oleh Bowen Xiao

Para ahli menilai sesuai situasi saat ini, jika Amerika Serikat bergabung kembali dengan perjanjian iklim Paris,  selain membawa manfaat perubahan lingkungan yang tidak berarti, juga akan memiliki konsekuensi berupa kehancuran ekonomi bagi Amerika Serikat

Presiden Amerika Serikat yang baru dilantik, Joe Biden pada 20 Januari 2021 menandatangani perintah eksekutif untuk bergabung kembali dengan Persetujuan Paris. Ini adalah salah satu langkah besar pertamanya sebagai presiden. Menurut peraturan Perserikatan Bangsa-Bangsa, negara-negara maju yang menandatangani perjanjian wajib “memimpin dalam memberikan bantuan keuangan kepada negara-negara dengan sumber daya yang tidak mencukupi dan lebih rentan”. Pada  saat yang sama diharapkan dapat mendorong negara-negara lain untuk memberikan sumbangan dana secara sukarela.

Nicolas Loris, wakil direktur Thomas A. Roe Institute for Economic Policy Studies of the Heritage Foundation, berpendapat bahwa meskipun persetujuan itu memiliki “niat baik”, namun, sudah sejak awal organisasi itu memiliki kekurangan di bidang keuangan dan lingkungan.

“Bagi rumah tangga dan bisnis Amerika Serikat, ini akan menjadi sangat mahal, karena 80% dari kebutuhan energi kita dipenuhi oleh bahan bakar tradisional yang mengeluarkan karbon,” kata Nicolas Loris kepada grup media Epoch Times.

“Mengatur, mengontrol, dan mensubsidi komoditas alternatif kepada mereka akan merugikan rumah tangga dan pembayar pajak AS,” tambah Loris.

Menurut Loris, karena Persetujuan Paris tidak memiliki kekuatan nyata, negara-negara berkembang justru memperoleh izin untuk melepas emisi secara bebas. Persetujuan Paris sangat mungkin gagal untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Tujuan dari Persetujuan Paris adalah membatasi kenaikan suhu global hingga kurang dari 2 derajat Celcius, lebih disukai dapat terkontrol dalam 1,5 derajat Celcius, dibandingkan dengan suhu pra-industrialisasi.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk mencapai tujuan jangka panjang ini, negara-negara berusaha untuk mencapai puncak emisi gas rumah kaca global secepat mungkin sebelum pertengahan abad ini, guna mencapai iklim netral. Pengertian iklim netral adalah perubahan suhu yang tidak mempengaruhi iklim dunia.

Pada tahun 2016, Nicolas Loris dan para ahli lainnya dalam laporan yang diberi judul “Consequences of Paris Protocol : Devastating Economic Costs, Essentially Zero Environmental Benefits” atau “Konsekuensi Protokol Paris : Biaya Ekonomi yang Menghancurkan, Manfaat Lingkungan yang Nihil”  telah memberikan penjelasan tentang dampak ekonomi yang akan dihadapi Amerika Serikat jika menjadi bagian dari Persetujuan Paris dan kecilnya pengaruh terhadap pengurangan emisi karbon global.

Nicolas Loris menegaskan bahwa perusahaan jelas akan membebankan biaya tersebut kepada para konsumen.

“Kita memperkirakan bahwa dalam 15 tahun, total kerugian untuk setiap keluarga yang terdiri dari 4 orang adalah USD. 20.000,-” kata Loris.

Menurutnya jika biaya energi meningkat, rakyat Amerika Serikat tidak hanya harus membayar lebih banyak untuk biaya pemakaian listrik dan pompa air, tetapi membeli bahan-bahan keperluan harian, atau membeli pakaian dengan harga yang lebih mahal, karena ini membutuhkan energi untuk memproduksinya.

Loris mengatakan bahwa pukulan ekonomi bagi rumah tangga akan sangat besar dan akan berdampak tidak proporsional pada masyarakat miskin, yang biaya energinya merupakan bagian terbesar dari anggaran mereka.

“Ini adalah kebijakan yang sangat-sangat mundur, bukan pendekatan yang lebih proaktif dan inovatif yang dapat membawa manfaat ekonomi dan lingkungan bagi Amerika Serikat”, ujarnya.

Loris  me nilai perjanjian itu benar-benar tidak akan bermanfaat dalam mencapai kedua tujuannya. Lebih penting lagi, dari perspektif global, itu hanya membawa penderitaan ekonomi dan tidak ada keuntungan nyata bagi perubahan iklim”.

Hal senada diungkapkan oleh Anthony Watts, peneliti senior di bidang lingkungan dan iklim dari Heartland Institute. Menurutnya  dari analisis pihaknya, perjanjian tersebut akan menyebabkan Amerika Serikat mengalami penyusutan beberapa industri dan kehilangan sekitar 2,7 juta pekerjaan pada tahun 2025. 

“Saat ini, kita akan kehilangan sekitar 440.000 kesempatan kerja di industri manufaktur,” kata Anthony Watts.

Amerika Serikat secara resmi menarik diri dari Persetujuan Paris pada bulan November 2020. Trump mengkritik dampak negatif perjanjian tersebut terhadap ekonomi Amerika Serikat . Trump  menunjukkan bahwa beberapa negara lain justru tidak diminta untuk memenuhi standar yang sama.

“Menurut perjanjian tersebut, Tiongkok akan dapat terus meningkatkan pelepasan emisi yang mencengangkan selama 13 tahun ke depan, Mereka dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan dalam 13 tahun ke depan, tetapi kita tidak dapat …. Belum lagi contoh-contoh lainnya” tambah Trump.

Menurut data “Climate Action Tracker”, Tiongkok adalah investor dan pembangun infrastruktur energi berbahan bakar fosil dan energi terbarukan terbesar di dunia. Tiongkok juga merupakan penghasil dan pelepas karbon dioksida terbanyak di dunia.

Para pendukung Persetujuan Paris menyatakan penghargaan atas tindakan pemerintahan Biden.

Heather Zichal, CEO American Clean Energy Association dalam sebuah pernyataannya menyatakan, bahwa  pemulihan ekonomi dan pemberantasan perubahan iklim saling melengkapi satu sama lain, dan Presiden Biden telah menjadikan isu-isu kunci ini sebagai salah satu prioritas utamanya ketika dia menjabat. 

“Agar dunia dapat mengatasi tantangan ini, negara kita harus melakukan lebih dari sekedar berperan, kita harus memainkan peran kepemimpinan,” tulis Heather. 

Menurutnya, industri energi bersih Amerika Serikat siap untuk berinvestasi di masyarakat dan tenaga kerja Amerika. Kita harus bekerja sama untuk mencapai masa depan yang lebih sejahtera dan rendah karbon.

Pada saat yang sama, pemimpin Senat Republik Mitch McConnell mengatakan bahwa langkah Biden merupakan langkah ke arah yang salah. Menurutnya  Amerika Serikat telah mengurangi emisi karbon, sedangkan Tiongkok dan negara-negara lain yang bergabung dalam perjanjian tersebut justru terus meningkatkan emisi karbon.

“Presiden bergabung kembali dengan perjanjian iklim yang gagal itu. Ini adalah perjanjian yang mengerikan. Itu akan menyebabkan keluarga-keluarga AS kami yang mandiri menderita kerugian ekonomi yang sangat besar dan tidak ada jaminan bahwa Tiongkok atau Rusia akan memenuhi janji mereka”, kata McConnell pada 21 Januari 2021 yang lalu. (sin)

Share

Video Popular