwa lebih dari 90% staf medis rumah sakit menolak vaksinasi ‘Made in China’

Tanpa disengaja Zhang Wenhong mengungkap fakta

Direktur Departemen Penyakit Menular di Huashan Hospital, Shanghai, Zhang Wenhong  menghadiri acara Forum Komunikasi Sains Shanghai yang membahas topik ‘Bagaimana manusia dapat mengalahkan virus COVID-19.’ Ia mengatakan dalam wawancaranya dengan reporter media Tiongkok, bahwa pada akhir tahun ini atau awal tahun depan, vaksin dari berbagai negara termasuk Tiongkok mungkin sudah dapat diluncurkan ke pasar. Pada saat yang sama, Zhang Wenhong juga menekankan : “Jangan kalian berharap vaksin datang sekarang. Nanti begitu datang, kalian juga yang menolak untuk divaksinasi”.

Ucapan Zhang Wenhong “Nanti begitu datang, kalian juga yang menolak untuk divaksinasi” ini oleh para netizen Tiongkok dianggap sebagai pengungkapan fakta tanpa sengaja.

Pemantauan terhadap situasi vaksinasi di Shanghai : Yang bersedia hanya sedikit

Menurut pengungkapan orang dalam kepada reporter ‘Epoch Times’, bahwa baru-baru ini pejabat Shanghai mengeluarkan pemberitahuan darurat yang menghendaki staf medis rumah sakit yang bertugas di bagian klinik demam, pengujian laboratorium terkait virus, pengambilan sampel, pemeriksaan pencitraan, dan mereka berisiko tinggi lainnya yang mungkin bersentuhan dengan infeksi virus komunis Tiongkok (COVID-19) agar mendaftarkan diri untuk menerima vaksinasi.

Pemberitahuan juga menekankan bahwa karena vaksin tersebut belum dipasarkan, jadi biaya vaksinasi ditanggung oleh pihak rumah sakit. Selain itu, meminta pihak rumah sakit dan para staf medis untuk menjaga kerahasiaannya demi menghindari timbulnya opini dari masyarakat. Serta diminta untuk memberikan umpan balik sebelum 25 November pukul 09.00 waktu setempat. Bagi mereka yang tidak memberikan umpan balik, maka dianggap melepaskan kesempatan tersebut.

Berdasarkan masukan dari Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Tiongkok Yangpu Shanghai (Shanghai Yangpu Hospital of Traditional Chinese Medicine), bahwa melalui penjajakan dari 304 orang staf yang bertugas di 40 lebih departemen termasuk kantor administrasi, unit informasi, departemen personalia, hingga unit medis, hanya 20 orang yang bersedia menerima vaksinasi. Jadi staf yang enggan divaksinasi (vaksin Made in China) mencapai di atas 90%.

Selain itu, penjajakan secara rahasia juga dikembangkan ke beberapa perusahaan di Shanghai. Berdasarkan umpan balik yang didapat, diketahui bahwa hanya 3 dari 105 orang karyawan sebuah perusahaan pengembang real estat di Shanghai yang bersedia menerima vaksinasi. Hanya 4 dari 80 orang karyawan cabang dari supermarket ternama ‘China Resources Vanguard’ yang terletak di Jing’an, Shanghai yang bersedia menerima vaksinasi. 6 dari 78 orang karyawan perusahaan ‘Shanghai Farmer’s Market Management Co., Ltd.’ yang bersedia disuntik dengan vaksin ‘Made in China’.

Laporan media AS baru-baru ini menyebutkan bahwa, produsen obat-obatan di daratan Tiongkok, sedang menghadapi tekanan yang meningkat dan perlu segera mengeluarkan data klinis tentang pembuktian efektivitas dari vaksin mereka. 

Selain itu, menurut laporan media Jerman bahwa, China National Biotec Group Company (CNBG) yang menjadi anak perusahaan China National Pharmaceutical Group (Sinopharm Group), telah terlebih dahulu mengajukan aplikasi pendaftaran untuk memasarkan vaksin virus komunis Tiongkok (COVID-19) kepada Kantor Administrasi Produk Medis Nasional Tiongkok. Namun, baik hasil uji klinis tahap ketiga dari vaksin maupun data rinci tentang keefektifan vaksin produksi mereka belum diumumkan.

Masyarakat : Kredibilitas vaksin buatan Tiongkok masih diragukan

Mrs. Zhang, seorang karyawati kerah putih di sebuah perusahaan swasta Shanghai mengatakan kepada reporter ‘Epoch Times’ bahwa dirinya juga tidak bersedia menerima vaksinasi. Ia menjelaskan : “Setelah dirinya bertanya kepada teman-teman dari 2 perusahaan yang mengembangkan obat baru. Ia mendapat gambaran bahwa secara normal pengembangan vaksin perlu menjalani beberapa tahapan. Antara lain Research and development (R&D), registrasi, sirkulasi dan lainnya. Tahapan R&D harus melalui banyak tahap pengujian, termasuk penelitian laboratorium dan penelitian klinis tahap I, II dan III”.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa proses tersebut bisa memakan waktu 2 hingga 3 tahun. 

Mrs Zhang menyebutkan, Sekarang epidemi dari akhir tahun lalu sampai sekarang belum 1 tahun, jadi siapa yang berani menggunakan (vaksin mereka) ? Dan periode klinis yang berbeda membutuhkan sampel, ia juga tidak tahu berapa banyak orang yang sudah melalui uji klinis itu. Katakanlah ada 10.000 orang yang ikut diuji dan mencapai standar uji klinis tahap ketiga, namun karena periode verifikasi efek samping setelah peserta vaksinasi masih terlalu pendek waktunya, sehingga hanya sedikit orang yang berani menerima vaksinasi.”

“Ya, kecuali jika epidemi sudah begitu parah menyerang sehingga jika Anda menolak vaksinasi maka akan tertular. Apa boleh buat, saya yakin banyak orang terpaksa mau menerima vaksinasi”, imbuhnya.

Kepada reporter ‘Epoch Times’ Mr. Li di Shanghai mengatakan bahwa vaksin buatan Tiongkok tidak memenuhi syarat, kualitasnya dipertanyakan, ini sudah pasti. “Partai Komunis Tiongkok paling pintar dalam hal penipuan, ia tidak memiliki kredibilitas, Mr Li menegaskan dirinya tidak bersedia menerima vaksinasi mereka”.

Mr. Li mengatakan bahwa hal terpenting sekarang ini apakah warga dijadikan kelinci percobaan bagi vaksin buatan Tiongkok. Terutama vaksin dari pengembangan hingga uji klinik setidaknya membutuhkan waktu selama 2 tahun. Tidak segampang itu untuk diedarkan.

Ia menekankan bahwa komunis Tiongkok ingin menguasai dunia dan ia siap untuk mengembangkan sayap dominasinya di wilayah Asia. “Oleh karena itu, ada faktor politik dalam vaksinnya. Vaksin dipasok kepada negara berkembang di dunia ketiga. Untuk mempromosikan keampuhan dari vaksin buatan Tiongkok. Namun, baik WHO maupun negara-negara yang bergabung dalam Uni Eropa meragukan kualitas vaksin Tiongkok”.

Warga daratan Tiongkok bermarga He kepada reporter ‘Epoch Times’ mengatakan bahwa terlalu banyak barang-barang palsu yang beredar di daratan Tiongkok sekarang, sehingga kalau sesekali ada barang asli, malahan banyak orang yang tidak percaya, karena penurunan kredibilitas. 

“Apalagi ada banyak masalah yang muncul pada epidemi sebelumnya, dan setiap orang memiliki beban psikologis. Vaksin yang bermasalah di tempo hari juga digembar-gemborkan telah mengalami apa yang disebut metode argumen dan mengikuti prosedur pengembangannya yang ketat …. nyatanya masyarakat jadi korban”.

Ia menegaskan, bukan soal vaksin itu sudah diverifikasi oleh otoritas atau pakar, banyak orang yang tidak berani mengungkapkan, tapi mereka tetap meragukan. Warga itu menyampaikan bahwa sebagai orang awam yang tidak memiliki saluran profesional untuk terlibat dalam debat keilmuan. Kebanyakan orang  hanya bisa menunggu hasil yang diuji oleh waktu, membiarkan orang lain yang mencoba lebih dahulu. Itulah mentalitas mereka. Banyak orang ingin melihat terlebih dahulu apakah ada efek samping yang dialami orang lain setelah menerima vaksinasi”.  (sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular