China Insider – The Epoch Times

Seorang pemuda Tiongkok mendokumentasikan hampir 2.000 kasus tindakan keras terhadap kebebasan berpendapat di Tiongkok. Data itu dibeberkan pada halaman Twitter miliknya dalam bahasa Mandarin maupun Inggris.

Pihak berwenang komunis Tiongkok menahan banyak aktivis. Mereka ini dituduh mencemarkan nama baik Tiongkok dan menghina komunis Tiongkok, semuanya seputar HUT rezim Partai Komunis Tiongkok ke-70. 

Junior Wang memperhatikan, orang-orang ini hanya membuat beberapa teguran di internet, akan tetapi para pejabat komunis Tiongkok merasa muak. Junior Wang menyadari bahwa penindasan kebebasan berpendapat di Tiongkok, semakin meningkat hingga suatu tingkat yang baru. Oleh karena itu,  ia memutuskan untuk membangun sebuah basis data mengenai kasus-kasus semacam itu dan melaporkannya di Twitter. 

Junior Wang mengumpulkan kasus-kasus ini, melalui sumber-sumber yang tersedia untuk umum, seperti pengumuman-pengumuman dari situs web pemerintah, kepolisian, tuntutan pengadilan dan laporan media. 

Misalnya, menurut rekaman Junior Wang di Twitter pada tanggal 16 Februari 2020, Tang Kunjieng, seorang penduduk di kota Guilin dijatuhi hukuman tahanan selama lima bulan. Penahanan dikarenakan ia kelihatan oleh seorang pendukung Partai Komunis Tiongkok, menulis kata-kata di beberapa gedung setempat. Tujuan penduduk itu, untuk mengekspresikan kemarahannya mengenai unjuk rasa Hong Kong. Juga, kepada para pemimpin Partai Komunis Tiongkok yang tak mengatasinya secara efektif. Kata-kata penduduk itu, dianggap  menghina para pemimpin Partai Komunis Tiongkok. 

Pada hari yang sama, Lee Shusen, seorang pria pebisnis di Provinsi Heilongjiang membuat beberapa komentar di sebuah kelompok obrolan di Wechat. Lagi-lagi,  dianggap pihak berwenang Tiongkok telah menghina Partai Komunis Tiongkok dan para pemimpin komunis Tiongkok. Ia ditahan selama lima hari. Pengadilan pun menolak naik banding atas kasus yang diajukannya. 

Data base Junior Wang melacak balik ke tahun 2013. Ia mengumpulkan hampir 2.000 kasus dan jumlah tersebut masih terus bertambah.

Liu Xiaobin, mantan polisi Tiongkok mengatakan : “Sejak  Komunis Tiongkok berkuasa pada 70 tahun yang lalu, Partai Komunis Tiongkok telah meluncurkan berbagai kampanye yang secara brutal membunuh hampir 100 juta orang Tiongkok. Dari penindasan anti-revolusioner, gerakan anti-hak asasi manusia, Kelaparan Besar, Revolusi Kebudayaan, Tragedi Tiananmen hingga penganiayaan Falun Gong. Setiap saat setelah Partai Komunis Tiongkok menyebabkan bahaya yang serius bagi rakyat Tiongkok, Partai Komunis Tiongkok berupaya yang terbaik untuk memutar balikkan sejarah dan merahasiakan kebenaran. 

Liu Xiaobin membeberkan, dalam melakukan hal ini, Partai Komunis Tiongkok berupaya membuat rakyat untuk melupakan sejarah iblis yang dilakukannya. Maka dalam hal ini, Junior Wang melakukan suatu hal yang penting, secara pasti membuat Partai Komunis Tiongkok sangat ketakutan. Liu Xiaobin mengagumi usaha yang dilakukan Junior Wang dan perbuatan-perbuatannya yang benar.”

Pada bulan Juli tahun lalu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menanggapi kutukan dari negara-negara Barat atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Tiongkok. 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengklaim, bahwa di Tiongkok tidak seorang pun akan dihukum hanya karena mengeluarkan sebuah pendapat. Sekelompok orang menyebarkan desas-desus bahwa mereka, dianiaya karena kebebasan berpendapat. Kenyataannya, mereka mengeluarkan kebebasan berpendapat ini dengan motif-motif tersembunyi. Bahkan disebut, klaim-klaim mereka  tidak berdasarkan fakta-fakta yang ada. 

Junior Wang mengkritik pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok, pasalnya secara terang-terangan berbohong. 

“Kita harus membiarkan dunia mengetahui bahwa penindasan kebebasan berpendapat dan hak asasi manusia oleh Partai Komunis Tiongkok adalah sistemik dan tidak hanya terdapat beberapa kasus,” kata Junior Wang.

Junior Wang menguraikan : Berbicara mengenai garis-garis merah di Tiongkok, ada beberapa kriteria yang pasti. Salah satu garis merah itu adalah para pemimpin top Partai Komunis Tiongkok, apakah mantan atau yang masih menjabat saat ini, dan garis merah yang lain adalah mengenai Falun Gong, Tragedi Pembantaian Tiananmen, dan gerakan-gerakan politik di masa lalu. Tentu saja, topik-topik hangat baru-baru ini juga dapat ditambahkan ke dalam daftar yang ditabukan itu, seperti pandemi tahun ini.”

Sheng Xue, seorang wanita penulis Tiongkok yang tinggal di Kanada menemukan bahwa, kekerasan dan kebohongan tersebut adalah dua alat utama bagi Partai Komunis Tiongkok. Tujuannya, untuk merebut kekuasaan dan mempertahankan kekuasaannya. 

“Bagi pihak berwenang Tiongkok, hal-hal ini adalah masalah-masalah yang paling serius dan yang paling disensor secara ketat. Oleh karena itu, hukuman adalah terutama kejam saat seseorang menyentuh topik-topik ini. Partai Komunis Tiongkok akan bengis bila seseorang melanggar garis-garis merah ini,” ungkap Sheng Xue. 

Junior Wang yang kini berusia 20-an memberitahu Voice of America, bahwa ia tinggal di negara tembok. Ia mengidentifikasi dirinya sebagai seorang aktivis kebebasan berpendapat.

“Karena jumlah kasus-kasus yang saya kumpulkan semakin meningkat, saya menyadari bahwa saya sendiri dapat menjadi korban berikutnya,” ungkapnya. 

Junior Wang mengatakan bahwa tidak akan mundur. Ia menekankan bahwa, ia akan terus melakukan pekerjaan ini untuk rakyat Tiongkok. Tak lain, untuk tetap mengingat memori tersebut sampai suatu hari ia juga diciduk. Bahkan, sampai suatu hari di mana Tiongkok tidak lagi menganiaya seorang pun untuk kebebasan berpendapat.

Liu Xiaobin, mantan polisi Tiongkok juga menuturkan,”Rekam dan arsipkan setiap kekejaman yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok. Ia percaya di masa mendatang, hal ini tampaknya kuat dan rezim yang kejam ini, akan runtuh secara tiba-tiba. Ia percaya hari seperti ini akan segera datang. Semuanya akan bekerja bersama dengan Junior Wang. Kemudian, melakukan segalanya yang dapat dilakukan demi datangnya hari seperti ini.”

Menurut Junior Wang, banyak kasus yang ia kumpulkan akan membuat judul-judul utama di negara-negara lain. Namun demikian, di Tiongkok ada ribuan kali lebih banyak kasus daripada basis data miliknya. Sebagian besar kasusnya terjadi tanpa diketahui. Ia berharap, agar seluruh dunia tahu mengenai situasi yang mematikan mengenai kebebasan berpendapat di Tiongkok.  (Vv)

Video Rekomendasi :

 

 

Share

Video Popular