Yang Wei

Pada  12 Januari 2021, Xinhua menerbitkan sebuah komentar berjudul, “Runtuhnya Amerika Serikat  sebagai sebuah ‘Suar’: Sangat Layak!” Menjadi corong bagi Partai Komunis Tiongkok, dapat diasumsikan bahwa artikel Xinhua tersebut mencerminkan sikap pemimpin top Partai Komunis Tiongkok terhadap Amerika Serikat.

Penulis artikel tersebut, Wu Liming, adalah wakil direktur departemen internasional di Xinhua. 

Seperti kebanyakan artikel yang dimuat di media pemerintah, komentar Wu Liming cenderung bukan pendapat pribadinya, tetapi merupakan refleksi dari bagaimana para pejabat senior Partai Komunis Tiongkok berpikir.

Artikel tersebut dimulai dengan: “‘Suar’ yaitu Amerika Serikat, yang mengklaim menjadi patokan demokrasi Barat, telah jatuh. … Dalam siaran video langsung, saya melihat simbol suar — Capitol Hill — telah jatuh. …Biarkan demokrasi Amerika Serikat jatuh dari altar.”

Dalam beberapa hari terakhir, liputan Xinhua mengenai berita Amerika Serikat terutama memprovokasi dan gembira akan kekacauan politik berikutnya. 

Komentar tersebut secara langsung merujuk ke Amerika Serikat sebagai sebuah “negara gagal,” dengan mengatakan “Amerika Serikat tidak dapat lagi memimpin dunia,” dan insiden Gedung Capitol tersebut adalah “sangat pantas!” Ini jelas mencerminkan sentimen para pejabat senior Partai Komunis Tiongkok. 

Pada tanggal 11 Januari, selama sebuah sesi studi Partai Komunis Tiongkok mengenai pelaksanaan Sesi Pleno Kelima, pemimpin tertinggi Xi Jinping menyatakan bahwa mereka memasuki “tahap lompatan sejarah yang baru,” dari “penguatan,” dan “waktu dan kekuatan ada di sisi kita,” kita “berani berjuang,” dan “pandai berjuang.”

Pimpinan Partai Komunis Tiongkok tampaknya berpikir, bahwa Amerika Serikat benar-benar kehilangan hegemoninya, dan ini adalah kesempatan lain bagi Partai Komunis Tiongkok untuk mengejar hegemoni. 

Partai Komunis Tiongkok bahkan tidak dapat menunggu hingga tanggal 20 Januari, saat sebuah pemerintahan baru akan dilantik, dan tidak dapat menarik kembali pendapatnya. 

Selama tahun lalu, para pejabat Partai Komunis Tiongkok ini merasa sangat malu, dan kini mereka merasa akhirnya ada kesempatan untuk mencurahkan isi hatinya.

Tidak sulit membayangkan sikap apa yang akan diadopsi oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap yang pemerintahan Amerika Serikat yang baru. Apalagi, tawar-menawar apa yang akan ditawarkannya setelah Partai Komunis Tiongkok memiliki kesempatan. 

Faktanya, Partai Komunis Tiongkok telah sering bertindak. Korea Utara dan Iran telah memulai lagi uji coba nuklirnya, dan Partai Komunis Tiongkok pasti akan berupaya memainkan peran sebagai seorang perantara. 

Saat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo baru-baru ini menunjuk Kuba sebagai sebuah negara sponsor terorisme, Partai Komunis Tiongkok segera mengungkapkan penentangannya.

Pada 12 Januari, Xinhua memposting artikel lain berjudul, “Kementerian Luar Negeri: Menentang Penindasan dan Sanksi Amerika Serikat terhadap Kuba atas Nama Anti-terorisme.” 

Artikel tersebut mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian di sebuah konferensi pers, yang mengatakan Amerika Serikat “adalah faktor destabilisasi terbesar yang mengancam perdamaian dan keamanan global.”

Zhao Lijian juga memposting pernyataannya di Twitter, kemungkinan besar untuk memamerkan “keterampilannya untuk diplomasi prajurit serigala.”

Setelah pandemi virus dilepaskan oleh Partai Komunis Tiongkok, rakyat Amerika Serikat seharusnya lebih banyak menyadari dan waspada terhadap penipuan Partai Komunis Tiongkok. Ini juga waktunya bagi orang-orang yang masih membeli strategi peredaan dalam berurusan dengan Partai Komunis Tiongkok untuk berpikir dua kali.

Awal tahun 2020, Partai Komunis Tiongkok berupaya menggunakan pandemi untuk mencari hegemoni tetapi berhasil dipapar dan diserukan oleh pemerintahan Donald Trump. Partai Komunis Tiongkok kemudian terpuruk karena isolasi internasional.

Setelah penyerbuan ke Gedung Capitol dan krisis yang terjadi di Amerika Serikat, Partai Komunis Tiongkok merasa akhirnya memiliki kesempatan untuk menyerang demokrasi Amerika Serikat.

Partai Komunis Tiongkok jelas percaya, bahwa Amerika Serikat berada dalam situasi tanpa harapan. Komentar “sangat pantas!” oleh Xinhua diikuti oleh komentar lain yang judulnya mempertanyakan, “Mengapa Donald Trump Mengalami Krisis Pemakzulan yang Lain?”

Artikel ini menyatakan bahwa, “pemakzulan juga merupakan sebuah manifestasi perjuangan yang mengintensifkan  antar partai. Partai Demokrat ingin meninggalkan sebuah

rekor memalukan bagi Donald Trump, mempersulit Donald Trump untuk mencalonkan diri lagi dalam waktu empat tahun,” dan “pada waktunya sebelum presiden baru menjabat, mungkin ada protes-protes bersenjata di seluruh Amerika Serikat.”

Xinhua tampaknya sangat menantikan kekacauan besar di Amerika Serikat. Pada tanggal 12 Januari, Xinhua menerbitkan artikel ketiga di berandanya, “Keamanan Pelantikan Presiden Amerika Serikat Menyuarakan Kekhawatiran, Washington Memasuki Keadaan Darurat.”

Tingkat kegembiraan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang diungkapkan oleh media negara Tiongkok, sebenarnya berasal dari kegembiraan di antara para pemimpin top Partai Komunis Tiongkok. Sikap ini setara dengan menantang Amerika Serikat secara terbuka.

Pada tanggal 10 Januari, Xinhua memuat sebuah artikel yang berjudul, “Ruan Zongze: Kini Tiongkok dan Amerika Serikat Sedang Menghadapi Sebuah Jendela Peluang,” yang nadanya agak berbeda. Mengutip bagian pidato tanggal 8 Januari oleh Ruan Zongze, wakil direktur pusat penelitian Pemikiran Xi Jinping mengenai Diplomasi  yang dikuasai negara.

Artikel tersebut mengusulkan bahwa, “setelah Joe Biden mengambil alih kekuasaan, hubungan luar negeri Amerika Serikat akan diubah, begitu juga hubungan Tiongkok-Amerika Serikat.” 

Artikel tersebut juga menyerukan untuk adanya “urusan internal yang saling menghormati, tidak saling mencampuri, dan kolaborasi menuju tujuan yang sama.” Ruan Zongze mengatakan ia menantikan “masa lalu” hubungan AS-Tiongkok.

Hanya dalam dua hari, sikap pejabat senior Tiongkok sepertinya telah berubah secara drastis. Pejabat senior Tiongkok mengesampingkan sikap sok untuk “saling menghormati” dan memprovokasi Amerika Serikat secara terbuka. Tampaknya para pemimpin top Partai Komunis Tiongkok telah kembali ke jalan lama kesalahan penilaian yang serius.

Meskipun sebagian besar rakyat Amerika Serikat tidak memiliki kesempatan untuk membaca artikel Xinhua tersebut, sikap Partai Komunis Tiongkok akan segera tercermin di berbagai acara internasional. AS dan negara-negara Barat pasti akan menyaksikannya. Permainan konfrontasi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok akan kembali menjadi tema utama pada 2021. Hasil tersebut sepenuhnya bergantung pada bagaimana Amerika menanggapi.

Pada saat-saat kritis dalam sejarah, setiap orang harus menentukan pilihan. Dari perspektif tren umum sejarah, bagaimana orang-orang melihat semua peristiwa yang sedang berlangsung saat ini? (vv)

Yang Wei telah mengikuti urusan Tiongkok selama bertahun-tahun. Dia telah berkontribusi dalam komentar politik tentang Tiongkok untuk Epoch Times berbahasa Mandarin sejak 2019.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular