oleh Li Zhaoxi 

Gara-gara kekurangan chip dan kesulitan ekonomi akibat penyebaran virus komunis Tiongkok atau COVID-19, produsen ponsel pintar Tiongkok terpaksa bergabung dengan OnePlus. Namun perusahaan saat ini mengurangi sejumlah besar karyawannya.

Bloomberg yang mengutip laporan dari sumber pada 16 September memberitakan bahwa Oppo yang pada tahun 2016 menjadi merek ponsel Tiongkok terlaris di pasaran. Dalam beberapa tahun terakhir, telah melakukan rekrutmen karyawan cukup banyak, sampai-sampai berani meluncurkan tantangan bersaing dengan ponsel Apple. Tetapi sekarang kondisinya mengenaskan hingga perlu mem-PHK sejumlah besar karyawannya. Karyawan yang di-PHK meliputi beberapa departemen penting, termasuk sekitar 20% karyawan di tim perangkat lunak dan peralatan utama.

Oppo yang berbasis di Kota Shenzhen, Tiongkok telah membentuk salah satu merek smartphone terbesar Tiongkok dengan mengadakan pengecer swasta di daerah pedesaan dan melengkapi perangkat mereka dengan baterai dan memori yang lebih besar. Dalam menanggapi persaingan ketat dari Apple dan perusahaan lain, Oppo melakukan banyak investasi dan secara aktif menjelajahi pasar di India, Eropa dan Asia Tenggara, tetapi hasilnya tidak mencapai yang diharapkan.

Upaya Oppo untuk memasuki wilayah yang berdekatan juga tidak berhasil. Bryan Ma, seorang analis di lembaga analisis pasar ‘International Data Corporation’ (IDC) memperkirakan bahwa pangsa pasar jam tangan pintar global Oppo masih akan kurang dari 1% dalam beberapa tahun mendatang, dan pengiriman headset hanya akan mencapai 1,7%.

Tarun Pathak, kepala penelitian pasar di Counterpoint Research mengatakan : “Perusahaan bergerak di beberapa bidang, selain ingin memasuki pasar kelas atas, membuat taruhan regional yang cukup besar, ingin juga beralih ke peralatan yang dapat dipakai. jadi PHK mungkin demi menghemat dana yang juga berkaitan dengan mengubah strategi”.

Pada puncaknya, Oppo memberikan bonus besar kepada pengecer untuk merebut pangsa pasar, dan memanfaatkan jasa Arsitek Zaha Hadid dari Inggris untuk merancang gedung kantor pusat berlantai 20 yang dilengkapi dengan aula vertikal dan galeri seni.

Menurut data IDC, pengiriman smartphone global Oppo melonjak 37% pada kuartal kedua tahun ini, tetapi ini tidak cukup untuk membuatnya tetap berada di peringkat keempat ponsel global.

Dua hari setelah Apple meluncurkan iPhone 13, ponsel ini telah menunjukkan potensi penjualan yang kuat di daratan Tiongkok. Menurut laporan South China Morning Post pada  17 September, bahwa Apple telah menerima lebih dari 2 juta pesanan iPhone 13 dari pengguna di Tiongkok. Pesanan tersebut ditautkan ke toko resmi Apple melalui platform e-commerce JD.com.

Ethan Qi, seorang analis senior di Counterpoint Research menunjukkan bahwa iPhone 13 saat ini tidak memiliki saingan di pasar smartphone. Harga awal ponsel ini di pasaran Tiongkok adalah RMB. 5.000,- (setara USD. 776), menjadikannya sebagai smartphone terkemuka di dunia saat ini.

Pada awal tahun ini, Huawei meluncurkan smartphone Android P50 dan P50 Pro. Namun, karena bukan 5G, jadi ponsel ini kurang diminati. (sin)

Share

Video Popular