oleh Jennifer Lahl

Presiden Joe Biden menandatangani 17 perintah eksekutif  pada hari pertamanya di Gedung Putih. Seperti yang dijanjikan, Joe Biden menandatangani perintah eksekutif mengenai Mencegah dan Membasmi Diskriminasi atas Dasar Identitas Gender atau Orientasi Seksual. 

Hal ini seharusnya tidak mengejutkan, karena Joe Biden berkampanye mengenai Undang-Undang Kesetaraan dalam 100 hari pertama ia menjabat sebagai presiden. Joe Biden tidak membuang waktu.

Perintah eksekutif ini membuat penulis dan banyak wanita rekannya sangat marah, kebanyakan karena hal ini disodorkan kepada masyarakat melalui perintah otoritatif. Lupakan proses demokrasi. 

Lupakan keuntungan-keuntungan yang telah diperjuangkan dan dimenangkan oleh wanita selama beberapa dekade terakhir. 

Keuntungan-keuntungan seperti kesempatan kerja yang setara dan keuntungan-keuntungan dari kemenangan Title IX untuk kesempatan yang sama dalam pendidikan dan olahraga.

Untuk diketahui, Title IX adalah undang-undang hak-hak sipil federal di Amerika Serikat yang disahkan sebagai bagian dari Amandemen Pendidikan tahun 1972. UU Ini melarang diskriminasi berbasis jenis kelamin di sekolah atau program pendidikan lain yang menerima uang federal.

Dari perintah eksekutif itu berbunyi:

“Anak-anak harus dapat belajar tanpa khawatir apakah mereka akan ditolak akses ke kamar kecil, ruang ganti, atau olahraga sekolah. Orang dewasa harus mampu mencari nafkah dan mengejar pekerjaan dengan mengetahui bahwa mereka akan  tidak dipecat, diturunkan pangkatnya, atau dianiaya karena   mereka pulang ke rumah siapa, atau karena cara mereka berpakaian tidak sesuai dengan stereotip berbasis-seks. Orang-orang harus dapat mengakses perawatan kesehatan dan mengamankan sebuah tempat berteduh tanpa menjadi sasaran diskriminasi seks. Semua orang harus menerima perlakuan yang sama di bawah hukum, tidak peduli identitas gender atau orientasi seksualnya.”

Untuk semua pembicaraan Joe Biden mengenai perlunya kita mengikuti ilmu pengetahuan, Joe Biden menggagalkan standarnya sendiri dengan menggabungkan gender dan seks. Seks adalah realitas material laki-laki atau perempuan. Manusia adalah makhluk yang dimorfik secara seksual, dan seks itu adalah ciri yang tetap; seks tidak dapat diubah.

Tentunya ada beberapa nuansa kecil seperti saat  seorang anak dilahirkan dengan adanya penyimpangan yang langka seperti alat kelamin ambigu, atau Sindrom Turner, atau Sindrom Klinefelter, tetapi itu masing-masing mutasi dari biner laki-laki-perempuan; mereka bukan merupakan seks tambahan.

Di sisi lain, gender tidak ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Ini adalah suatu cara yang dibangun secara sosial untuk mengkategorikan cara orang menampilkan seks miliknya melalui fashion, tingkah laku, dan aktivitas. 

Kita cenderung membelikan boneka untuk gadis kecil dan mainan truk kecil untuk anak laki-laki. Banyak dari kita mengenal gadis kecil yang akan dianggap tomboi, itu jika kita melihat gadis kecil tersebut memanjat pohon, bermain tentara-tentaraan, atau lebih memilih sepak bola daripada balet. Demikian pula, ada anak laki-laki yang lebih menyukai hal-hal yang feminin dan tidak terlalu tertarik pada olahraga kontak fisik yang kasar dan yang berguling-guling.

Dalam bahasa perintah eksekutif ini, Joe Biden berpendapat bahwa laki-laki biologis harus mampu menggunakan kamar mandi perempuan dan bermain di tim olahraga perempuan jika laki-laki biologis tersebut diidentifikasi sebagai anak  perempuan. Dan, laki-laki biologis, jika ia mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan, harus mampu mengejar peluang kerja yang secara historis dibatasi secara seks untuk perempuan.

Jadi, misalnya, jika anda memiliki usaha sebuah pusat kesehatan perempuan atau memiliki usaha sebuah tempat perlindungan bagi perempuan yang menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga, anda dapat dipaksa untuk mempekerjakan seorang laki-laki yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang perempuan. Anda juga dapat dipaksa untuk merawat waria di pusat kesehatan perempuan milik anda dan bagi perempuan yang menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga milik anda.

Anda dapat membayangkan betapa tidak amannya pasien atau klien anda, yang mungkin merasa dirawat oleh seseorang yang jelas-jelas adalah seorang laki-laki, tidak peduli bagaimana ia berpakaian atau apa namanya. Jika anda pernah mengalami kekerasan di tangan pasangan laki-laki, anda dapat membayangkan betapa takutnya perempuan yang ingin tidur di malam hari, karena mengetahui seorang laki-laki berada di dekatnya.

Joe Biden berniat bisnis dengan adanya perintah eksekutif ini:

“Adalah kebijakan Pemerintahan saya untuk mencegah dan membasmi diskriminasi atas dasar identitas gender atau orientasi seksual, dan untuk menegakkan Title VII  sepenuhnya dan undang-undang lain yang melarang diskriminasi atas dasar  identitas gender atau orientasi seksual. Ini juga merupakan kebijakan Administrasi saya untuk mengatasi bentuk diskriminasi yang tumpang tindih.”

Title VII, juga disebut sebagai Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964, disahkan untuk  melarang diskriminasi kerja berdasarkan ras, warna kulit, agama, seks, dan asal kebangsaan. Semua hal yang sangat baik dan perlu di suatu waktu yang penting dalam sejarah Amerika Serikat.

Tetapi penambahan gender atau identitas gender juga sangat problematis, karena hal tersebut akan memberi hak istimewa bagi pria atas wanita dan memberi hak istimewa bagi anak laki-laki atas anak perempuan. 

Identitas gender membuat perlindungan berbasis-seks batal demi hukum, menggantikannya dengan apa  pada dasarnya tidak lebih dari perlindungan untuk stereotip peran-seks.

Ini bukanlah kesetaraan. Ini mengesahkan diskriminasi perempuan terhadap laki-laki yang ingin memaksa anda untuk memperlakukan laki-laki sebagai perempuan. Saya dapat melihat banyak tuntutan hukum di masa mendatang.

Opini ini adalah tulisan dari Jennifer Lahl seorang pendiri dan presiden Center for Bioethics and Culture dan produser film dokumenter, “Eggsploitation,” “Anonymous Father’s Day,” “Breeders: A Subclass of Women?” dan “Maggie’s Story”, dan “#BigFertility”, yang merupakan pilihan resmi di Festival Film Internasional Silicon Valley. Dia kembali ke belakang kamera lagi, memproduksi film tentang etika yang memungkinkan anak-anak melakukan transisi medis dan pembedahan

Video Rekomendasi :

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular