NTD

Setelah militer Myanmar melancarkan kudeta pada 1 Februari 2021 untuk menggulingkan pemerintah yang dipilih secara demokratis dengan kepemimpinan Aung San Suu Kyi, hal itu memicu protes berskala besar.  Kemudian pihak militer menanggapinya dengan kekuatan senjata.

Pada 5 Maret 2021, ratusan orang insinyur di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, turun ke jalan menyerukan “bebaskan pemimpin kami” dan slogan lainnya. Pemimpin yang dimaksudkan tak lain adalah Aung San Suu Kyi yang telah dipenjara sejak hari pertama kudeta militer.

Staf medis mengatakan bahwa seorang pemuda berusia 26 tahun yang ikut berunjuk rasa, tewas akibat lehernya tertembak. Kejadian itu setelah dia membantu memasang penghalang jalan untuk memblokir pasukan keamanan.

Beberapa badan pemerintah di Myanmar melaporkan pada 5 Maret, bahwa aliran listrik di banyak daerah di negara itu terputus karena “kegagalan sistem pasokan listrik”. Sekitar pukul 13:30 waktu setempat, warga Yangon juga memposting di Twitter dan Facebook untuk mengumumkan berita pemadaman listrik secara besar-besaran. Baru pada pukul 4 sore Yangon Electricity Supply Corporation (PLN Yangon) mengumumkan pemulihan pasokan listrik.

Pada 5 Maret 2021, para pengunjuk rasa anti-kudeta militer di kota Yangon, Myanmar memblokir jalan-jalan dengan kantong-kantong semen yang diisi tanah, pasir bersiap untuk bentrok dengan militer dan polisi. (Stringer/Getty Images)

Di sisi lain, di Myanmar utara, beberapa warga sipil yang berusaha menghindari penindasan polisi militer melintasi perbatasan untuk memasuki India. Di antara mereka adalah tiga petugas polisi Myanmar yang tidak mau melaksanakan perintah yang dikeluarkan oleh pemerintah militer Myanmar untuk melintasi perbatasan. Mereka memilih untuk mencari suaka di provinsi Mizoram di timur laut India.

India dan Myanmar berbagi perbatasan lebih dari 1.600 kilometer. Menurut media ‘The Hindu’, setidaknya ada 20 orang warga Myanmar yang telah melintasi perbatasan sejak 3 Maret.

‘The Hindu’ melaporkan bahwa pejabat di Provinsi Mizoram menyatakan bahwa, penduduk setempat telah diberitahu, jika mereka melihat ada orang Myanmar yang melintasi perbatasan, mereka harus segera melaporkan ke pihak berwenang. Penduduk setempat mengatakan bahwa sejauh ini sekurangnya 50 orang telah tiba di distrik Champhai dan Serchhip di Provinsi Mizoram.

Selain itu, lebih dari 100 orang petugas polisi telah bergabung dengan “Civil Disobedience Movement” (Gerakan Pembangkangan Sipil) anti-militer.

Majalah Irrawaddy melaporkan bahwa, 7 orang polisi wanita dari provinsi Tanintharyi di Myanmar selatan juga bergabung dengan gerakan tersebut. Mereka mengumumkan, tidak akan kembali bekerja sampai pemerintahan terpilih kembali. Di provinsi paling utara Negara Bagian Kachin dan Tanintharyi, 17 orang petugas polisi juga berpartisipasi dalam gerakan tersebut. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular