Selama ini, masyarakat dunia sangat ingin tahu tentang Mars, planet merah ini. Sejak satu abad lalu, film dengan latar belakang Mars mulai bermunculan. Setelah itu, baik di film, novel, atau bahkan drama radio, kita bisa melihat gambaran tentang eksistensi kehidupan makhluk luar angkasa di Mars. 

Belum lama ini, para ilmuwan tidak hanya mengakui bahwa di masa lalu, Mars diketahui mengandung air dan bahkan sekarang menemukan danau dengan endapan cairan di dasar Mars. 

Selain itu, Mars juga memiliki atmosfer yang tipis. 95% di antaranya adalah karbon dioksida, hanya 0,13% kandungan oksigen. Meski demikian, hal itu cukup membuat banyak ilmuwan yakin bahwa Mars bisa menjadi rumah kedua umat manusia. Imigrasi ke Mars bukan lagi hanya sebuah film fiksi ilmiah tapi sebuah program yang bisa diwujudkan. 

Mengapa imigrasi ke Mars? 

Mungkin ada yang pernah menyaksikan beberapa film fiksi tentang kiamat.  Sebenarnya, banyak hipotesis tentang akhir dunia. Berikut ini mata ketiga akan mengupas dua di antaranya.

Pertama, adalah anomali iklim global, yakin kalian tidak asing lagi dengan istilah ini. Padahal, masalah kelainan iklim global ini memang sangat serius! Misalnya, suatu hari di bulan Juni tahun  2020, suhu di Prancis mencapai rekor tertinggi 45,9 derajat. Suhu di Prancis hari itu bahkan melampaui suhu di Gurun Sahara. 

Pada bulan yang sama tahun 2020, Meksiko, yang saat itu musim panas, mengalami hujan es di bawah suhu tinggi 30 derajat. Dan yang lebih membingungkan lagi adalah curah hujan es saat itu berubah menjadi banjir yang menyapu mobil-mobil yang ditemuinya. 

Sementara di Yunani, yang biasanya sangat kering di musim panas juga dilanda badai hebat pada tahun yang sama. 

Contoh peristiwa di atas hanya sebagian kecil dari iklim abnormal tahun lalu. Faktor yang menyebabkan semua itu adalah akibat dari pemanasan global yang terus berlanjut.

Para ahli memperkirakan jika hal itu terus berlanjut, manusia akan kehilangan sebagian besar lahan pertanian. Sebenarnya, kondisi aktualnya saat ini sudah memprihatinkan, karena para ahli memperkirakan bahwa meskipun dunia sekarang bekerja sama untuk mengurangi emisi karbon, namun masih ada sepertiga kemungkinan suhu bumi akan meningkat lebih dari 3 derajat. Peningkatan suhu tiga derajat akan menyebabkan sebagian negara dengan dataran rendah tenggelam, dan yang lebih serius lagi adalah akhir dunia. Sehubungan dengan ini, Perserikatan Bangsa Bangsa/ PBB telah mengeluarkan peringatan bahwa suhu global akan melampaui ambang batas 1,5 derajat pada tahun 2030.

Hipotesis kedua akhir dunia adalah letusan gunung berapi super. Ada lebih dari 20 gunung berapi super di dunia. Sebelumnya selalu dilaporkan media bahwa gunung berapi di Taman Nasional Yellowstone Amerika Serikat telah memasuki masa aktif dan sewaktu-waktu akan meletus. Dari cadangan magmanya saja dapat memenuhi 14 Taman Nasional Grand Canyon, Arizona, Amerika Serikat. Banyak ilmuwan yang khawatir jika benar-benar meletus kemungkinan dapat menyebabkan bencana global.

Begitu meletus, gas asam sulfat dan abu vulkanik akan menutupi dunia dalam dua minggu ke depan. Matahari tidak dapat mencapai permukaan bumi, suhu global akan turun lebih dari sepuluh derajat, dan di sekitar khatulistiwa mungkin akan dipenuhi salju. Sebagian besar makhluk hidup akan mati kedinginan dan kelaparan. Selain itu juga besar kemungkinan akan menyebabkan kehancuran Amerika Serikat dan bahkan dunia.

Tentu saja, ada sarjana yang memiliki pandangan berbeda tentang kehancuran dunia, mungkin faktanya baru akan diketahui bila tiba saatnya. 

Selain kehancuran seperti tersebut di atas, ada kehancuran lain seperti Perang Dunia 3, asteroid menghantam bumi, populasi bumi yang berlebihan dan sumber makanan yang tidak mencukupi dan sebagainya. Hal ini mendorong manusia untuk mencari planet kedua di alam semesta yang cocok untuk kehidupan, dan kondisi Mars yang disebutkan menjadikannya sebagai pilihan terbaik saat ini bagi umat manusia. 

SpaceX 

Sebelum hadirnya SpaceX, bisa dikatakan hampir tidak ada perusahaan swasta yang meluncurkan proyek transportasi antariksa. Proyek ini dimonopoli oleh lembaga pemerintah sejumlah negara, dan sejak Apollo 17 mendarat di bulan pada tahun 1972, manusia belum pernah lagi menginjakkan kakinya di planet mana pun selama lebih dari 47 tahun. Pernyataan resmi dikarenakan dana yang tidak mencukupi, namun ada beberapa alasan lainnya. 

SpaceX didirikan pada tahun 2002 merupakan perusahaan transportasi luar angkasa swasta yang didirikan oleh pengusaha tajir Elon Musk, yang juga merupakan pendiri mobil listrik Tesla.

SpaceX didirikan untuk menekan biaya transportasi ke luar angkasa. Mewujudkan harapan bagi warga sipil agar bisa pergi ke luar angkasa dan pindah ke Mars. 

Awalnya, Musk ingin membeli roket dari Rusia, namun dia menyerah karena harganya yang terlalu mahal. Dalam perjalanan kembali ke Amerika Serikat, tiba-tiba terlintas dalam benak Musk mengapa tidak membuat roket sendiri.

Dia pun menghitung sejenak, dan mendapati harga bahan baku pembuatan roket hanya 3% dari harga jual roket. Musk, yang merasa Rusia meraup banyak keuntungan, kemudian segera memutuskan lebih baik meraup sendiri keuntungan itu. Setelah SpaceX didirikan, 85% peralatan peluncuran roket dan modul perangkat lunak diproduksi sendiri melalui integrasi vertikal.

 SpaceX dapat menekan harga untuk sekali peluncuran roket menjadi sepersepuluh dan masih memiliki margin laba kotor sekitar 70%! Tapi semua ini tidak berjalan mulus pada awalnya, namun Musk tidak menyerah, bagaimanapun ia harus mencapai tujuan akhir kolonisasinya. 

Kunci yang paling penting adalah kemungkinan roket daur ulang yang bisa menekan biaya perjalanan ke luar angkasa, tetapi untuk penggunaan kembali roket harus diluncurkan terlebih dahulu, karena itu Musk menginvestasikan semua dananya untuk meneliti Falcon 1, tetapi dia tidak menyangka Falcon 1 akan gagal dalam tiga peluncuran berturut-turut. 

Untungnya, peluncuran keempat di tahun 2008 akhirnya berhasil. Setelah berhasil meluncurkan roket. Tantangan selanjutnya adalah penggunaan kembali roket yang diluncurkan.

Kesulitan pada roket daur ulang adalah ketika roket memasuki atmosfer bumi dari luar angkasa. Roket harus dinyalakan dalam aliran udara supersonik untuk mengembalikan kecepatan ke nol sebelum mendarat! 

Banyak ahli yang mengatakan bahwa penggunaan kembali roket jauh lebih sulit daripada meluncurkan. Bisa dibayangkan, pada awal penggunaan kembali juga mengalami banyak ledakan dan kegagalan. 

Sampai pada Desember 2015 Falcon 9 akhirnya berhasil digunakan kembali dan berhasil mendarat! Dapat dikatakan, SpaceX merupakan perusahaan yang tumbuh dan berkembang pesat dalam ledakan sejak didirikan. Setiap terjadi ledakan pada roket, Musk dan timnya selalu meninjau ulang dan memperbaiki kesalahan, tidak pernah menyerah. Melihat roket spaceX menjadi semakin matang dan stabil, Musk akhirnya mengumumkan pada tahun  2016 bahwa tahun 2024 mendatang akan membawa manusia ke Mars, dan secara resmi meluncurkan rencana kolonisasi Mars.  

Kolonisasi Mars 

Nah pemirsa, proyek penjajahan Mars telah resmi dimulai! Jika berhasil, maka akan membuka sejarah baru bagi umat manusia. Untuk memastikan manusia dapat menginjakkan kaki di Mars pada tahun 2024 mendatang, SpaceX akan meluncurkan dulu dua roket Falcon yang membawa beberapa perangkat penting ke Mars pada tahun 2022. 

Perangkat ini mencakup beberapa peralatan pembangkit listrik, seperti panel surya, untuk memastikan ketersediaan daya yang cukup selama di Mars. Tentu saja, juga termasuk beberapa astronot, atau sarana penunjang kehidupan astronot, dan yang terpenting adalah beberapa mesin penambangan. Mesin-mesin ini akan mencairkan oksigen dan metana menjadi bahan bakar setelah melalui proses yang disebut Sabatier. Bahan bakar ini akan digunakan sebagai sumber tenaga saat kembali ke Bumi.

Jika pra-rencana ini berhasil dilaksanakan, kelompok pertama yang terbang ke Mars akan berangkat pada tahun 2024. Sebelumnya, 4 roket akan diluncurkan lebih dulu, 2 roket akan membawa kru, dan 2 roket lainnya akan membawa mesin. 

Ketika Falcon tiba di atas bumi setelah lepas landas, mesin pendorong akan terpisah dari modul pendaratan dan kembali ke Bumi setelah menyesuaikan arah. Tidak lama setelah kembali ke Bumi, roket akan diluncurkan kembali untuk bergabung dengan modul pendaratan. Membantu mengisi bahan bakar modul pendaratan ke Mars. Setelah pengisian bahan bakar, panel surya di bagian belakang modul pendaratan akan terbuka dan mulai bergerak menuju Mars dengan kecepatan 100.800 per jam. Setelah berhasil mencapai Mars, mereka akan tinggal di Mars selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Namun, secara detailnya tergantung rencana saat itu.

Salah satu tujuan terpenting dari kelompok ini adalah membangun stasiun pendukung untuk pangkalan di Mars. Mereka akan membangun rumah kaca untuk mencoba menanam tanaman yang bisa dimakan. Karena tipisnya atmosfer di Mars dan penuh radiasi serta iklim yang ekstrim. Mereka mungkin juga akan mencoba membangun pangkalan bawah tanah. Hal ini sudah disiapkan Musk sejak lama dilihat dari perusahaan eksplorasi bawah tanah miliknya. 

Tetapi… mungkin ada sebagian orang mengira imigrasi Mars hanya omong kosong belaka.

Namun, asal tahu saja, sebelum Wright bersaudara menemukan dan membuat pesawat terbang untuk manusia pada tahun 1903, mereka juga diejek dan menjadi bahan tertawaan ketika itu, tetapi mereka akhirnya membuktikan diri dengan tekad mereka. 

Demikian juga Elon Musk. Dia juga sering diejek sebelum mendirikan SpaceX. Banyak yang menyaksian kenaifannya, tapi dia tidak peduli. Faktanya, dia berulang kali membuktikan dirinya dengan hasil yang dicapainya. Kasus-kasus seperti itu terus bermunculan dalam sejarah. Lalu apakah Anda masih 100% yakin bahwa imigrasi Mars itu tak lebih dari mimpi di siang bolong ?

SpaceX Elon Musk akan memimpin umat manusia untuk mewujudkan mimpi selama ini. Jadi  apakah Anda sudah siap untuk pindah ke Mars?

Sumber : berbagaisumber

Video Rekomendasi :

Share
Tag: Kategori: ASTRONOMI SAINS

Video Popular