Jennifer Zeng dan Kate Jiang

Pemadaman listrik baru-baru ini terjadi di Texas di Amerika Serikat. Kejadian itu menarik banyak perhatian dari seluruh dunia. Akan tetapi, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa pemadaman serupa terjadi di banyak kota di Tiongkok sejak akhir tahun lalu, demikian pula banyak orang juga tidak menyadari alasan di balik sebenarnya.

Sebuah investigasi mendalam yang dilakukan oleh The Epoch Times terhadap struktur konsumsi listrik di Tiongkok, mengarah pada kesimpulan bahwa industri pengawasan digital yang berkembang pesat, tidak hanya menjadi sebuah mesin baru yang penting untuk ekonomi Tiongkok. Akan tetapi, juga bersaing dengan penduduk Tiongkok untuk mendapatkan listrik. 

Sistem pengawasan digital yang ada di mana-mana juga telah mengubah Tiongkok menjadi masyarakat Orwellian, di mana semua data dan informasi yang dikumpulkan dapat digunakan dan disalahgunakan oleh rezim komunis Tiongkok.

Pasca wabah virus Komunis Tiongkok di awal tahun 2020, konstruksi infrastruktur yang baru seperti 5G, kecerdasan buatan, dan pusat-pusat data, termasuk dalam laporan kerja nasional Partai Komunis Tiongkok. Di musim dingin tahun 2020, Ulanqab, sebuah kota Big data di Mongolia Dalam, sebuah provinsi energi yang utama di Tiongkok, adalah yang pertama melaporkan kekurangan listrik, disusul dengan kekurangan daya di Hunan, Zhejiang, dan provinsi lainnya. 

Partai Komunis Tiongkok menafsirkan kekurangan listrik, sebagai hasil pemulihan ekonomi yang kuat. Kemudian mengklaim bahwa Tiongkok adalah satu-satunya ekonomi utama di dunia, untuk mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto yang positif pada tahun 2020.

Namun demikian, menurut sebuah laporan resmi mengenai Perkembangan Ekonomi Digital di Tiongkok 2020 oleh Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi Tiongkok, lebih dari 30 persen dari Produk Domestik Bruto  Komunis Tiongkok berasal dari ekonomi digital. Yang mana, terkait erat dengan infrastruktur baru. Tak sebatas berkaitan dengan peningkatan ekonomi Tiongkok yang cepat bukanlah tanda pemulihan ekonomi, tetapi sebuah kelaziman sebuah negara pengawasan.

Status Negara dalam Keadaan Perang untuk Pasokan Listrik

Pada akhir 2020 dan awal 2021, Tiongkok melihat peringatan oranye pertamanya untuk sebuah gelombang dingin dalam hampir empat tahun. Permintaan listrik dan batu bara meningkat secara dramatis.

Di tengah cuaca yang sangat dingin, beberapa daerah di Tiongkok mengalami pemadaman dan pembatasan listrik, termasuk Hunan, Zhejiang, Jiangxi, dan Mongolia Dalam, provinsi utama di Tiongkok untuk keluaran listrik dan penghasil utama batu bara.

Menurut sina.com, di kota Changsha, Provinsi Hunan, ada beberapa kantor mematikan liftnya. Banyak orang harus menaiki tangga 20 hingga 30 lantai menuju tempat kerja. Perusahaan Tenaga Listrik Hunan mengumumkan, keadaan status negara dalam keadaan perang untuk pasokan listrik pada 19 Desember.

Ini bukan pertama kalinya Tiongkok mengalami kekurangan listrik.

Menurut Caixin.com, Tiongkok mengalami kekurangan skala-besar di awal tahun 1990-an, selama tahun 2002-2004, dan tahun 2008-2011. Pada tahun 2002, 12 provinsi dan wilayah di seluruh Tiongkok menerapkan pembatasan listrik.

Saat itu, kapasitas pembangkit listrik Tiongkok kurang dari 360 gigawatt (GW). Pabrik-pabrik di Tiongkok harus buka selama 3 hari dan kemudian tutup selama 4 hari. Selama jam-jam sibuk konsumsi listrik, lift-lift di pusat-pusat perbelanjaan, serta setengah dari lampu-lampu jalan harus dimatikan.

Sejak itu, selama 18 tahun terakhir, Tiongkok secara agresif membangun pembangkit-pembangkit listrik, yang menyebabkan kelebihan kapasitas yang parah dalam industri tenaga batu bara. 

Pada akhir tahun 2020, kapasitas pembangkit listrik terpasang Tiongkok telah mencapai 2,2 terawatt (TW), lebih dari enam kali lipat kapasitas pembangkit listrik terpasang pada tahun 2002.

Pada awal tahun 2016, Administrasi Energi Nasional Tiongkok mewajibkan industri untuk membuang kelebihan kapasitas tenaga batubara. Namun, kurang dari enam bulan setelah rezim Tiongkok mengeluarkan sebuah kebijakan pada bulan Juni 2020. Isinya  tiga tahun berturut-turut untuk meminta industri  membuang kelebihan kapasitas tenaga batubara, tetapi sejarah pemadaman dan pembatasan listrik terulang kembali.

  Penjelasan resmi mengenai kekurangan listrik diberikan oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional adalah:

  1. Dimulainya kembali produksi industri yang meningkatkan permintaan listrik;
  1. Cuaca dingin yang ekstrim meningkatkan kebutuhan listrik;
  2. Pasokan listrik eksternal terbatas dan kerusakan-kerusakan mesin.

Infrastruktur Baru dan Ekonomi Digital

Angka pertumbuhan konsumsi listrik di Tiongkok pada kuartal pertama tahun 2020 adalah -6,5 persen, kuartal kedua tahun 2020 adalah 3,9 persen, kuartal ketiga tahun 2020 adalah 5,8 persen, dan kuartal keempat tahun 2020 adalah 8,1 persen. Yang tampaknya pada dasarnya selaras dengan angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto sebesar -6,8 persen pada kuartal pertama, sebesar 3,2 persen pada kuartal kedua, sebesar 4,9 persen pada kuartal ketiga, dan sebesar 6,5 persen pada kuartal keempat (seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1).

Sebuah laporan pada 21 Agustus 2020 oleh Pengawasan Aset-Aset Milik Negara dan Komisi Administrasi Dewan Negara, membocorkan dari mana tepatnya peningkatan konsumsi listrik itu berasal.

Menurut laporan tersebut, peningkatan konsumsi listrik Tiongkok mencerminkan pemulihan ekonomi Tiongkok yang kuat setelah pandemi. 

Dilihat lebih dekat, banyak peningkatan konsumsi listrik Tiongkok berasal dari ekonomi digital dan manufaktur cerdas, yang terkait erat dengan pembangunan infrastruktur baru.

Apa Itu Infrastruktur Baru?

Infrastruktur tradisional terutama mengacu pada jalan, rel kereta api, jembatan, bandara, pelabuhan, jaringan listrik, dan fasilitas lainnya. 

Menurut Pengawasan Aset-Aset Milik Negara dan Komisi Administrasi Dewan Negara, infrastruktur baru Partai Komunis Tiongkok, mengacu pada infrastruktur digital seperti stasiun-stasiun basis 5G, Internet of Things, pusat-pusat data, kecerdasan buatan, dan internet industri.

Infrastruktur-infrastruktur ini, dapat mendigitalkan informasi dan kegiatan-kegiatan bisnis, membentuk sebuah sistem ekonomi berbasis teknologi komputasi digital yang disebut sebagai ekonomi digital.

“Mengembangkan ekonomi digital”, “mempromosikan industrialisasi digital, digitalisasi industri, integrasi yang mendalam dari ekonomi digital dan ekonomi nyata,” dan “membangun kluster-kluster industri digital yang berdaya saing internasional” semuanya termasuk dalam rencana 5 tahun ke-14 Partai Komunis Tiongkok, sebagai Tujuan Visioner Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional untuk tahun 2035.

Dalam laporan yang disebutkan di atas oleh Pengawasan Aset-Aset Milik Negara dan Komisi Administrasi Dewan Negara, Provinsi Hunan dan Provinsi Zhejiang dipuji karena konsumsi listriknya yang meningkat. 

Dua “produsen digital” yang “luar biasa”, mencakup Lens Technology dan Sunward Intelligent secara khusus disebutkan dan dipuji karena “pertumbuhannya yang cepat” dalam penggunaan listrik. Konsumsi listrik harian rata-rata Lens Technology dan Sunward Intelligent adalah meningkat, di mana konsumsi listrik harian rata-rata Lens Technology sebesar 53 persen tahun ke tahun. Sedangkan konsumsi listrik harian rata-rata Sunward Intelligent sebesar 72 persen tahun ke tahun, yang “sangat berkontribusi pada peningkatan konsumsi listrik setempat.”

Yang juga patut diperhatikan adalah Hunan dan Zhejiang, yang dipuji dalam laporan tersebut, juga tempat-tempat yang sangat menderita karena kekurangan listrik pada musim dingin tahun 2020.

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa “Di Hangzhou, pertumbuhan ekonomi digital adalah lebih nyata. Didorong oleh perusahaan-perusahaan terkemuka seperti Alibaba dan Hikvision, industri digital seperti komunikasi komputer, manufaktur peralatan elektronik, transmisi informasi, perangkat lunak, dan teknologi informasi mendukung tren tersebut dan menghabiskan 1,975 miliar kWh listrik di paruh pertama tahun 2020, naik 5,5 persen tahun ke tahun, lebih tinggi daripada pertumbuhan listrik seluruh masyarakat sebesar 13,6 persen. Saat ini, Hangzhou memiliki lebih dari 50 pusat data yang beroperasi, dan sejumlah proyek pusat data super-besar seperti Xinchuang Cloud dan Ali East-China Cloud sedang dibangun.”

Laporan tersebut juga sampai pada sebuah kesimpulan penting: ekonomi digital dan industri-industri manufaktur pintar telah menjadi kekuatan pendorong baru untuk pertumbuhan konsumsi listrik. 

Kesimpulan ini, juga didukung oleh Laporan Analisis dan Prakiraan dan Pasokan Listrik Nasional tahun 2020–2021 yang dirilis oleh Dewan Listrik Tiongkok pada tanggal 2 Februari 2021.

Laporan tersebut menyebutkan pada tahun 2020, konsumsi listrik industri primer meningkat 10,2 persen tahun ke tahun; konsumsi listrik industri sekunder meningkat sebesar 2,5 persen tahun ke tahun (industri manufaktur pada industri sekunder meningkat 2,9 persen); listrik konsumsi industri tersier meningkat 1,9 persen tahun ke tahun; dan konsumsi listrik perumahan meningkat 6,9 persen.

Sementara itu, “karena pesatnya pertumbuhan aplikasi teknologi-teknologi baru seperti data besar, komputasi awan, dan Internet of Things,” konsumsi listrik dalam transmisi informasi/perangkat lunak dan sektor layanan teknologi informasi di sektor tersier di Tiongkok tumbuh sebesar 23,9 persen tahun ke tahun, (seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.)

Bersaing demi Listrik

Sedangkan konsumsi listrik ekonomi digital — seperti stasiun-stasiun basis 5G dan pusat-pusat data — sedang berkembang pesat, Tiongkok sekali lagi mengalami kekurangan listrik pada musim dingin tahun 2020. 

Dalam penjelasan resmi yang diberikan oleh Partai Komunis Tiongkok, cuaca yang sangat dingin dan pasokan listrik eksternal yang terbatas disalahkan karena memberikan tekanan besar pada sistem pasokan listrik.

Cuaca yang sangat dingin memang akan menambah permintaan kebutuhan listrik perumahan, meskipun pangsa konsumsi listrik perumahan di seluruh masyarakat adalah tidak besar (14,5 persen dari seluruh  konsumsi listrik masyarakat pada tahun 2020).

Di sisi lain, tingkat konsumsi listrik perumahan adalah sangat bervariasi. Misalnya, jumlah konsumsi listrik perumahan di siang hari relatif lebih tinggi, di mana orang sedang bekerja dan memasak. Sedangkan jumlah konsumsi listrik perumahan di malam hari adalah lebih rendah di mana sebagian besar orang sedang beristirahat.

Di musim dingin dan musim panas, permintaan untuk pemanas dan pendingin juga akan meningkatkan konsumsi listrik.

Angka pertumbuhan konsumsi listrik perumahan di Tiongkok pada triwulan pertama tahun 2020 adalah 3,5 persen, triwulan kedua tahun 2020 adalah 10,6 persen, triwulan ketiga tahun 2020 adalah 5,0 persen, dan triwulan keempat tahun 2020 adalah 10,0 persen (tahun ke tahun).

Ketika konsumsi listrik mencapai puncaknya, maka akan memberi banyak tekanan pada sistem pasokan listrik, dan bahkan mungkin ada kekurangan pasokan listrik.

Inilah salah satu alasan mengapa Tiongkok sering mengalami kekurangan listrik di musim dingin, yang disebabkan oleh peningkatan konsumsi listrik.

Namun, dibandingkan dengan konsumsi listrik perumahan, konsumsi listrik industri, yang menyumbang 68 persen dari total konsumsi listrik Tiongkok, adalah lebih stabil.

Oleh karena itu, ketika laporan resmi Partai Komunis Tiongkok menyebutkan pasokan listrik eksternal yang terbatas. Ini terutama mengacu pada listrik yang diimpor dari provinsi-provinsi lain, yang terutama adalah pembangkit listrik tenaga air.

Karena musim dingin adalah musim kering, maka kapasitas pembangkit tenaga air dibatasi. Ini merupakan indikasi lain bahwa kapasitas sumber energi bersih, seperti tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin, sangat dipengaruhi oleh kondisi alam. Dalam cuaca yang sangat dingin, hanya tenaga panas yang dapat menyediakan sebuah sumber energi yang stabil.

Ini untuk mengatakan bahwa para pejabat Partai Komunis Tiongkok pada dasarnya menyalahkan cuaca ekstrim, atau bencana alam atas kekurangan listrik. Terlepas dari apakah kekurangan listrik disebabkan oleh  peningkatan konsumsi listrik perumahan di musim dingin atau kurangnya produksi energi bersih.

Kenyataannya adalah, meskipun cuaca ekstrim dapat menjadi salah satu penyebab kekurangan listrik, ada alasan lain akibat ulah manusia.

Ulanqab di Mongolia Dalam: Kota ‘Data Besar’ yang Mengalami Kekurangan Listrik

Apa bencana akibat ulah manusia di balik kekurangan listrik?

Sebuah studi kasus Ulanqab di Mongolia Dalam, kota pertama di Tiongkok yang mengalami kekurangan listrik pada tahun 2020, mungkin menjelaskan hal ini.

Menurut situs web Tiongkok Caixin.com, Daerah Otonomi Mongolia Dalam adalah yang pertama mengalami kekurangan listrik pada November 2020. Pada 25 November, Ulanqab mengungkapkan bahwa Ulanqab mengalami kekurangan listrik.

Namun, Provinsi Ulanqab, Daerah Otonomi Mongolia Dalam, adalah sebuah provinsi kaya-energi yang utama di Tiongkok. Provinsi Ulanqab tidak hanya memasok listrik eksternal ke 10 provinsi dan wilayah, tetapi juga merupakan salah satu basis produksi batu bara yang utama di Tiongkok, yang menghasilkan lebih dari seperempat batubara Tiongkok.

Menurut bjx.com, sebuah portal web penggunaan listrik di Tiongkok, dalam tiga perempat bulan pertama tahun 2020, Mongolia Dalam menempati peringkat pertama di antara provinsi-provinsi di Tiongkok dalam hal pembangkit listrik, dengan total pembangkit listrik sekitar 409 terawatt-jam (TWh), mengungguli Provinsi Shandong di urutan kedua yaitu dengan total pembangkit listrik sekitar 402 terawatt-jam (TWh).

Konsumsi listrik Mongolia Dalam adalah 286 terawatt-jam (TWh), jadi listrik yang keluar menyumbang sekitar sepertiga dari kapasitas pembangkit listriknya.

Laporan dari bjx.com juga itu menyebutkan bahwa tenaga listrik berbahan bakar batubara. Ini menyediakan pasokan listrik yang stabil, merupakan sumber listrik yang utama di Mongolia Dalam. Berkat sumber daya batubara yang melimpah di Mongolia Dalam,  mencapai 84 persen dari listrik yang dihasilkan.

Menurut Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok, Mongolia Dalam menghasilkan 1,001 miliar ton batu bara pada tahun 2020, pada dasarnya sama dengan hasil di tahun 2019. 

Sejak bulan Oktober tahun lalu, produksi harian batubara di wilayah tersebut menjadi sekitar 3,2 juta ton, meningkat hampir 600.000 ton dibandingkan dengan tiga perempat bulan pertama tahun 2020, yang memastikan pasokan yang stabil untuk pasar baru bara Tiongkok.

Sebagian besar pembangkit listrik tenaga batu bara di Mongolia Dalam adalah pembangkit listrik di dekat mulut-mulut tambang batubara. Oleh karena itu, adalah lebih mudah untuk pembangkit listrik untuk mengakses batu bara dibanding banyak pembangkit listrik tenaga batu bara di daerah lain, seperti di Propinsi Hunan. Hal ini membuat tidak mungkin untuk pembangkit listrik tenaga batu bara di Mongolia Dalam, mengalami kekurangan listrik tenaga batu bara di Mongolia Dalam karena kurangnya batu bara.

Lalu mengapa Mongolia Dalam, yang merupakan pemasok listrik utama dan sebuah provinsi yang memiliki produksi batu bara yang utama, menjadi daerah yang pertama melaporkan kekurangan listrik di musim dingin?

Menurut Badan Pusat Statistik di kota Ulan Bator, 93,9 persen konsumsi listrik seluruh kota Ulan Bator merupakan konsumsi listrik industri yang relatif stabil.

Berdasarkan konsumsi listrik dari  Januari hingga November 2020, konsumsi listrik perumahan menyumbang 1,7 persen dari total konsumsi listrik kota Ulan Bator. Meskipun pangsa konsumsi listrik perumahan adalah kecil, peningkatan konsumsi listrik perumahan selama jam-jam sibuk meningkatkan beban pada sistem listrik. Namun, ini bukan satu-satunya alasan meningkatnya beban pada sistem listrik.

Situs Tiongkok sina.com menerbitkan sebuah artikel berjudul: Ulanqab: Sebuah Kota ‘yang Kesepian’ yang Dikelilingi Data Besar pada  14 Sept 2020. Artikel tersebut menggambarkan bagaimana Ulanqab bergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi untuk berkembang.

Artikel tersebut menyebutkan bahan pokok untuk kota kecil di Mongolia Dalam yang berpenduduk 2,87 juta orang ini pernah bertani dan menggembala. Namun, sejak Huawei memutuskan untuk mendirikan sebuah pusat data di kota ini pada tahun 2013, Ulanqab tidak hanya menjadi basis utara kesiapsiagaan bencana pusat data besar nasional, tetapi juga menjadi sebuah pusat data besar untuk banyak perusahaan seperti Alibaba dan Huaishou.

Menurut otoritas kota Ulanqab, Produk Domestik Regional Bruto kota Ulanqab pada tahun 2019 adalah 80,84 miliar yuan. Di mana kontribusi industri primer mencapai 12,87 miliar yuan (naik 2,4 persen YoY), kontribusi industri sekunder mencapai 31,64 miliar yuan (naik 11,1 persen YoY) dan kontribusi industri tersier mencapai 36,35 miliar yuan (naik 3,6 persen YoY).

Proporsi kontribusi industri primer terhadap Produk Domestik Regional Bruto kota Ulanqab adalah sebesar 15,9 persen, proporsi kontribusi industri sekunder terhadap Produk Domestik Regional Bruto kota Ulanqab adalah sebesar 39,1 persen. Sedangkan proporsi kontribusi industri tersier terhadap Produk Domestik Regional Bruto kota Ulanqab, adalah sebesar 45 persen.

Ini menunjukkan bahwa industri tersier memimpin, di mana teknologi-teknologi baru yang mencakup Big Data, komputasi awan, transmisi informasi/perangkat lunak, dan layanan teknologi informasi semuanya dimiliki oleh industri tersier.

Menurut Situs Web Informasi Statistik Tiongkok, pada 2013, tahun di mana pusat data besar didirikan di Ulanqab, Produk Domestik Bruto di Ulanqab adalah sebesar 83,375 miliar yuan, di mana kontribusi industri primer adalah sebesar 13,366 miliar yuan (naik 5,2 persen tahun ke tahun), kontribusi industri sekunder adalah sebesar 43,711 miliar yuan (naik 11,4 persen tahun ke tahun), dan industri tersier adalah sebesar 26,298 miliar yuan (naik 6,8 persen tahun ke tahun).

Kontribusi industri primer terhadap Produk Domestik Regional Bruto kota Ulanqab adalah sebesar 15,6 persen. Kontribusi industri sekunder terhadap Produk Domestik Regional Bruto kota Ulanqab adalah sebesar 55 persen. Sedangkan kontribusi industri tersier terhadap Produk Domestik Regional Bruto kota Ulanqab adalah sebesar 29,4 persen.

Dibandingkan dengan angka-angka untuk tahun 2019, proporsi industri tersier meningkat secara bermakna dari 29,4 persen pada tahun 2013 menjadi 45 persen pada tahun 2019. Yang mana menunjukkan bahwa, pusat data tersebut memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan ini, (seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3)

Industri Big Data mengubah kota Ulanqab, dari daerah pertanian dan daerah untuk menggembala yang buruk dan berangin di mana 76,3 persen diliputi oleh hutan dan padang rumput, menjadi sebuah pusat data nasional seperti sebuah pusat data yang ada di Guizhou, selatan Tiongkok.

Menurut otoritas kota Ulanqab, pada tahun 2020, konsumsi listrik di bidang transmisi informasi, perangkat lunak, dan industri layanan teknologi informasi, yang mencakup teknologi-teknologi baru seperti Big data dan komputasi awan, meningkat 24,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kebutuhan listrik yang meningkat pesat, dibarengi dengan peningkatan Konsumsi listrik oleh penduduk setempat di musim dingin, telah menyebabkan Ulanqab menjadi kota pertama yang mengumumkan kekurangan listrik.

Pusat-Pusat Data: Raksasa-Raksasa Konsumsi Energi

Setiap kali sebuah pusat data disebutkan, orang-orang sering memikirkan sederetan rak komputer, yang tampaknya mengonsumsi energi yang jauh lebih sedikit daripada pabrik-pabrik baja dengan cerobong-cerobong asap besar.

Tetapi sebenarnya, dibandingkan dengan ruang-ruang server biasa, pusat-pusat data memiliki persyaratan yang sangat tinggi dalam hal suhu, kelembaban, gangguan medan magnet, dan kondisi lainnya, yang semuanya sangat menuntut.

Selain listrik tidak terputus, banyak perlengkapan, seperti AC dan pendingin juga diperlukan untuk membantu penerangan dan pendinginan. Berdasarkan analisis iResearch Consulting Group, listrik menyumbang 56,7 persen dari biaya operasi pusat-pusat data.

Menurut corong Partai Komunis Tiongkok, People’s Daily, pada awal tahun 2016, konsumsi listrik pusat-pusat data di Tiongkok melebihi  pembangkit listrik tahunan Bendungan Tiga Ngarai. Pada tahun 2017, konsumsi listrik pusat-pusat data di Tiongkok melebihi total pembangkit listrik dari Bendungan Tiga Ngarai dan Pembangkit Listrik Gezhouba. Pada tahun 2018, total konsumsi listrik pusat-pusat data di Tiongkok sekitar 160 terawatt-jam (TWh), yang melebihi konsumsi listrik seluruh kota Shanghai, sebuah kota dengan penduduk 26 juta.

Provinsi Hunan, yang pertama kali mengumumkan status keadaan perang terhadap pasokan listrik pada bulan Desember lalu, mengumumkan 86 proyek utama tingkat provinsi untuk perkembangan data besar dan industri-industri blockchain di awal tahun 2020. Di mana otoritas Provinsi Hunan menyerukan pengembangan data besar secara besar-besaran.

Di Provinsi Zhejiang, tempat pasokan listrik pernah diputus atau dibatasi, banyak pusat-pusat data juga telah didirikan. Di kota Hangzhou sendiri, terdapat lebih dari 50 pusat data yang beroperasi.

Stasiun-stasiun basis 5G, yang membantu mengumpulkan data besar, juga disebut sebagai “harimau-harimau pemakan-listrik.” Menurut Jaringan Industri Komunikasi Tiongkok, tingkat konsumsi listrik oleh stasiun-stasiun basis 5G adalah lebih dari 9 kali lipat dari stasiun-stasiun basis 4G.

Konsumsi listrik maksimum 5G tidak hanya 3-4 kali lebih tinggi dari 4G, tetapi daerah cakupannya juga lebih kecil.

Saat ini, konsumsi listrik oleh stasiun-stasiun basis 5G dari beberapa produsen utama di Tiongkok adalah 4,940 Watt untuk China Datang, 3,500 Watt untuk Huawei, dan 3,255 Watt untuk ZTE, sedangkan di era 4G, konsumsi listrik satu stasiun sistem basis tunggal hanya 1.300 Watt.

Sedangkan radius cakupan stasiun-stasiun basis 5G adalah 300 meter hingga 500 meter. Jadi, setidaknya tiga stasiun basis 5G diperlukan untuk mencakup area stasiun basis 4G di bawah kondisi yang sama.

Pada Agustus 2020, Unicom Tiongkok cabang Luoyang menutup beberapa stasiun-stasiun basis 5G miliknya. Itu selama beberapa slot waktu di malam hari. Karena, biaya listrik yang tinggi, untuk mengirim sebuah sinyal ke seluruh dunia mengenai konsumsi listrik yang tinggi oleh stasiun-stasiun basis 5G.

Menurut Liu Liehong, Wakil Menteri Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok, 700.000 stasiun-stasiun basis 5G telah dibangun di Tiongkok, yang menghubungkan lebih dari 180 juta terminal 5G. Kecepatan konstruksi 5G meningkat pesat, di mana Xinhua, outlet media Partai Komunis Tiongkok menyatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok diharapkan untuk membangun lebih dari 1 juta stasiun-stasiun basis 5G pada tahun 2021.

Tang Wei dari Institut Riset Energi Nasional Tiongkok memperkirakan bahwa pada 2025, stasiun-stasiun basis 5G di Tiongkok dapat mengonsumsi listrik 17 kali lebih banyak. Itu seperti yang mereka dilakukan stasiun-stasiun basis 5G tersebut pada tahun 2020.

5G dan digital hub tidak hanya menghabiskan listrik yang sangat banyak, tetapi juga membantu Partai Komunis Tiongkok membangun sebuah masyarakat Orwellian dengan pengawasan yang ada di mana-mana.

Kontribusi Infrastruktur Baru Dan Ekonomi Digital

Setelah virus Komunis Tiongkok merebak di awal tahun 2020, infrastruktur baru seperti 5G, kecerdasan buatan, Big data, komputasi awan, dan Internet of Things, diberi prioritas yang tinggi oleh Partai Komunis Tiongkok dan secara langsung dimasukkan ke dalam laporan kerja rezim Partai Komunis Tiongkok.

Menurut People’s Daily, setidaknya ada lima misi terkait infrastruktur baru yang dikerahkan di tingkat tinggi Partai Komunis Tiongkok hanya dalam satu bulan, mulai  3 Februari 2020, hingga 4 Maret 2020.

Menurut sebuah artikel yang diterbitkan oleh Xinhua pada 26 April 2020, pandemi adalah sebuah motivasi langsung untuk pengembangan infrastruktur baru. 

Artikel tersebut mengklaim bahwa, efisiensi energi infrastruktur tradisional semakin berkurang dan infrastruktur baru yang diwakili oleh infrastruktur digital menjadi sebuah mesin pertumbuhan baru bagi ekonomi Partai Komunis Tiongkok. Bahkan, dapat “secara efektif mengatasi tekanan ekonomi yang menurun.”

Infrastruktur baru tersebut juga dapat menarik investasi dalam jumlah besar, yang dapat lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Xinhua, hingga bulan Mei 2020, lebih dari 20 provinsi di Tiongkok sudah meluncurkan rencana-rencana infrastruktur baru dengan total dana triliunan yuan.

Untuk Partai Komunis Tiongkok, penyebaran proyek-proyek infrastruktur baru seperti 5G, kecerdasan buatan, dan pusat-pusat data, dua tujuan tercapai sekaligus. Penyebaran proyek-proyek infrastruktur baru tersebut, tidak hanya menyediakan jaringan pengawasan yang ada di mana-mana, tetapi juga menjadi penggerak perekonomian.

Jaringan Pengawasan yang Ada di Mana-Mana

Di situs resmi HuaweiCloud, CampusGo disajikan sebagai sebuah model sistem pintar untuk menyediakan manajemen untuk gedung komersial dan gedung perumahan, serta tata kelola kota. 

Ini dapat memberikan deteksi gangguan, deteksi bekas-bekas, verifikasi identitas wajah, deteksi pengembaraan, pengenalan plat nomor kendaraan, dan teknologi analisis cerdas lainnya. Serta teknologi terkemuka seperti algoritma cerdas dan pembelajaran mendalam untuk memastikan persepsi presisi-tinggi dan pemrosesan informasi wajah, kendaraan, peristiwa dan perilaku.

Huawei Cloud juga meluncurkan sebuah produk berbasis teknologi 5G: 5G Smart Security Solutions. 5G Smart Security Solutions mencakup penggunaan drone, robot, 5G ditambah kacamata realitas, dan kamera overhead untuk terus mengirim kembali video-video HD dari area-area utama ke platform Huawei Cloud. Caranya melalui jaringan 5G, dan kemudian menganalisis, mengidentifikasi, dan merekam orang-orang dan peristiwa-peristiwa.

Inti CampusGo dan 5G Smart Security Solutions adalah untuk memantau, merekam dan menganalisis semua orang, benda, dan peristiwa melalui kamera, teknologi 5G, kecerdasan buatan, dan pusat-pusat data.

Dengan demikian, semua data dan informasi yang dikumpulkan dapat digunakan dan disalahgunakan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Mantan anggota Partai Republik Amerika Serikat Randy Hultgren berkata pada Sidang Komisi Hak Asasi Manusia Tom Lantos mengenai Kecerdasan Buatan: Konsekuensi untuk Hak Asasi Manusia  pada tahun 2018 bahwa “Siasat-siasat pemerintah Tiongkok melawan

orang-orang Uyghur di Provinsi Xinjiang, telah menjadi sebuah laboratorium untuk memotong teknologi pengawasan tepi yang merupakan pengawasan Orwellian — dan dampak penyalahgunaan teknologi tersebut dapat melampaui Tiongkok.”

Faktanya, seluruh Tiongkok telah menjadi sebuah laboratorium teknologi bagi Partai Komunis Tiongkok. Menurut statistik dari IHS Markit, sebuah perusahaan riset Inggris, 54 persen kamera pengawasan di seluruh dunia berada di Tiongkok pada akhir 2019.

Statistik dari Surfshark, sebuah perusahaan VPN yang berbasis di Kepulauan Virgin Inggris, lebih lanjut menunjukkan bahwa di antara 10 kota dengan kepadatan pengawasan tertinggi di dunia, enam kota berada di Tiongkok, termasuk Beijing, Harbin, Xiamen, Chengdu, Taiyuan dan Kunming, di mana jumlah kamera di Beijing mencapai 1,15 juta, jumlah kamera terbanyak di dunia.

Selain pengenalan wajah, Partai Komunis Tiongkok juga merilis apa yang dikatakannya sebagai sistem pengawasan “pengenalan gaya berjalan” pertama di dunia pada tahun 2019. Dengan kata lain, sistem tersebut dapat mengidentifikasi sebuah target melalui postur berjalan seseorang bahkan jika wajah orang tersebut ditutup.

Partai Komunis Tiongkok juga dapat menggunakan berbagai metode untuk memantau orang-orang, seperti pengenalan suara, pengenalan emosi, dan penyadapan telepon seluler. Ini membutuhkan algoritma-algoritma canggih dan analisis data untuk mencapai berbagai metode tersebut.

Pada tahun 2018, Hsieh Chin-ho, ketua Media Investasi dan Majalah Kekayaan berkata bahwa,“Di Tiongkok, ke mana pun anda pergi, anda tidak akan pernah dapat lolos dari jaringan Big Data yang pintar milik Partai Komunis Tiongkok.”

Pengawasan: Mesin Baru untuk Pertumbuhan ekonomi Tiongkok

Pada 19 Januari 2021, Partai Komunis Tiongkok mengumumkan sebuah angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto tahunan sebesar 2,3 persen. Laporan mengklaim  bahwa Tiongkok telah menjadi satu-satunya ekonomi utama di dunia yang mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto yang positif pada tahun 2020. Di antara semua sektor, transmisi informasi, perangkat lunak, dan sektor layanan teknologi informasi, yang mencakup data besar dan komputasi awan, tumbuh paling cepat, naik 16,9 persen tahun ke tahun.

Pada bulan Juli 2020, Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi Tiongkok merilis laporan resminya mengenai Pengembangan Ekonomi Digital di Tiongkok (2020).

Menurut laporan resmi tersebut, “tahun 2019 menunjukkan nilai tambah dari ekonomi digital di Tiongkok yang mencapai RMB 35,8 triliun, terhitung 36,2 persen Produk Domestik Bruto.” 

“Dalam basis yang sebanding, pertumbuhan nominal  ekonomi digital pada 2019 adalah 15,6 persen, lebih tinggi sekitar 7,85 persen daripada Produk Domestik Bruto pada periode yang sama.”

Xu Hongcai, Wakil Direktur Komite Kebijakan Ekonomi dari Akademi Ilmu Kebijakan Tiongkok, menerbitkan sebuah artikel di Xinhua pada 17 Mei 2020, mengatakan bahwa “ekonomi digital telah menjadi sebuah mesin baru untuk pengembangan kualitas-tinggi.”

Di balik perkembangan ekonomi digital adalah prevalensi pengawasan dan pelanggaran hak asasi manusia oleh Partai Komunis Tiongkok. Setelah meletakkan jaringan pengawasan di mana-mana, Partai Komunis Tiongkok melacak dengan cermat apa yang dikatakan, dilihat, dan dilakukan oleh 1,4 miliar orang di Tiongkok, setiap hari, setiap menit, dan setiap detik. Selain itu, menganalisis perilaku, kegiatan ekonomi, konsumsi sehari-hari. Bahkan, kegiatan-kegiatan kebudayaan dan hiburan dari orang-orang.

Partai Komunis Tiongkok juga telah memperluas jaringan pengawasannya di luar negeri, dengan membantu organisasi-organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menetapkan pusat-pusat data.

Pada 21 Oktober 2019, majalah Foreign Policy menerbitkan sebuah artikel berjudul Negara Pengawasan Tiongkok Memiliki Puluhan Juta Target Baru, yang menunjukkan bahwa Komunis Tiongkok bekerja sama dengan Kementerian Keamanan Masyarakat dan perusahaan-perusahaan teknologi. Tujuannya, untuk mengumpulkan informasi terperinci mengenai apa yang disebut “orang-orang penting”. Itu semua dalam sebuah basis data “Sistem Kendali Dinamik”. Selanjutnya, membagikannya secara tepat-waktu untuk mengambil tindakan keras terhadap orang-orang.

“Orang-orang penting” adalah target utama penindasan Partai Komunis Tiongkok, termasuk praktisi Falun Gong, pemohon petisi, pembela hak asasi manusia (termasuk pengacara hak asasi manusia), pembangkang, pengunjuk rasa, dan kelompok etnis minoritas seperti Uyghur.

Jumlah “orang-orang penting” yang diawasi, telah meningkat secara bermakna karena ruang lingkup penganiayaan Partai Komunis Tiongkok telah meluas, karena semakin banyak orang mulai mengkritik Partai Komunis Tiongkok.

Sayangnya, yang dilihat banyak orang di seluruh dunia adalah pertumbuhan Produk Domestik Bruto di Tiongkok, dan cukup banyak investor luar negeri yang masih tertarik pada keuntungan-keuntungan ekonomi di sana. (vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular