oleh Luo Tingting

Media Hongkong ‘South China Morning Post’ pada 24 Januari 2021, mengutip berita dari sumber terpercaya memberitakan bahwa akan ada kenaikan gaji sebesar 40% bagi perwira militer komunis Tiongkok. Penerima manfaat terbesar dari kenaikan gaji ini adalah perwira militer  yang ditempatkan di perbatasan Tibet, Xinjiang, Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan.

Seorang perwira berpangkat kolonel di Beijing yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan, bahwa kenaikan gaji akan memungkinkan dirinya mendapatkan penghasilan tambahan hingga RMB. 7.000,-, sehingga pendapatan bulanannya akan menjadi RMB. 20.000,- lebih. Namun, belum jelas kapan kebijakan penyesuaian gaji akan diterapkan, tetapi ia yakin tidak akan lama.

Pensiunan perwira militer lainnya mengatakan bahwa, pensiunan personel militer juga akan menerima tambahan uang pensiunan, itu sesuai dengan lamanya dinas yang bersangkutan. Namun, dia secara blak-blakan mengatakan bahwa baik perwira militer aktif maupun pensiunan merasa khawatir dengan kurangnya transparansi dalam kebijakan pihak berwenang.

Ada analis yang berpendapat bahwa rencana Xi Jinping menaikkan gaji yang cukup tinggi kepada para perwira militer kali ini, karena Xi ingin menarik simpati dari militer komunis Tiongkok. Yang paling dibutuhkan Xi pada saat ini tidak lain adalah stabilitas, untuk memastikan dirinya dapat terus menjabat kedudukan kepala negara pada pemilihan tahun 2022.

Belakangan ini, Xi Jinping berulang kali meneriakkan slogan siap perang dengan tujuan untuk mempertontonkan baik ke masyarakat, dalam maupun luar negeri bahwa ia memegang kendali militer komunis Tiongkok. Selain memperkuat militer untuk mempertahankan inti Xi. Namun, ada laporan yang menunjukkan bahwa banyak perwira militer yang tidak puas dengan Xi Jinping dan mengatakan bahwa militer belum seiya sekata dengan Xi Jinping.

Artikel tulisan komentator Zheng Zhongyuan sebelumnya pernah menunjukkan bahwa meskipun Xi Jinping telah berulang kali meneriakkan perlunya militer setia kepada negara, namun belum sepenuhnya kesetiaan dapat diperoleh karena faktor korupsi dan masalah belum adanya seiya sekata dalam militer komunis Tiongkok.

Xue Chi, seorang ahli di bidang urusan Tiongkok juga mengatakan bahwa korupsi masih marak terjadi dalam militer komunis Tiongkok, sehingga seluruh pasukan menjadi berantakan. Meskipun para perwira senior dan jenderal tentara telah dibersihkan oleh Xi Jinping, namun apakah orang-orang pengganti yang baru dipromosikan ini seiya sekata dengan Xi Jinping ? Masih tanda tanya besar.

Wang Juntao Ph.D dari Universitas Columbia yang ayahnya seorang perwira tinggi komunis Tiongkok, sehingga sejak kecil ia belajar di sekolahan militer komunis Tiongkok, kepada ‘Epoch Times’ mengatakan, bahwa nyaris semua jenderal militer yang dapat berperang merasa tidak puas dengan kinerja Xi Jinping. Xi sekarang tidak berani mendelegasikan kepada bawahan komando mengenai penggunaan senjata karena takut terjadi kudeta militer.

“Xi Jinping sekarang mengandalkan kesetiaan politik, dan menggeser mereka yang tidak setia atau tidak patuh kepadanya. Orang-orang tersebut ada yang saya kenal baik secara langsung maupun tidak, dan mereka itu sangat marah”, kata Wang Juntao.

Kekacauan politik komunis Tiongkok menjadi tontonan bagi perwira militer

Xi Jinping pada awal tahun baru ini telah menandatangani Perintah No.1 dari Komite Militer, yang isinya menghendaki seluruh militer memastikan kesiapan menghadapi perang setiap saat. Ada analis yang mengungkapkan bahwa slogan baru ini nyaris tidak pernah didengungkan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa para pemimpin senior di Zhongnanhai sudah merasa tidak optimis dengan situasi yang dihadapi saat ini baik yang terjadi di dalam maupun luar negeri, sehingga mereka terpaksa merencanakan alternatif terburuknya.

Saat ini, ketegangan di perbatasan antara Tiongkok dengan India masih belum mereda, dan suasana konfrontasi militer di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan masih mencekam. Pada hari ketiga Presiden Biden menjabat (23 Januari), komunis Tiongkok mengirim 13 pesawat militer untuk memasuki wilayah udara zona identifikasi pertahanan udara Taiwan, yang kemudian menimbulkan perhatian tinggi dari pihak Amerika Serikat.

Kapal induk AS ‘USS. Theodore Roosevelt’ memimpin sekelompok armada serang memasuki Laut Tiongkok Selatan pada 24 Januari. Terlihat jelas keinginannya untuk menekan perilaku menggertak dari komunis Tiongkok.

Analis percaya bahwa penekanan Xi Jinping kepada militer komunis Tiongkok agar siap berperang selain untuk ditunjukkan kepada komunitas internasional, tetapi pada dasarnya adalah untuk mengingatkan masyarakat di dalam negeri bahwa dirinyalah pemegang kekuatan militer, selain untuk menekan sejumlah kekuatan dalam partai yang masih anti dirinya.

Saat ini, rezim komunis Tiongkok sedang menghadapi kesulitan baik yang datang dari luar maupun dalam. Pertumbuhan ekonomi mengalami kemerosotan yang mengerikan. Gelombang epidemi telah membuat para petinggi di Zhongnanhai panik. Selain itu, kekuatan anti-Xi terus memanfaatkan kekacauan tersebut. Karena itu, Xi Jinping terpaksa terus memamerkan kekuatan militernya untuk memastikan bahwa dirinyalah yang menjadi inti dari pemerintahan komunis Tiongkok.

Namun, mantan letnan kolonel Komando Angkatan Laut Tiongkok Yao Cheng sebelumnya pernah menyatakan bahwa, masalah yang muncul di internal militer komunis Tiongkok sangat serius. Militer tidak berjalan seirama dengan Xi Jinping, alias tidak seiya sekata. Apalagi situasi politik sedang kacau, sehingga para perwira militer senior tidak berani memihak, mereka hanya menjadi penonton untuk menyaksikan bagaimana situasi akan berkembang. (sin)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular