DR. Xie Tian

Pada 4 November 2020, hari kedua pilpres AS 2020, hasilnya belum juga keluar, penulis pernah menulis artikel berjudul “Kebuntuan Pilpres AS: Tuhan Tengah Menguji Keyakinan Kita”. 

Pada 30 September lalu, dalam artikel “Topik Pilpres 2020 Sesungguhnya: Ujian Open-Book Dari Tuhan” penulis juga menjelaskan, membandingkan kedua  partai dan program kerja kedua capres, semua orang yang percaya Tuhan, orang yang menentang ateisme Partai Komunis Tiongkok (PKT) serta kejahatan komunis, orang yang mengejar kebahagiaan dengan ekonomi kapitalisme yang bebas, orang yang menghormati hak asasi dan hak memiliki kekayaan setiap manusia, serta orang yang melindungi hukum dan ketertiban, pasti akan berpihak pada panji Trump. 

Dan sebaliknya,  orang  yang tidak beragama, orang yang atheis yang berpihak pada PKT menentang Tuhan, orang yang menggunakan kekuatan negara penganut komunisme-sosialisme untuk menghalangi masyarakat mengejar kebahagiaannya, orang yang tidak menghormati hak hidup janin bayi, orang yang iri dengan kekayaan orang lain bermimpi menjadi kaya tanpa bersusah-payah, serta juga orang-orang yang menerapkan anarkisme, menginjak-injak hukum dan ketertiban, pasti akan berpihak di bawah panji orang yang menjadi musuh Trump.

Masyarakat manusia sekarang ini, telah diserang oleh ateisme, juga antiteisme, dan PKT menjadi pionirnya serta  pendukung  dana di baliknya. Rakyat Amerika menghadapi pilihan antara dua kubu, apakah memberikan suara setuju atau menentang, terhadap ajaran Tuhan, terhadap kehendak Tuhan, dan terhadap ketaatan pada dasar pendirian Negara Amerika yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. 

Dilihat dari sudut pandang lain, ini juga merupakan kertas ujian yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, agar setiap orang menentukan pilihannya masing-masing. Dalam ujian besar abad ini, setiap soal pada kertas ujian, adalah terbuka; jawaban dalam ujian, juga terbuka, dan hanya ada dua pilihan, tidak ada jawaban ketiga. 

Seluruh dunia sedang menantikan di luar ruangan ujian, Tuhan tengah mengadakan ujian ini, juga sedang mengawasi jalannya ujian.

Hasil ujian telah  tampak  pada tahap awal, efeknya yang menggemparkan, memengaruhi Amerika dan Tiongkok, juga mempengaruhi seluruh dunia. Dari keseluruhan proses ini, masyarakat tidak sulit mendapati, Dewa Keadilan sebenarnya telah menyaring seluruh warga Amerika! Seluruh warga AS, tidak peduli miskin atau kaya, tidak memandang tinggi rendahnya jabatan, juga tidak memandang suku bangsa, jenis kelamin, usia dan warna kulit, setiap orang harus menyatakan sikap serta memilih pihak.

Awalnya, masyarakat mengira pemilu adalah peristiwa mendaftarkan warga pemilih, adalah masalah kandidat. Tapi dengan sangat cepat, masyarakat menyadari semua media massa, mulai dari media massa arus utama sampai 1.300 kantor surat kabar, beserta 15.000 kantor siaran radio, berikut semua editornya, wartawan, pembawa berita, dewan redaksi, bahkan jajaran komisaris, semuanya harus menyatakan sikap dengan jelas dalam hal mendukung capres yang mana, percaya capres yang mana yang menang, apakah percaya kecurangan pilpres dan tindakan pencurian negara serta berbagai masalah krusial lainnya. 

Sebagian besar dengan cepat telah menyatakan sikap ada juga sebagian yang baru menyatakan sikap setelah satu bulan menunggu, dan pendukung Biden lebih banyak, pendukung Trump lebih sedikit. 

Media masssa yang benar-benar teguh keyakinannya, mengandalkan fakta serta aspirasi rakyat, tidak goyah oleh kekuatan di balik layar, dan media yang terus melanjutkan mendukung Trump, sekarang mungkin kurang dari sepuluh!

Tidak hanya tokoh media massa di Amerika dan dunia, Dewa juga telah mengamati dengan seksama dan mengeluarkan kertas ujian, negarawan yang terpilih dan belum terpilih, politikus, pejabat pilihan rakyat di berbagai tingkatan, juga telah disaring semuanya. 

Orang- orang dalam kelompok orang pemilu, apakah mendukung investigasi kecurangan, apakah mengakui Biden dan masalah lainnya, juga mau tidak mau harus menentukan sikapnya.

Selama ini masyarakat pada umumnya mengira, Mahkamah Agung Amerika ibarat menara gading di antara semua menara gading yang ada, altar suci di antara altar suci, tinggi tak terjangkau, suci dan agung, adalah teladan yang mampu terlepas dari godaan duniawi, melindungi “Konstitusi”, dan mutlak adil. 

Akan tetapi, ketika AS menghadapi krisis konstitusional, krisis keamanan negara, dan krisis masa depan ini, Mahkamah Agung justru telah mengabaikan dan tidak memproses gugatan yang diajukan oleh Texas walaupun telah didukung oleh 20 negara bagian lainnya. 

Terhadap bukti kecurangan yang mengejutkan, bahkan  tidak  ada niat memeriksa, sungguh disesalkan! Citra Mahkamah Agung dan para hakim agung di mata masyarakat pun runtuh sudah! Mahkamah Agung AS masih berkesempatan membuktikan diri, tapi kesempatan itu tidak akan tanpa batas.

Trump sebagai presiden yang mewakili Partai Republik, juga merupakan capres yang diusulkan oleh Konvensi Nasional Partai Republik, logikanya seharusnya mendapatkan dukungan penuh dari seluruh anggota Partai Republik. 

Faktanya, adalah Trump yang telah menyelamatkan Partai Republik, adalah Trump yang telah menyelamatkan merosotnya Partai Republik di banyak wilayah, adalah Trump yang telah menjadi mesin penggalang dana bagi partai dan kandidat Partai Republik di seluruh negeri. 

Namun, walaupun Trump telah memenangkan dukungan 95% kalangan akar rumput Partai Republik, tapi 5% petinggi Partai Republik yang anti-Trump, yang hanya di mulut akur dengan Trump tapi di dalam hatinya tidak. Mulai dari Romney sampai keluarga Bush Junior, sampai pemimpin Partai Republik pada kamar Senat AS, mereka berkhianat, menjegal dan menikam Trump dari belakang, membuat orang-orang non-politik merasa ngeri, dan merasa sungguh tidak mudah menjadi seorang Trump, terlebih lagi merasakan betapa hitamnya partai politik.

Pada pertengahan Desember, Senat AS telah mengadakan forum dengar pendapat kecurangan pemilu yang pertama. Tindakan kecurangan yang tersistematis, bukti setelah pengambilan sumpah, secara resmi telah masuk dalam catatan DPR AS: kecurangan dalam pemilu presiden memang benar telah terjadi, pemilu dalam banyak tingkatan telah mengalami kecurangan! Karena desakan media massa dan Partai Demokrat, maka tokoh kalangan yudisial dan hukum tidak bersedia memeriksanya dengan sungguh-sungguh, hal ini juga  telah  menunjukkan betapa Deep State telah  menyebar luas.

Tapi  seperti  dikatakan oleh Presiden Trump, bahkan pemimpin Partai Republik pun terlalu dini putus harapan,  ini  sangat  disesalkannya, namun  rakyat  Amerika  tidak  akan putus asa, rakyat tengah murka! Dan rakyat ingin menuntut keadilan.

James Bowman adalah peneliti tetap dari Ethics and Public Policy Center (EPPC) dan juga penulis buku berjudul “Honor: A History”, Bowman juga merupakan kritikus film dalam “American Audience” dan kritikus media bagi “New Standard”. 

Bowman menilai, pemilu AS kali ini, “Jika pemilu yang telah dirusak sedemikian parah masih memiliki dampak baik, maka dampak baik itu adalah kebobrokan media massa telah terungkap total. Kebobrokan media massa dan korupnya kaum estABlishment politik terkait erat, tapi  sangat  berbeda. Kebobrokan  media  massa  secara  jelas terpampang bagi setiap orang, dan tidak perlu diperdebatkan.”

Bagaimana untuk tahapan berikutnya? Setiap warga AS, mulai dari mantan presiden sampai prajurit satu, mulai dari hakim agung sampai sipir penjara, mulai dari konglomerat sampai pedagang asongan, mulai dari dosen ahli sampai para pelajar, setiap orang Amerika, akan ditanya, diuji, dan disaring satu kali. 

Jalur gugatan yudisial telah dicoba satu persatu, lalu satu persatu ditutup, tapi keadilan pasti akan mengalahkan kejahatan, tekad warga AS pasti akan tampak, keinginan Dewa Keadilan pun pasti akan diperlihatkan. 

Teman, sekutu, lawan, pengkhianat dalam perang kebajikan melawan kejahatan ini, satu persatu akan muncul, jadi pilihan masa depan Trump dan jalan menuju kemenangan juga akan semakin jelas. (sud)

Dr. Xie Tian Adalah Chair Professor di Aiken School of Business, University of South Carolina

Video Rekomendasi :

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular