Zheng Gusheng

Selama berhari-hari, pemerintah militer Myanmar merebut kekuasaan melalui kudeta dan membantai para pengunjuk rasa. Warga Myanmar umumnya curiga bahwa peristiwa kekerasan dan pembantaian itu adalah hasil dari “revolusi ekspor” Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

Beberapa hari yang lalu, selongsong peluru gas air mata yang diduga diambil di lokasi massa berunjuk rasa protes di Myanmar diposting di internet. Deskripsi bahasa Mandarin yang terlihat jelas. Netizen Myanmar sekali lagi mengecam Partai Komunis Tiongkok, dan memintanya untuk “keluar dari Myanmar.”

Pada Selasa (2/3/2021), seorang publik Myanmar mengunggah tweet bahwa selama protes di Kotapraja Sanchaung, Yangon, mereka mengambil selongsong gas air mata yang ditembakkan oleh militer dan polisi. Teks penjelasan di atasnya tidak terbakar dan tidak meleleh sempurna, hingga bisa terlihat jelas bahwa karakter Mandarin yang tersisa dalam selongsong peluru tersebut.

Foto-foto yang diposting oleh netizen menunjukkan bahwa peluru tersebut ditandai dengan teks penjelasan seperti “… tanggal penggunaan”, “… waktu pembakaran * di atas 0 detik atau lebih”. Penjelasan lainnya,  dari kata “tanggal, waktu, pembakaran” dan karakter mandarin lainnya, ini dalam bahasa Mandarin Tiongkok yang disederhanakan.

Gambar itu menjadi viral di Internet, dan netizen Myanmar bertanya, “Apakah ini makanan laut yang dikirim oleh Tiongkok – Partai Komunis Tiongkok?”

Ada juga netizen yang menginginkan Partai Komunis Tiongkok untuk “keluar dari Myanmar.”

Media Myanmar sebelumnya melaporkan bahwa lima pesawat Tiongkok tiba di Yangon pada hari yang sama untuk menurunkan pasokan setelah kudeta pemerintah militer dan larangan penerbangan internasional. 

Setelah kejadian tersebut, Kedutaan Besar Tiongkok di Myanmar menyatakan bahwa pesawat tersebut hanya “mengangkut hasil laut”, yang memicu ejekan dari netizen Myanmar.

Sejak terjadinya kudeta militer di  Myanmar, ada orang-orang yang memprotes di depan kedutaan Partai Komunis Tiongkok di Myanmar, menuntut agar Partai Komunis Tiongkok berhenti mencampuri urusan dalam negeri Myanmar.

Rakyat Myanmar tidak pernah menyerah pada perjuangan demokrasi. Dalam beberapa hari terakhir, militer dan polisi menggunakan truk meriam air, gas air mata, peluru karet, dan peluru tajam untuk melawan pengunjuk rasa. 

Menurut laporan media, penindasan dengan kekerasan tersebut telah menyebabkan sedikitnya 20 kematian. Menurut statistik netizen Myanmar beberapa hari lalu, sedikitnya 36 orang telah tewas. Yang terluka bahkan lebih banyak, sulit dihitung.

Berdasarkan foto-foto yang tersebar online, ada pengunjuk rasa dengan luka besar di paha mereka. Ada yang setengah tengkorak mereka terlepas. Mereka diduga terluka oleh bom yang digunakan pada pembantaian 4 Juni 1989 di lapangan Tian Anmen oleh Partai Komunis Tiongkok.  

Sebelumnya, ada juga video yang diposting oleh netizen Myanmar yang menunjukkan bahwa tentara yang menembakkan senjata diduga menggunakan bahasa Mandarin untuk meneriakkan kata sandi: “Satu, dua, tiga, ayo berangkat!” 

Oleh karena itu, beberapa orang meragukan apakah polisi militer Partai Komunis Tiongkok berpartisipasi dalam penindasan.  

Partai Komunis Tiongkok dan pemerintah militer Myanmar selalu berhubungan erat, dan sebagian besar pasokan militer Myanmar dipasok oleh perusahaan Tiongkok. (lim)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular