Mingdemedia.org

Mantan Walikota New York, Rudy Giuliani memposting video di Youtube untuk menjelaskan aspek mencurigakan dari insiden kerusuhan di Kongres Amerika Serikat  pada 6 Januari lalu. Tapi videonya dengan cepat dihapus oleh Youtube.

Giuliani memposting di saluran Youtube pribadinya pada tanggal 9 Januari berjudul “Apa yang terjadi pada tanggal 6 Januari?” 

Video tersebut menyatakan bahwa bukan pendukung Trump yang memimpin serangan terhadap Kongres Amerika Serikat. 

  1. Kerusuhan yang melanda Kongres Amerika Serikat  direncanakan sebelum unjuk rasa “Selamatkan Amerika”, karena massa membawa tali, palu, tongkat, dan bahkan alat dan bahan kimia khusus untuk memecahkan kaca, serta susu yang dapat membasuh gas air mata. Beberapa orang sangat pandai memanjat dinding turut berpartisipasi.
  2. Ada video dan bukti di tempat kejadian yang menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang memasuki Gedung Capitol dimasukkan oleh polisi Capitol Hill.
  3. Orang-orang yang memasuki Gedung  Capitol membawa walkie-talkie dan perlengkapan kamera yang canggih.
  4. Seorang saksi mata bersaksi dengan mengatakan, “Saya mendengar mereka berkata, ‘Kita harus berbaur dan bercampur dengan mereka untuk membuat orang-orang ini terlihat buruk’. “Saya melihat mereka memecahkan kaca di Capitol Hill.”

Menurut Giuliani, pendukung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tidak menimbulkan kemarahan atau gosip dalam unjuk rasa pada 6 Januari, tetapi Partai Demokrat, yang mengontrol media arus utama, harus menyalahkan Trump atas kerusuhan tersebut.

“Saya tidak percaya pada kekerasan, saya rasa kekerasan apa saja tidak dapat menyelesaikan masalah, dan saya percaya bahwa kekerasan seringkali digunakan untuk mendiskreditkan tujuan yang layak. Sayangnya, politik dan kekerasan terkadang saling terkait. Sejauh menyangkut opini publik, Anda juga dapat memperkirakannya karena media arus utama sangat membenci Trump, dan media arus utama dikendalikan oleh politisi Demokrat. Mereka siap menyalahkan Trump atas kerusuhan tersebut,” kata Giuliani. 

Video itu dengan cepat dihapus oleh Youtube. Ini adalah bagian dari penyalahgunaan kekuasaan raksasa teknologi tinggi Amerika Serikat  setelah peristiwa 6 Januari.

Namun, video tersebut disimpan dan diteruskan oleh netizen. Di saat yang sama, Giuliani juga mem-posting ulang video tersebut di situs pribadinya.

Ada detail aneh lain pada 6 Januari yang membuat para pengamat mempertanyakan. Itu adalah proses penembakan Ashli ​​Babbitt yang mendukung Trump dan seorang veteran Angkatan Udara Amerika Serikat yang “secara kebetulan” dilakukan oleh penduduk Utah John Sullivan.

 John Sullivan ini bukanlah pendukung Trump. Sebaliknya, dia adalah pendiri “Pemberontakan di Amerika Serikat”, sebuah organisasi gangster ultra-kiri.

“Daily Mail” dan CNN mewawancarai Sullivan tentang insiden penembakan pada 6 Januari, tetapi tak satupun dari kedua media tersebut memberikan jawaban yang memuaskan tentang mengapa Sullivan muncul di adegan pertama penembakan itu. 

Sullivan bahkan menunjukkan kepada “Daily Mail” bahwa dia pergi ke Capitol Hill bukan untuk memprotes, tetapi dia tidak mengungkapkan alasan sebenarnya untuk perjalanannya ke Capitol Hill. 

Jurnalis independen dan mantan karyawan Fox, Kyle Becker mencela media kiri dan media arus utama karena mendiskreditkan pendukung Trump.

“Puluhan ribu orang membakar, merampok, dan melakukan kerusuhan selama berbulan-bulan. Puluhan orang tewas,” kata Kyle Becker. 

Itu adalah “protes damai” karena penjahat hanya menyumbang 7-10% dari total peserta. Pada 6 Januari, ribuan orang melakukan protes. Sekarang, apakah semua pendukung Trump menghasut subversi? Ini adalah kebohongan yang jahat dan berbahaya,” tambah Kyle Becker. 

Setelah kekacauan kongres pada 6 Januari, Twitter, Facebook, dan Youtube melakukan penghapusan akun, larangan, dan penghapusan secara besar-besaran terhadap penggemar Trump, orang-orang Trump, dan anggota inti pemerintahan Trump.  

Seseorang dengan marah berkata di Twitter: “Keadilan Amerika telah menghilang, dan Amerika Serikat telah jatuh ke dalam era totaliterisme digital.” (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular