Wang He

Upaya pencegahan pandemi Partai  Komunis Tiongkok belum menyelamatkan banyak orang. Sebaliknya, upaya-upaya tersebut telah menyebabkan bencana yang luar biasa untuk mata pencaharian orang-orang dan sebuah krisis bagi kemanusiaan. 

Setahun yang lalu, seorang wanita penulis Tiongkok Fang Fang secara fakta mencatat lockdown Wuhan dalam tulisannya, bersama dengan tirani, barbarisme, dan kekejaman atas apa yang terjadi. Selama setahun terakhir, siasat-siasat militan rezim komunis Tiongkok dalam upaya memberantas epidemi masih menyebabkan kerugian di seluruh Tiongkok. 

Berikut ini adalah beberapa di antara kasus-kasus yang diketahui :

Sejak tanggal 21 Januari, kota Tonghua di Provinsi Jilin menerapkan tindakan-tindakan yang ketat untuk menutup masyarakat kota Tonghua. Tidak ada penduduk yang diizinkan keluar dan semua pasokan dikirim ke pintu-pintu orang-orang. 

Para penduduk melaporkan bahwa pemerintah setempat tidak mampu dan distribusi makanan adalah tidak adil. Beberapa orang mendapat berbagai macam sayuran, sementara orang-orang yang lain hanya mendapat mi instan.

Walikota Tonghua, Li Ping secara terbuka mengaku di televisi yang dikelola pemerintah pada tanggal 25 Januari bahwa 110.000 penduduk di distrik Dongchang, kota Tonghua dikarantina dan 34 persen penduduk tersebut tidak mendapat pasokan-pasokan yang dikirim. Lockdown yang mendadak telah menempatkan penduduk setempat dalam situasi yang mengerikan.

Baru-baru ini, Komunis Tiongkok mengumumkan 10 daerah yang berisiko-tinggi dan lebih dari 60 daerah yang berisiko-menengah di seluruh Tiongkok, dan semua daerah-daerah tersebut telah mengadopsi bentuk “masa perang.” 

Kasus-kasus yang disebutkan di atas bukanlah insiden yang terisolasi. Kekacauan yang ditunjukkan daerah-daerah tersebut, telah menjadi hal biasa di Tiongkok selama pandemi.

Seperti yang kita semua ketahui, tindakan-tindakan “anti-epidemi” Komunis Tiongkok lebih memilih lockdown dan sebuah “pendekatan masa perang.” 

Keputusan ini tidak berdasarkan pada alasan ilmiah yang teliti; melainkan, adalah langkah-langkah yang memenuhi tuntutan Partai Komunis Tiongkok untuk kekuasaan yang kekal — diwujudkan dengan sebuah filosofi “politik pertama, stabilitas kedua.” 

Mandat Partai Komunis Tiongkok untuk mengisolasi penduduk, seringkali dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa rencana bagi orang-orang untuk mempertahankan mata pencahariannya. Bahkan, tidak ada diagnosis cepat dan perawatan medis yang sesuai untuk penduduk yang terinfeksi, dan tidak infrastruktur untuk memastikan kebutuhan dasar akan dikirimkan secara tepat waktu. Setiap orang dibiarkan berjuang sendiri. Partai Komunis Tiongkok tanpa malu-malu menyebut tindakan kekerasannya, “dengan mempertimbangkan  situasi keseluruhan.”

Faktanya, tindakan-tindakan ini mungkin hanya ada di Tiongkok. Tindakan-tindakan ini tidak “anti-epidemi”; tindakan-tindakan ini adalah berbahaya. Misalnya, pintu-pintu yang dilas (untuk orang-orang yang dikarantina), antrian panjang, dan fasilitas seadanya yang jelek di mana Partai Komunis Tiongkok sebenarnya memaksakan peningkatan risiko infeksi-silang. 

Partai Komunis Tiongkok sedang membunuh orang-orang “atas nama memerangi epidemi”.

Mengenai propaganda palsu dan argumen palsu yang diadopsi oleh upaya-upaya “anti-epidemi” Partai Komunis Tiongkok, pertimbangkan kasus berikut.

Seorang pria tua bermarga Cao pergi membeli rokok di desa Nanying, distrik Gaocheng, kota Shijiazhuang, Provinsi Hebei. Di bawah arahan Yan Mou, Sekretaris Partai Komunis Tiongkok di desa Nanying, dua pekerja “rompi merah” (relawan yang menegakkan aturan anti-epidemi di masyarakat) memaksa pria tua itu untuk kembali dan mengikat tangannya ke sebuah pohon. Rompi merah itu berteriak, “Ikat dengan erat,” dan “Jika anda keluar lagi, saya akan membunuh anda.”

Sejauh ini, kita tidak tahu berapa banyak orang yang telah meninggal selama 76 hari saat Wuhan diisolasi tahun lalu. Dan, kita tidak tahu berapa banyak orang yang sangat memohon bantuan karena kebijakan “mode masa perang” yang kejam di seluruh Tiongkok. Kita mungkin tidak pernah tahu yang sebenarnya.

Namun, ada sejarah untuk dipelajari.

Semua orang tahu bahwa kampanye Lompatan Jauh ke Depan yang dimulai pada tahun 1958, menyebabkan kelaparan besar di seluruh Tiongkok. Puluhan juta orang kelaparan sampai tewas.

Bagaimana Partai Komunis Tiongkok melakukan ini? Partai Komunis Tiongkok memblokir informasi dan mencegah orang-orang meninggalkan daerah setempatnya. Mari kita lihat apa yang terjadi di kota Xinyang, Provinsi Henan.

Pada saat itu, orang-orang mati kelaparan di mana-mana di daerah Xinyang. Ada 200 kasus kanibalisme yang tercatat secara resmi di wilayah Gushi.

Ada kekhawatiran, jika orang-orang mengungsi dari daerah itu, maka akan lebih banyak kasus kanibalisme yang terjadi. Oleh karena itu, Komite Partai Komunis Tiongkok kota Xinyang, menginstruksikan semua kabupaten dan kota untuk menyiapkan penjaga dan menghentikan penduduk melarikan diri. Para penjaga keamanan desa menempatkan penjaga di persimpangan, penyeberangan di Sungai Huai dikendalikan dengan ketat, mencegat orang-orang yang melarikan diri, dan menangkap orang-orang dengan sesuka hati. Semua uang dan pakaian disita, dan orang-orang yang berupaya melarikan diri dipukuli dengan kejam.

Banyak orang mati kelaparan, meninggal dunia karena sakit, atau dipukuli sampai mati. Pada bulan November 1959, Sekretaris Partai Komunis Tiongkok kota Xinyang, Lu Xianwen tidak peduli pada mayat-mayat di pinggir jalan, orang-orang yang mendekati mobil untuk mencari makanan, atau anak-anak terlantar yang ia temui dalam perjalanan ke Xinyang. 

Lu Xianwen terus-menerus menuntut agar departemen kepolisian setempat “meniadakan arus keluar orang-orang dalam waktu tertentu”; menginstruksikan para kader dan penjaga keamanan masyarakat dan pasukan untuk memblokir desa-desa. Lebih parah lagi, menuntut semua instansi perkotaan, pabrik, dan perusahaan untuk tidak menerima orang-orang dari pedesaan; dan tidak memperbolehkan pengemis terlihat di jalan-jalan atau persimpangan utama. Lalu, masing-masing anggota Komite Tetap Partai Komunis Tiongkok ditugaskan untuk mengatur wilayah kota Xinyang. Para anggota Komite Tetap Partai Komunis Tiongkok adalah untuk memastikan seluruh kota Xinyang dijaga dan diawasi dengan ketat. Bahkan surat kertas disita — sebanyak 12.000 surat — dan para pengirimnya dikritik secara brutal.

Lihatlah bencana-bencana dalam sejarah Partai Komunis Tiongkok, dan lihat saat ini. Wabah Kelaparan Besar dan wabah penyakit yang hebat mungkin berbeda, tetapi  Partai Komunis Tiongkok merespon terhadap dua bencana tersebut adalah sangat mirip. 

Wang He yang memiliki gelar master dalam bidang hukum dan sejarah, dan telah mempelajari gerakan komunis internasional. Dia adalah seorang dosen universitas dan seorang eksekutif dari sebuah perusahaan swasta besar di Tiongkok. Wang sekarang tinggal di Amerika Utara dan telah menerbitkan komentar tentang urusan dan politik Tiongkok terkini sejak 2017

Share

Video Popular