oleh Li Zhaoxi

Seorang jurnalis dan penulis terkenal Andy Ngo  terpaksa meninggalkan Amerika Serikat karena berulang kali mendapat ancaman pembunuhan dari organisasi ekstremis ‘Antifa’. Dia kemudian menetap di London, Inggris. Ia pada hari Sabtu 23 Januari lalu, mengatakan bahwa dirinya terpaksa meninggalkan Amerika Serikat dan menetap di London, Inggris sekarang.

Saat wawancara dengan Sky News, Andy Ngo menggambarkan ancaman pembunuhan yang berulang kali ia terima dari Antifa sehingga terpaksa melarikan diri dari kampung halamannya di Kota Portland, Amerika Serikat.  

Sejak meletusnya kerusuhan di Amerika Serikat pada musim panas tahun 2020 lalu, Portland telah menjadi salah satu kota besar yang dihasut oleh organisasi ultra-kiri Antifa. Banyak gedung federal di kota tersebut  dikepung dan dirusak.

“Kampung halaman saya Portland, Oregon, adalah pusat kerusuhan yang diorganisir oleh Antifa Amerika Serikat. Tetapi semua politisi yang dengan bersemangat mengutuk kerusuhan yang terjadi di Capitol pada 6 Januari, justru memilih diam ketika kota saya benar-benar dikepung pada tahun lalu,” kata Andy Ngo.

Andy Ngo mengatakan bahwa hal yang memperburuk keadaan adalah, mereka menggalang dana agar para perusuh dapat keluar dari penjara secepat mungkin.

“Dalam beberapa bulan terakhir, semakin banyak ancaman kekerasan terhadap diri saya.  Antifa mengancam akan membunuh saya,” tambahnya. Menurut Andy Ngo, otoritas penegak hukum setempat, tidak mengambil tindakan apa pun bahkan jika dia memberikan nama tersangka kepada mereka.

“Itu membuat saya sangat sakit hati dan harus sementara meninggalkan negara tempat orang tua saya mengungsi, dan mereka datang ke sana sebagai pengungsi politik”, tambah Andy. 

Orang tua Andy Ngo melarikan diri dari Vietnam ke Amerika Serikat  tahun 1978, dan sekarang  telah menjadi pengungsi politik dan melarikan diri ke London.

Setelah diserang oleh kelompok Antifa pada tahun 2019, popularitas Andy Ngo semakin meningkat. Dalam serangan tersebut, Andy dipukul, dirampok dan dirawat di rumah sakit karena luka di otak. 

Namun orang-orang yang terlibat dalam penyerangan itu tidak satupun ditangkap, meskipun mereka tertangkap kamera dari berbagai sudut. Bahkan pengacara Andy Ngo juga memberikan nama-nama pelaku serangan kepada pihak kepolisian, namun tak ada tindakan.

Buku berjudul ‘Unmasked’ tulisan Andy Ngo dalam waktu dekat akan diterbitkan. Kebencian Antifa terhadap dirinya semakin meningkat. Buku tersebut mencatat sejarah kekerasan Antifa dan rencana radikalnya untuk menghancurkan demokrasi.

Di awal bulan ini, toko buku independen terbesar di dunia ‘Powell’s City of Books’ yang berada di Kota Portland menjadi sasaran serangan Antifa yang menolak toko buku tersebut memajang monograf Andy Ngo di rak bukunya. 

Unjuk rasa di luar toko buku di Portland berlangsung setidaknya seminggu dan terkadang disertai kekerasan, memaksa pengecer besar untuk menutup pintunya lebih awal dan mengevakuasi karyawan serta pelanggannya lewat pintu belakang.

“Kerusuhan Portland lebih parah lagi pada hari pelantikan Biden. Menyebabkan 15 orang anggota Antifa ditangkap dan hampir setengah dari mereka dibebaskan setelah ditangkap karena kejahatan serupa tahun lalu. Ini adalah versi mimpi buruk dari Groundhog Day,” kata Andy Ngo.

Andy Ngo dikenal karena membongkar penipuan media dan melaporkan kerusuhan Portland. Meskipun dia dimusuhi banyak orang karena mempertahankan hal yang benar dalam bekerja, namun rekan-rekannya memuji keberanian dan ketekunannya. 

Terkait perginya Andy Ngo ke London, penulis Julia Smith berkomentar, “Sangat sedih mendengar berita tersebut. Mungkin ini bukan Amerika Serikat yang diidamkan oleh orang tuanya”. (sin)

Share

Video Popular