oleh Chang Chun

Setelah coronavirus jenis baru (pneumonia Wuhan, virus komunis Tiongkok atau COVID-19) mewabah di Kota Wuhan, akibat pemerintah komunis Tiongkok menyembunyikan fakta menyebabkan wabah tersebut mendunia, membunuh banyak orang. Namun, pemerintah komunis Tiongkok terus mengklaim bahwa ia sama sekali tidak menyembunyikan penanganan epidemi.

Media ‘Epoch Times’ baru-baru ini memperoleh sebuah dokumen tertanggal 15 Januari 2020 yang dikeluarkan oleh Kantor Komisi Kesehatan Guangxi yang merupakan catatan pidato  Wang Yong, Wakil Ketua Komisi Kesehatan Guangxi Wang Yong dalam rapat kerja daerah mengenai pencegahan dan pengendalian virus komunis Tiongkok.

Dokumen tersebut menyebutkan bahwa pada 14 Januari 2020 pagi, Komisi Kesehatan Nasional Partai Komunis Tiongkok mengadakan telekonferensi nasional online tentang pencegahan dan pengendalian epidemi. Ma Xiaowei, Ketua Komisi Kesehatan Nasional menyampaikan instruksi dari Xi Jinping dan Li Keqiang, juga konten tentang pertemuan bertopik khusus Sun Chunlan, Wakil Perdana Menteri Tiongkok. Namun dokumen tersebut tidak menyebutkan isi spesifik dari instruksi internal tersebut.

Dokumen internal (Istimewa)

Lan Shu, seorang komentator politik di Amerika Serikat mengatakan : “Apa sebenarnya instruksi tentang pencegahan dan pengendalian epidemi yang disampaikan oleh Xi Jinping dan Li Keqiang ? Mengapa tidak mereka laporkan ? Jadi intruksi Xi Jinping dan Li Keqiang itu kemungkinan besar disampaikan secara lisan, karena banyak instruksi Top Secret dari petinggi komunis Tiongkok selalu disampaikan secara lisan. Apa yang mereka sembunyikan di dalamnya ? Ataukah mereka takut terlacak di kemudian hari, sehingga sangat berhati-hati dalam penyampaiannya dan tidak dapat ditulis”.

Ma Xiaowei secara khusus mengatakan bahwa epidemi kali ini adalah insiden kesehatan masyarakat yang paling meresahkan dunia sejak epidemi SARS pada tahun 2003. Tapi pada 14 Januari itu, sebagian besar rakyat Tionghoa masih diselubungi ketidaktahuan.

Dokumen Internal

Dokumen tersebut juga menyebutkan bahwa pemerintah daerah Guangxi mengadakan dua pertemuan khusus pada 31 Desember 2019 dan 7 Januari 2020 untuk melakukan penelitian dan menyusun strategi penanganan. Pada 14 Januari, Komisi Kesehatan Guangxi juga membentuk kelompok kerja untuk pencegahan dan pengendalian epidemi.

Dokumen tersebut juga meminta setiap individu atau lembaga yang mengumpulkan dan menguji spesimen terkait epidemi harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari komisi kesehatan setempat.

Dokumen internal

Lan Shu mengatakan : “Ini menunjukkan bahwa pihak berenang komunis Tiongkok memiliki banyak informasi yang dikendalikan secara internal. Informasi yang tidak diberitahukan kepada WHO atau komunitas internasional. Jika kemungkinan penularan dari manusia ke manusia itu rendah, untuk apa Guangxi yang berada ribuan km jauhnya dari Kota Wuhan harus bergegas mengatur pencegahan dan pengendalian epidemi ?”

‘Epoch Times’ juga mengungkapkan dokumen rahasia yang diterbitkan Komite Kesehatan Nasional pada 15 Januari 2020. Dokumen yang diberi judul “Pemberitahuan tentang Diagnosis, Perawatan, Pencegahan dan Rencana Pengendalian Virus Pneumonia Wuhan” ini memiliki catatan khusus : Tidak Disebarkan di Internet !

Dokumen tersebut mengakui bahwa sejak Desember 2019, beberapa rumah sakit di Kota Wuhan berturut-turut menemukan “kasus radang paru-paru / pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya”, dan hasil analisis kemudian memastikan bahwa itu adalah virus korona jenis baru.

Dari sini terlihat bahwa pihak berwenang komunis Tiongkok telah mengetahui bahwa epidemi telah berjangkit setidaknya sebelum 31 Desember 2019, tetapi mereka masih terus berusaha menyembunyikan kejadian untuk waktu yang lama.

Dokumen internal

“Saya pikir mereka mencoba untuk menyembunyikan sumber asal virus. Kota Wuhan baru dikenakan lockdown pada 23 Januari. Dua hari kemudian, yakni pada 25 Januari, komunis Tiongkok mengirim Mayor Jenderal Chen Wei yang ahli senjata biokimia Angkatan Darat Tiongkok ke Institut Virologi Wuhan, setelah itu Institut Virologi Wuhan sepenuhnya berada di bawah kendali militer. Apa yang pemerintah komunis Tiongkok takuti ? Oleh karena itu, semua petunjuk dan tanda semuanya mengarah ke Kota Wuhan sebagai sumber asal virus”, kata Lan Shu.

Pada 2 Januari tahun lalu, media partai ‘China Central TV’ (CCTV) bahkan menyebut 8 orang dokter termasuk Li Wenliang, yang mengungkapkan informasi tentang fakta epidemi sebagai para penyebar rumor.

Baru pada 20 Januari Zhong Nanshan, seorang akademisi dari Akademi Teknik Tiongkok  mengakui di ‘CCTV’ bahwa ada di antara staf medis yang terinfeksi (COVID-19) dan membenarkan adanya fenomena penularan dari manusia ke manusia.

Peneliti masalah Tiongkok Zhang Jian mengatakan : “Fakta menunjukkan kepada kita semua bahwa betapa jahatnya Partai Komunis Tiongkok. Yang paling penting bagi mereka adalah memblokir pengungkapan informasi. Membiarkan Komisi Kesehatan Nasional mengeluarkan pemberitahuan seperti itu. Ini benar-benar menunjukkan bahwa komunis Tiongkok menempatkan nyawa rakyatnya di tempat sekunder. Hal mana semakin membuktikan bahwa para pemimpin tertinggi komunis Tiongkok memperoleh materi inti terpenting tentang kondisi epidemi pada waktu yang sangat dini”.

Zhang Jian juga mengatakan bahwa sejumlah besar fakta telah membuktikan bahwa pemerintah komunis Tiongkok dengan sengaja menyembunyikan fakta tentang epidemi dan membiarkan virus menyebar ke seluruh dunia. Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan oleh rakyat Tiongkok, tetapi juga oleh semua negara di dunia. Oleh karena itu, pemerintah komunis Tiongkok akan mendapatkan sanksi dari komunitas internasional. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular