Lu Yongxin

Militer Myanmar tiba-tiba melancarkan kudeta pada (1/2/2021).  Aung San Suu Kyi dan beberapa pejabat menjadi tahanan rumah. Terbaru, sejumlah pejabat pemerintah tingkat tinggi turun ke jalan menggelar protes. Mereka menuntut pembebasan serta menyerukan mengakhiri kekuasaan militer.

Pada  20 Februari, aksi protes terjadi di Mandalay. Aparat menembak mati demonstran. Ini menandai  demonstrasi paling berdarah di kota-kota besar dan kecil di Myanmar selama lebih dari dua minggu.

Keterangan Foto : Pada 20 Februari 2021, di Mandalay, seorang tentara (kanan) membawa senapan penembak jitu selama demonstrasi menentang kudeta militer, dan pasukan keamanan menembaki para pengunjuk rasa. (STR / AFP melalui Getty Images)
Keterangan Foto : Pada 21 Februari 2021, selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, pengunjuk rasa memegang tiga jari di atas lilin yang menyala. (SAI AUNG MAIN / AFP melalui Getty Images)

Sejauh ini, empat orang tewas dalam perjuangan menolak kudeta militer di Myanmar. Pada  21 Februari 2021,  kegiatan berkabung digelar di berbagai tempat.

Aktor Terkenal Myanmar Dibawa Pergi Polisi 

Pada tanggal 21 Februari,  Lu Min, aktor terkenal Myanmar yang berpartisipasi dalam banyak protes di Yangon ditangkap. Itu dikarenakan ia mendukung oposisi kudeta. “Mereka membuka pintu dengan paksa dan membawanya pergi, tanpa memberitahu saya ke mana mereka membawanya. Saya tidak bisa menghentikan mereka. Mereka tidak memberi tahu saya,” ujar istrinya. 

Undang-Undang Anti-Penghasutan, militer Myanmar mengeluarkan daftar buronan enam orang selebri termasuk Lu Min yang mendorong pegawai negeri untuk berpartisipasi dalam protes pada tanggal 17 Februari. Menurut keputusan ini, Lu Min dan yang lainnya dapat dijatuhi hukuman 2 tahun penjara. 

Assistance Association for Political Prisoners atau Asosiasi Bantuan Myanmar untuk Tahanan Politik menunjukkan, bahwa pada 20 Februari 2021, sebanyak 569 orang  ditahan, didakwa atau dijatuhi hukuman atas kudeta ini.

Seruan Mogok Massal 

“Gerakan Pembangkangan Warga”, sebuah organisasi sipil yang memimpin oposisi terhadap kudeta militer, menyerukan kepada orang-orang untuk bergerak pada tanggal 22 Februari, untuk mempromosikan “Revolusi Musim Semi.” Aksi itu dinamai ‘Revolusi 22222’. 

Myanmar sangat mementingkan arti tanggal. Para pengunjuk rasa menganggap 22 Februari 2021 sebagai hari yang penting. Penamaan itu membuat analogi dengan penindasan berdarah terhadap protes pada 8 Agustus 1988 atau Gerakan 8888.

Latar belakang gerakan 8888 adalah bahwa Jenderal Ne Win, yang berkuasa pada saat itu, menerapkan kebijakan moneter baru pada tahun 1987.Ketika itu menggantikan uang kertas dengan denominasi yang dia yakini dapat habis dibagi dengan angka keberuntungan “9”. Akan tetapi, denominasi aslinya dihapuskan. Tabungan mahasiswa untuk biaya kuliah menjadi sia-sia dan protes diluncurkan. Protes dimulai pada Maret 1988. Aksi mencapai puncaknya pada 8 Agustus, sehingga dinamakan Gerakan 8888.

Reuters melaporkan bahwa pengunjuk rasa muda Maung Saungkha memposting di Facebook untuk mendorong orang lain berpartisipasi dalam demonstrasi hari ini. 

“Mereka yang tidak berani keluar dapat tinggal di rumah. Saya akan tetap keluar. Saya juga menantikannya. Semua generasi ini (lahir dari akhir 1990-an hingga 2000-an), teman-teman bertemu satu sama lain! “

Sebagai tanggapan, media milik pemerintah “Myanmar Broadcasting and Television” MRTV memperingatkan publik untuk tidak bertindak gegabah. Media pemerintah menyatakan bahwa para demonstran “menghasut massa, terutama para remaja yang gelisah, yang hanya akan membuat mereka di jalan menuju kematian.”

Namun, tanpa takut akan intimidasi militer, masih ada ribuan orang dan banyak pemilik toko yang telah menutup pintu besi untuk berhenti berbisnis dan terus turun ke jalan. Hal ini menjadi protes jalanan terbesar dalam kudeta selama ini.

Reuters melaporkan bahwa San San Maw yang berusia 46 tahun  berkata: “Semua orang telah bergabung dan kami harus keluar.”

Pada 22 Februari 2021, pengunjuk rasa berkumpul di Yangon untuk berpartisipasi dalam demonstrasi menentang kudeta militer. (STR / AFP melalui Getty Images)

Amerika Serikat akan mengambil tindakan

Pasca kudeta militer di Myanmar, kekuatan dunia seperti Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Jerman semuanya mengutuk kekerasan militer Myanmar. Sekjen PBB Antonio Guterres bahkan menunjukkan bahwa penindasan yang mematikan tidak dapat diterima.

Pada 22 Februari 2021, pengunjuk rasa berkumpul di Yangon untuk berpartisipasi dalam demonstrasi menentang kudeta militer. (YE AUNG THU / AFP melalui Getty Images)

Saat ini, Amerika Serikat, Inggris, Kanada dan Selandia Baru telah berturut-turut menjatuhkan sanksi kepada para pemimpin militer Myanmar.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mentweet pada malam  21 Februari, bahwa AS akan terus mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang melakukan kekerasan terhadap rakyat Myanmar. Blinken menekankan, bahwa mereka akan berdiri di garis yang sama dengan rakyat Myanmar.

Pada 21 Februari 2021, pengunjuk rasa menyalakan lilin selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon. (SAI AUNG MAIN / AFP melalui Getty Images)

Internet Myanmar sudah terputus selama 8 hari berturut-turut. Kedutaan Besar AS di Myanmar mentweet, bahwa waktu pemutusan hubungan internet akan diperpanjang.  (hui)

 

 

Share

Video Popular