RAYMOND BEEGLE

“Saya mencintai kebenaran lebih dari apapun,” tulis Beethoven kepada Goethe 200 tahun lalu. Tentu saja, Goethe menyukai kebenaran juga, tapi dengan cara yang agak dingin, di kejauhan. Cinta kasih Beethoven sangat bergairah, mendesak, meresahkan; baginya, kebenaran tampaknya ada berhubungan dengan Tuhan, dengan cinta itu sendiri, dengan keadilan dan keindahan. Tentu, ini membentuk elemen musiknya — luhur, tulus, dan indah, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Meskipun musiknya indah, namun Ludwig van Beethoven tidaklah  tampan. Teman-temannya mengatakan bahwa dia berperawakan pendek, berkulit gelap, tegap, kikuk, dan canggung, dengan wajah yang agak bersahaja, dan memiliki bintik-bintik. Mereka juga memuji rambutnya yang indah dan giginya yang putih cemerlang.

Beethoven adalah putra seorang pemabuk, telah mengenal pelecehan dan kesusahan sejak tahun-tahun awalnya, tetapi ia diasuh oleh orang-orang yang memiliki pemahaman dan pengaruh yang sejak awal, mengenali bakat- bakatnya yang luar biasa. Meskipun dia bertemperamen mudah berubah, namun ada bukti bahwa dia sebenarnya murah hati.

Pada usia 29 tahun, saat di ambang kesuksesan, ia menulis  kepada saudaranya: “Jika kondisinya membaik, seni saya hanya akan digunakan untuk melayani orang miskin.” Dia tidak pernah menikah, meskipun dia hampir selalu jatuh cinta, dan menjalin persahabatan terasa sulit baginya, selalu putus dari waktu ke waktu dan kemudian diperbaiki.

Salib besar yang harus dipikulnya terjadi di awal tahun ke-26, karena ia mulai kehilangan pendengarannya dan dengan cepat menjadi tuli. “Heiligenstadt Testament” yang terkenal, yang ditulis pada 1802, menceritakan tentang keputusasaan dan pikiran untuk bunuh diri, tetapi juga menceritakan  tentang  mukjizat yang besar, wahyu yang luar biasa, penemuan kekuatannya yang tak tergoyahkan, dan kepastian bahwa “tidak mungkin untuk meninggalkan dunia sampai aku melahirkan semua yang aku rasakan ada di dalam diriku.”

Apa yang ada di dalam dirinya, musiknya yang luhur, tidak ditulis untuk ruang kelas, atau ilmuwan, atau kritikus. Ia ditulis untuk hati manusia dan menghindari analisis ataupun kritik. Ketika mempertimbangkan beberapa karyanya secara berurutan, bagaimanapun, orang menemukan gambaran umum tentang pertumbuhannya, tidak hanya sebagai seorang pria yang jenius tetapi juga sebagai seorang pria umumnya. Itu mengungkapkan perluasan jiwa yang  agung, jalannya yang mantap melalui harapan, perjuangan, dan kemenangan masa muda hingga percakapan terakhir tanpa kata-kata dengan Sang Keberadaan yang kepadanya dia berdoa di sepanjang hidupnya.

Faksimili dari “Heiligenstadt Testament,” sebuah surat yang ditulis oleh Ludwig van Beethoven kepada saudara-saudaranya Carl dan Johann di Heiligenstadt (sekarang bagian dari Wina) pada 6 Oktober 1802. (Domain Publik)

Lagu yang diawali dengan “Betapa mulianya alam, diterangi di hadapanku” dibuat ketika Beethoven berusia 19 tahun. Itu adalah lagu dari jiwa mudanya, tak kenal takut dan, dengan alasan yang baik, penuh dengan harapan tertinggi. Seseorang merasakan atmosfer yang sama dalam musik kamar pada masa awal itu, refleksi dari dunia tempat dia bergerak — dekade terakhir abad ke-18,  zaman pencerahan simetri, logika, dan kejernihan.

Tahun-tahun berikutnya adalah tahun tahun Romantisisme, di mana musik menjadi kurang abstrak dan lebih personal. Bentuknya kurang kaku. Iklim yang dramatis meningkat, dan emosi, terutama emosi dari komposernya sendiri, mengambil tempat yang menonjol dalam musik yang dia produksi. 

Choral Fantasy for Piano, Orchestra and Chorus (Fantasi Paduan Suara untuk Piano, Orkestra dan Paduan Suara) muncul di benak Anda. Ini adalah himne yang meriah untuk alam dan kemungkinan umat manusia mencapai kedamaian dan kebahagiaan dalam  hidup ini. Sungguh luar biasa bahwa karya seperti itu ditulis selama Beethoven mengalami ketulian.

Opera satu-satunya Beethoven, “Fidelio” juga digagas pada periode ini, menciptakan skenario yang menjadi familiar dalam banyak karya berikutnya, terutama dalam gerakan lambat kuartet senar dan sonata piano: perselisihan, seruan doa kepada Tuhan, dan tak terelakkan resolusi dengan kegembiraan yang menyertainya. Contoh terbesar dari ini, yang tak tertandingi dalam kekuatan mereka, dapat ditemukan di babak terakhir “Fidelio”, dan “Ode to Joy” yang menutup Simfoni Kesembilan.

Musik Beethoven adalah musik religi, dan “Missa Solemnis” adalah pencapaian puncaknya, yang ditulis “untuk membangkitkan perasaan religius yang langgeng di dalam diri pemain dan pendengarnya”.

Mungkin yang terbesar dari semua potret Kristus ditemukan di dalam “Benediktus”. Suara-suara menyanyikan “Berbahagialah Dia yang datang dalam nama Tuhan”, tetapi tidak ada kata yang menggambarkan dia, orang yang diberkati ini kepada siapa  mereka bernyanyi. 

Sebaliknya, alunan solo biola terdengar, melodi luhur yang mengaliri seluruh orkestra dan paduan suara. Tidak ada yang ditulis atau diucapkan, dilukis atau dinyanyikan, yang memberi kita gambaran yang begitu jelas atau begitu kuat seperti ini.

Sebuah naskah drama untuk penampilan pertama Beethoven dari opera “Fidelio”. (Domain publik)

Hampir semua musik yang disebutkan di atas melibatkan teks, tetapi di tahun- tahun terakhir Beethoven, pikiran  dan perasaannya berada di wilayah di mana tidak ada kata-kata yang pernah  terdengar. Musik, bagaimanapun juga, sebaliknya, alunan solo biola terdengar, melodi luhur yang mengaliri seluruh orkestra dan paduan suara. Tidak ada yang ditulis atau diucapkan, dilukis atau dinyanyikan, yang memberi kita gambaran yang begitu jelas atau begitu kuat seperti ini.

Hampir semua musik yang disebutkan di atas melibatkan teks, tetapi di tahun- tahun terakhir Beethoven, pikiran  dan perasaannya berada di wilayah di mana tidak ada kata-kata yang pernah  terdengar. Musik, bagaimanapun juga, bergerak dengan mudah di luar batasan bahasa, menceritakan perjuangan dan kemenangan yang lebih dalam.

Ada kisah  indah yang  membuktikan hal ini: Duka seorang ibu karena kematian anaknya adalah duka yang luar biasa, dan ketika seorang teman dekat Beethoven menderita kehilangan putranya yang berusia 6 tahun, si komposer tidak tahu bagaimana menghibur  kesedihan teman dekatnya. Setelah beberapa hari tidak tahu harus berbuat  apa, dan apa  yang harus dikatakan, akhirnya Beethoven mengundangnya  untuk  berkunjung  ke  rumahnya. Ketika sahabatnya datang, Beethoven duduk di depan piano dan berkata, “Sekarang kita akan berbicara dalam nada.” Tidak ada kata-kata yang terucap setelah itu. Beethoven bermain untuknya selama satu jam, berimprovisasi, saat  itu sahabatnya duduk diam,mendengarkan.

Ceritanya berakhir, bertahun-tahun kemudian sahabat Beethoven itu berkata kepada Felix Mendelssohn muda: “Dia memberi tahu saya di hari itu semua yang perlu saya ketahui, dan akhirnya saya menemukan awal penghiburan.”

Kita mungkin mengatakan bahwa piano sonata terakhir, Op. 111, memberi tahu kita “segalanya”. Ini adalah perjalanan dari keputusasaan menuju penerimaan,  dan dari penerimaan ke saat-saat kegembiraan, dan saat-saat yang penuh keajaiban.

“Adagio” dari String Quartet Op. 135 memberi kita kilasan tentang sesuatu yang lebih besar: dunia tenang yang dicapai Beethoven di akhir perjalanan hidupnya. Itu merupakan suara musik yang dibalut dalam keheningan yang tak terbatas, dialog yang tenang dan tanpa kata-kata antara komposer dan Penciptanya. Ini adalah musik galaksi yang berkilauan, indah, misterius, berputar melalui ruang tanpa batas ke suatu tujuan yang besar dan tidak dapat diketahui. Mungkin itu adalah jaminan bahwa ada resolusi untuk penderitaan, yang memang akan segera kita pahami.

Tepat sebelum ajal menjemputnya, Beethoven berkata, “Di surga aku akan mendengar!” Kesan saya adalah, Beethoven selalu mendengar. “Saya mendapatkan musik ini langsung dari Tuhan!” dia berteriak pada seorang musisi yang mengeluh.

Kita manusia yang malang, rentan, adalah orang-orang yang tampaknya tuli, yang berusaha keras untuk mendengar firman Tuhan. (nul)

Raymond Beegle pernah tampil sebagai pianis kolaboratif di aula konser utama di Amerika Serikat, Eropa, dan Amerika Selatan; juga menulis untuk The Opera Quarterly, Classical Voice, Fanfare Magazine, Classic Record Collector (Inggris), dan New York Observer. Raymond pernah bekerja di fakultas Universitas Negeri New York – Stony Brook, Akademi Musik Barat, dan Institut Studi Musik Amerika di Graz, Austria. Dia juga mengajar di divisi musik kamar The Manhattan School of Music selama 28 tahun terakhir.

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular